Urgensi Akhlaq Dalam Al Qur’an

Urgensi Akhlaq Dalam Al Qur’an

  • Bagikan

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah). Tetapi mereka melakukan kefasikan (kedurhakaan) dalam negeri itu, maka sepantasnyalah berlaku terhadapnya keputusan Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya (QS. 17: 16)

Salah satu aspek penting yang diperhatikan Islam adalah memperbaiki moralitas manusia, yang merupakan pondasi utama membangun masyarakat secara berkelanjutan,dan mempertahankan eksistensi suatu negeri. Ayat di atas bukan saja ditujukan kepada orang yang sudah berkehidupan mapan dari semua aspek, baik ilmu, pemikiran, kecerdasan, maupun kecekatan dan perekonomian. Tetapi menyeluruh kepada seluruh masyarakat agar senantiasa tetap berakhlak, mematuhi Allah dan Rasul, tidak melanggar aturan yang telah diatur oleh Allah dan Rasul.

Disebutkan dalam ayat di atas hanya tertuju kepada orang yang bermewah-mewah, dalam arti kata mereka adalah orang-orang yang  yang memliki harta melimpah atau berekonomi menengah ke atas. Karena mereka ini berpotensi untuk tidak mensyukuri nikmat Allah. Mereka bisa berbuat apa saja dengan uangnya, bahkan akan mudah dihinggapi arogansi dan pada gilirannya mereka terjerumus kepada kefasikan.

Sedang mereka yang susah payah mendapatkan kemewahan di dunia ini tidak terpikir sama sekali untuk bermewah-mewah. Mendapatkan makan saja susah apalagi berfoya-foya dalam kesusahan. Senatiasa menjadi angan-angan mereka adalah bagaimana bisa mencontoh gaya hidup mewah meskipun harus dalam angan-angan.

Sebab itu secara manthuq (eksplisit) Allah hanya mengingatkan orang yang mapan, para penguasa, pengusaha, siapa saja yang diberi Allah nikmat berupa harta dan tahta agar senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Karena kesuyukuran mereka akan menambah nikmat yang melimpah ruah sebagaimana janji Allah dalam surah Ibrahim ayat 7.

Sebaliknya jika mereka kufur dan fasik serta berpoya poya dengan nikamt yang diberikan, dapat mengundang kehancuran suatu negeri sebagaimana kehancuran kaum terdahulu. Akhlak merupakan fitrah manusia.

Masyarakat jahiliyah yang terjerembab ke dalam jurang keburukan di seluruh dimensi kehidupannya, masih berpegang teguh kepada nilai moral utama, seperti kesetiakawanan, keberanian (syajaah) dan sebagainya. Tetapi mereka tidak memiliki tolok ukur Akhlak al karimah (moral yang mulia), dan tidak memiliki pemahaman yang tepat tentang baik dan buruk, sehingga tindakan kezaliman, penganiayaan, dan perbuatan amoral lainnya merupakan pemandangan biasa terjadi di tengah mereka.

Dengan kata lain konsep baik dan buruk yang mereka miliki, kosong dan hampa dari nilai-nilai Ilahi, dan rahmat Tuhan. Pada gilirannya pemahaman tentang baik dan buruk dimiliki oleh sekelompok orang tertentu dan tidak punya standar ideal. Hal itu selalu diungkapkan  penyair jahiliah di dalam untaian puisinya: “Bila air itu jernih kami yang meminumnya dan bila air itu keruh, orang lain yang meminumnya.”

Kondisi yang tidak menentu ini berjalan dalam kurun waktu cukup panjang. Kehidupan masyarakat tidak ubahnya seperti animal society (masyarakat hewan) di hutan belantara. Siapa kuat dia menjadi pemenang. Hal ini diakui Jakfar bin Abi Thalib ketika berhadapan dengan Raja Habsyah di saat meminta kepada sang raja untuk melepas dua orang tawanan Islam yang berhijrah ke wilayahnya:

“Wahai raja dahulu kami adalah orang jahiliyah yang menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan kekejian, memutuskan silaturrahim, berbuat jahat pada tetangga. Sementara kelompok kuat di antara kami memangsa kaum yang lemah, kami melakukan semua itu (cukup lama) sampai Allah mengutus kepada kami seorang utusan-Nya berasal dari golongan kami. Dalam hal ini kami mengetahui silsilah keturunannya, kejujurannya, sikap amanahnya, juga kesuciannya. Beliau semata-mata mengajak kami (kembali) kepadanya, agar kami mengesakan Allah dan seterusnya (Lihat Pustaka Pengetahuan Alquran 3 : 44).

Karena perbuatan keji, dan kehidupan amoral sudah tersistim, maka masyarakat jahiliyah ketika itu tidak merasa perbuatan zina, kumpul kebo, membunuh, makan riba, memakan bangkai, dan seterusnya, sebagai perbuatan tercela dan keji. Malah beranggapan bahwa perilaku itu keniscayaan dan tradisi yang sudah lumrah dilakukan.

Contoh klasik yang dinukilkan di dalam kitab sejarah adalah Nikah Istibdha’ (nikah sebatas hubungan intim) di mana seorang suami tidak segan menyuruh istrinya di saat suci dari menstruasi, untuk berhubungan intim dengan laki-laki lain. Setelah itu sang suami membiarkan istrinya sampai jelas hasil atau tidak dan pada saat tertentu sang suami kembali menggauli istrinya, semua itu dilakukan atas dasar suka sama suka dan ingin mencari keturunan yang baik bibitnya.

Sudah menjadi sunnatullah dan merupakan jalan para Nabi dan Rasul untuk melakukan perubahan dan pembaharuan bertahap. Metode bertahap ini diikuti oleh para ulama dan reformis setelahnya. Langkah awal yang dilakukan Rasul SAW adalah membersihkan hati dan pola pikir mereka dari syirik (menyekutukan Allah SWT), dan meluruskan (tidak sampai mematahkan) hati dan pikiran mereka dari hal-hal yang bengkok dan penyelewengan.

Dengan kata lain mengalihkan hati dan pikiran mereka dari mengagungkan makhluk, kepada Khaliq dan meletakkan asumsi di pikiran mereka menuju tempat yang tinggi, adalah salah satu tahapan yang dilaksanakan oleh Rasul SAW dan seyogianya diikuti oleh para reformis.

Pembersihan yang tidak diikuti pembinaan dan internalisasi akhlak al karimah terkesan sisa-sia, dan pembinaan membutuhkan kesabaran. Karena tidak mungkin membangun moralitas yang sudah runtuh berpuluh tahun dalam waktu sehari semalam, atau selama khattib bicara di mimbar.

Target yang dicapai dalam pembinaan ini, seperti yang digambarkan oleh Rasul SAW: Ibaratkan seorang laki-laki yang berjalan kaki dari San’a menuju Hadra Maut (nama kota di negeri Yaman) tidak ada merasa takut sedikitpun kecuali kepada Allah (al Hadis).

Pesan yang ditangkap dari hadis shahih tersebut, bahwa pembinaan yang dilakukan Rasul SAW. adalah pembinaan yang tidak tergesa-gesa. Ibaratkan seorang pejalan kaki yang mengayunkan tangannya di padang pasir, diterjang oleh badai pasir, binatang buas, kadang terperosok ke dalam lembah gurun sahara. Namun semua itu tidak menggoyahkan sedikitpun karena asumsi untuk mencapai tempat yang tinggi dan martabat yang terhormat di sisi Allah SWT.

Akhir dari sebuah perjalanan reformasi adalah pelestarian dan kesinambungan. Dalam konteks ini adalah melestarikan akidah dan akhlak al karimah, atau moralitas Islam keutuhan. Kelestarian moralitas Islam tidak akan terganggu selama mempunyai tolok ukur kemuliaan, dan wujud dari kelestarian itu adalah Al Qur’an, yang merupakan akhlak Nabi Muhammad SAW.

Sebagaimana jawaban dari pertanyaan Sahabat Nabi kepada Aisysah ra adalah akhlak Nabi SAW itu Al Qur’an. Wallahua’lambishshawab.Waspada

Sekretaris Dewan Fatwa Alwashliyah Sumatera Utara

  • Bagikan