Waspada
Waspada » Untukmu Yang Bersedih
Al-bayan Headlines

Untukmu Yang Bersedih

Oleh Dedi Sahputra

Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Mahamendengar, Mahamelihat (QS. Al-Isra’: 1)

Sejak diturunkan lebih 14 abad lalu, orang tidak berhenti mengkaji hikmah diturunkannya ayat ini. Banyak kajian yang telah dilakukan, baik dari sudut pandang teologis, sosiologis sampai teknologi. Bagi para pecinta ilmu, rumusan kajian tersebut menjadi air yang menyegarkan, dan vitamin yang menyehatkan. Ribuan buku telah diterbitkan, dan jutaan tulisan sudah dibuat.

Semuanya menunjukkan betapa Al Qur’an itu bukanlah karangan manusia, dan pasti manusia tidak akan sanggup untuk membuat yang serupa Al Qur’an. Para mufassir menyatakan bahwa ketika Allah mengawali suatu ayat dengan kata subhanallah (Mahasuci Allah) maka akan ada peristiwa dahsyat yang mengikutinya.

Saat itu Rasulullah SAW mengalami duka cita mendalam, karena ditinggal istri tercinta yakni Khadijah. Beliau SAW juga ditinggal sang paman yakni Abu Thalib yang selalu melindungi aktivitas Beliau SAW.

Perginya kedua orang terkasih dalam hidup Rasulullah SAW tersebut ketika orang lain mencemooh. Kemudian orang kafir Quraisy semakin merasa bebas mengintimidasi Nabi SAW. Di tengah kondisi bersedih seperti inilah Allah SWT menghibur Nabi SAW dengan meng-Isra’Mi’raj-kan Beliau SAW.

Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, umat Islam adalah umat yang telah berikrar mengikuti sunnah Beliau SAW. Allah SWT telah mengangkat Beliau SAW ke tempat yang paling tinggi, justru di saat Beliau SAW sedang bersedih mendalam.

Untukmu yang sedang bersedih, bersabarlah, istiqamah-lah dalam bertawakal kepada Allah SWT meski apapun yang terjadi. Hal ini memang bukanlah suatu hal yang ringan untuk dilakukan, namun justru di situlah ujiannya bagi orang yang beriman.

Senantiasa bersabar dan bertawakal kepada Allah SWT adalah komitmen setiap Muslim yang akan diuji kadarnya. Sejauhmana seseorang komit untuk menjadi Abdullah (hamba Allah) dengan melakukan segala sesuatu ataupun bersikap karena Allah semata. Hamba Allah adalah orang yang dengan sadar merelakan hidupnya disitir oleh Allah SWT semata.

Hamba Allah adalah orang yang menolak untuk disitir oleh segala selain Allah—merujuk Prof Didin Hafidhuddin, termasuk menolak dikendalikan oleh tujuan harta (abdul mall), hambat jabatan (abdul kursi), hamba syahwat (abdul butun), dan sebagainya. Kepada engkau yang sedang bersedih, maka bersabar dan bertawakallah senantiasa, dan bahagialah dalam kesedihanmu. Semoga Allah SWT mengangkat derajatmu ke tempat yang tinggi. Wallahu’alam bishawab.   WASPADA

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2