Waspada
Waspada » UINSU Merdeka; Mengikat Paradigma Wahdatul ‘Ulum
Al-bayan Headlines

UINSU Merdeka; Mengikat Paradigma Wahdatul ‘Ulum

Dr HM. Syukri Albani Nasution, MA

Imam Ghazali memberi penegasan Wahdatul Ulum pada kesatuan ilmu baik secara ontologi, epistimologi dan aksiologi. Secara ontologik sifat dasar ilmu adalah terpuji, sebab ilmu tidak akan pernah terpisah dengan pemilik-Nya

Salah satu kecirian yang ditegaskan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dalam system pendidikan tinggi adalah mewujudkan Kampus Merdeka. Dalam pendekatan yang sederhana, kampus merdeka bisa diterjemahkan dengan memerdekakan system pembelajaran dan output.

Mahasiswa sejak dini harus memahami tujuan pembelajarannya, apakah ingin menjadi akademisi, praktisi, atau pada rranah ilmu pasti dihadapkan pada peneliti atau penemu dalam bidangnya. Dari sinilah kampus melahirkan alumni-alumni yang berkarakter mandiri, tidak “kesusahan” selepas menjadi sarjana.

Tentu tidak dikotomik, Universitas Islam Sumatera Utara (UINSU) yang saat ini telah berkembang pesat, saat ini dinakhodai seorang Guru Besar yang melahirkan paradigma Wahdatul Ulum. Awalnya seperti masuk ke alam dongeng, ingin mewujudkan UINSU yang mampu berkontribusi langsung mendorong kemajuan peradaban umat dan bangsa Indonesia.

Tapi konsep tersebut harus membumi- “dibumikan” sebagai cara beraktivitas semua civitas akademik di UINSU. Paradigm ini menjadi gagasan besar yang harus muncul sebaga ciri identic UINSU dalam membangun Agama dan Bangsa.

Pertemuan antara paradigma Wahdatul Ulum dan Kampus Merdeka menjadi tantangan besar semua civitas akademika UINSU. Tidak hanya dosen, mahasiswa dan semua SDM di UINSU harus mampu menerjemahkan Wahdatul Ulum dalam pemahaman dan kehidupan.

Wahdatul Ulum

Jika Imam Ghazali memberi penegasan Wahdatul Ulum pada kesatuan ilmu baik secara ontologi, epistimologi dan aksiologi. Secara ontologik sifat dasar ilmu adalah terpuji, sebab ilmu tidak akan pernah terpisah dengan pemilik-Nya.

Salah satu sifat yang disandarkan kepada Allah Swt. Semua yang belajar dan berharap mendapatkan ilmu harus memiliki tujuan ilahiyah, mengabdi kepada Allah dengan total, tidak hanya menyerap wilayah ritualistic. Tapi semua elemen keilmuan, kepintaran dan kehidupan harus ditujukan untuk mengabdi kepada Allah SWT (esensi taat yang melahirkan sifat paripurna, tidak jahat, menjadi teladan dalam setiap kehidupan).

Secara epistimologik, ilmu menemukan intregrasi-nya. Tidak ada dikotomik. Seorang pembelajar harus mampu menemukan hubungan erat dan terukur tentang Ilmu Botani dengan Keesaan Allah. Dan energi aksiologik-nya akan memberi keterpujian sikap. Atas keteladanan manusia kepada sesamanya, bahkan keteladanan manusia kepada makhluk lainnya. Kesannya sangat idealis, tapi cita-cita ini harus menjadi energi dalam sistem dan tujuan semua pembelajaran.

Paradigm Wahdatul Ulum yang digagas Prof Syahrin akan menjadi alat dan senjata ampuh memecahkan masalah dikotomi dalam khazanah keilmuan. Berangkat dari masalah, lalu menemukan dan mengasah ketajaman analisis Quran dan Hadis-nya, lalu melakukan komunikasi kelimuan dalam pendekatan Islamic Studies dan Islamic Science, maka secara integratif akan menghasilkan keputusan dan temuan.

Maka semua jenis ilmu apapun yang dipelajari di UINSU harus sampai pada nilai yang satu. Kepada pemilik ilmu, Allah Tuhan yang Kuasa. Secara epistimologik semua system ilmu bekerja, baik ilmu alat maupun ilmu terapan dan ilmu asas, secara integratif dan kolaboratif akan memunculkan paradigma yang mengerucut pada kesadaran yang tinggi tentang hakikat manusia yang harus berfungsi pada kehidupan dunia ini.

Secara aksiologik akan melahirkan generasi Ulul Ilmi. Lahirlah mahasiswa-alumni yang memiliki ilmu yang dalam dan kecerdasan yang tinggi, mampu melakukan pendekatan integratif-transdisipliner dalam setiap kajian dan diskusi apapun, memiliki karakter pengabdi- tujuan dasar setiap pekerjaan adalah ridha Allah, aspek totalitas dalam setiap pekerjaan akan memuncak, sebab harapan pada keridhoan Allah terlalu diminan dibanding hasrat konsumtivitas.

Generasi Ulul Ilmi itu juga berwatak prophetic. Menjadi penerus para nabi dan ulama, ilmunya untuk memberi pencerdasan tidak hanya kecerdasan kognitif tapi menyentuk pada kecerdasan emosional dan spiritual.

Sikap yang ditunjukkan mahasiswa dan alumni UINSU adalah sikap washatiyah dalam makna yang sangat objektif. Bukan penakut, bukan pemihak, tapi mampu memberi ruang komparasi, menimbang mafsadat dan mudharat tanpa meninggalkan argumentasi asasiyah yang telah ditetapkan Allah dalam Alquran dan ditegaskan Rasul dalam Sunnah.

Memiliki Akhlak yang mulia. Keteladan, kesejatian sikap yang telah disirami keteladan dalam ilmu dan pembelajaran. Alumni UINSU sebagai generasi Ulul Ilmi juga akan memiliki wawasan kebangsaan. Tidak seremonialistik dan simbolik saja, tapi rasa berbangsa dan bertanah air Indonesia tidak akan terlepas ikatannya dengan kepatuhan kepada Islam.

Bervisi Hadhari dalam makna memiliki keseimbangan kehidupan material dengan akhlak dan spiritual, dan tentunya mahasiswa dan alumni UINSU harus memiliki penampilan yang menyenangkan, tidak berhenti pada stu ciri yang khusus dan melahirkan eksklusivisme, tapi penampilan yang sejuk yang tidak bertentangan dengan ajaran syar’i.

Kampus Merdeka & Wahdatul Úlum

Untuk mempertemukan dua energi ini, UINSU dihadapkan pada cita-cita pengembangan kampus. Secara realistis UINSU tidak hanya hadir untuk melahirkan alumni yang mapan secara akademik, tapi juga harus melahirkan generasi pemimpin, pekerja, actor yang mampu menerjemahkan wahdatul ulum sampai ketingkat peradaban-kehidupan masyarakat.

Tidak perlu repot-repot membebnkan kepintaran dan keberhasilan akademik hanya di ruang kelas. Justru diskusi kelas menjadi instrument melakukan telaah mendalam, dan bukan tidak mungkin akan lahir hikmah dan ke-ladunni-an dalam proses pencarian itu, masyarakat tidak perlu menunggu waktu 4 sampai 5 tahun untuk merasakan kontribusi para alumni di kampong dan perantauannya.

Sistem pembelajaran- bahkan belajar filsafat sekalipun- harus beradaptasi dengan realitas manusia dan alam. Sehingga kematangan keilmuan disaksikan dan dinilai oleh masyarakat-manusia-dan alam semesta.

Merdeka Belajar ala UINSU

Untuk merealisasikan paradigm Wahdatul ‘Ulum dalam konsep merdeka belajar maka salah satu ruangnya adalah Penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat tidak boleh dipandang sebagai aktivitas semu-simbolik-dan seremonialistik dalam system pembelajaran.

Justru harus ada penilaian terbalik. Bahwa keabsahan nilai A dalam setiap mata kuliah akan dihakimi oleh kematangan dalam melakukan telaah kritis setiap masalah dalam bentuk penelitian, dan kematangan bermasyarakat yang kontributif, fungsional sampai pada akar masalah masyarakat tersebut.

Di sinilah letak mahasiswa dan alumni sebagai agent of change. Kultur yang dibawa lama oleh masyarakat sering menjadi teori kebenaran yang bisa mengalahkan hukum asasi Tuhan. Maka sebagai mahasiswa dan alumni yang memiliki karakter Ulul Ilmi harus mampu menasakh semua kejadian menjadi kebenaran.

Sebab tanggung jawab besar berada di pundak para ilmuan Islam, bukan hanya mampu menceritakan mana yang benar dan salah, tapi harus mampu menyadarkan masyarakat bahwa kesalahan yang disengaja, bukan hanya ber efek pada hukum publik, tapi akan lebih menyakitkan bila berakibat pada hukum dan kemarahan Tuhan.

UINSU akan melahirkan alumni alumni yang siap menjadi peneliti handal yang berkontribusi membaguskan agama dan bangsa, juga tiada hendi menjadi abdi masyarakat. Sebab setiap detik waktu yang dipersembahkan untuk masyarakat, akan menjadi nilai membentuk kesejatian dirinya. Dan itulah salah satu yang dikehendaki oleh paradigm Wahdatul Ulum.

Prof Syahrin sebagai Rektor UINSU dengan seluruh civitas akademik akan menjadi lokomotif untuk mewujudkan paradigmaWahdatul Ulum dan mewujudkan Merdeka belajar yang dipesankan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayan Indonesia. Secara integratif akan bekerja beriringan mewujudkan semua cita-cita.

Semua mahasiswa akan merdeka dalam belajar, dan belajar dengan kemerdekaannya. Kelas hanya sebagai miniatur keilmuan, karenapenerapan di masyarakat akan menjadi pengasahnya. Selamat bekerja buat seluruh civitas akademika UINSU. Wallahu a’lam.

Dosen UINSU

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2