Turunnya al-Qur’an

  • Bagikan

Oleh Islahuddin Panggabean

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) (QS. Al-Baqarah: 185)

Ramadhan dikenal sebagai syahrul quran karena ia bulan diturunkannya al-Qur’an. Mengenai turunnya Quran, terdapat perbedaan pendapat ulama. Namun pendapat paling kuat dan dipegang oleh banyak ulama ialah bahwa al-Qur’an diturunkan sekaligus ke Langit Dunia (darul izzzah) pada Lailatul Qadr dan kemudian diturunkan berangsur-angsur sepanjang kehidupan Rasulullah SAW.

Mengenai waktu turunnya pada bulan Ramadhan juga terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Ada yang mengatakan pada malam 7 Ramadhan, ada yang mengatakan malam 17 Ramadhan, ada pula 24 bahkan 21 Ramadhan.

Salah satu ulama yang berpendapat pada malam 21 ialah al-Mubarakfuri setelah beliau melakukan penelitian berdasarkan usia diutusnya Muhammad SAW sebagai Nabi yakni 40 tahun 6 bulan 12 hari, bertepatan dengan 10 Agustus 660 M hari Senin.

Adapun di Indonesia mengapa ditradisikan memperingati Nuzulul Quran pada 17 Ramadhan juga tak lepas dari pendapat ulama. Yakni perkataan Ibnu Katsir dalam Bidayah wa Nihayah, Al-Waqidi yang meriwayatkan dari Abu Ja’far al-Baqir yang mengatakan bahwa,”Wahyu yang pertama kali turun pada Rasul pada hari Senin 17 Ramadhan dan dikatakan juga 24 Ramadhan.”

Setelah al-Qur’an turun dari Lauh Mahfudz ke Langit dunia sekaligus pada bulan Ramadhan, barulah secara berangsur-angsur al-Qur’an turun mengikuti perjalanan Rasulullah. Menarik diperhatikan kalau Nabi Musa dahulu meninggalkan umatnya 40 hari mendaki gunung Sinai untuk menerima 10 perintah Allah dan begitu kembali ke umatnya Nabi Musa mendapati mereka begitu mudah terkecoh oleh Samiri.

Berbeda dengan Nabi Muhammad. Proses turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad adalah di saat Nabi Muhammad tengah berada di tengah-tengah umatnya. Pernah Nabi menerima langsung wahyu saat mi’raj ke langit tapi itupun hanya semalam saja, tidak perlu sampai 40 hari meninggalkan umatnya.

Agaknya Allah ingin wahyuNya berinteraksi akrab dengan situasi dan kondisi yang dialami Nabi dan sahabatnya. Sehingga Al-Qur’an turun bukan sekaligus dalam bentuk lempengan batu seperti 10 perintah yang Nabi Musa terima, tapi turun berangsur-angsur selama 23 tahun. Pada kurun waktu itu terus terjadi interaksi antara Allah, Nabi Muhammad dan Umat.

Setidaknya ada beberapa hikmah dari turunnya al-Qur’an secara berangsur-angsur. Di antaranya: Pertama, untuk menguatkan hati. Firman Allah: “Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al-Qur’anitu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?” Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya” (QS. Al-Furqan, ayat 32-33).

Para ulama menjelaskan bahwa hikmah turunnya al-Qur’an secara berangsur ialah untuk meneguhkan hati Nabi SAW. Sebab dengan turunnya wahyu secara bertahap menurut peristiwa, kondisi, dan situasi yang mengiringinya, tentu hal itu lebih sangat kuat menancap dan sangat terkesan di hati sang penerima wahyu tersebut.

Dengan turunnya al-Qur’an secara berangsur-angsur, Malaikat Jibril as pun sering menemui Rasulullah SAW. Pertemuan demi pertemuan itu dapat  membangkitkan motivasi baru dalam menyampaikan pesan-pesan Ilahi. Pertemuan antara Malaikat Jibril dengan Rasulullah SAW juga menghibur hati Rasulullah Saw untuk terus bersabar dalam menghadapi rintangan dakwah.

Kedua, Memberi kemudahan bagi manusia untuk menghapal, memahami serta mengamalkannya.  Al-Qur’an dibacakan kepada Nabi secara bertahap. Berdasarkan firman Allah ’Azza wa Jalla dalam surat Al-Isra`, ayat 106: ”Dan Al-Qur’anitu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.”

Memang, dengan turunnya Qur’an secara berangsur-angsur, sangatlah mudah bagi manusia untuk menghafal serta memahami maknanya. Lebih-lebih bagi orang-orang yang buta huruf seperti orang-orang Arab pada saat itu; Qur’an turun secara berangsur-angsur tentu sangat menolong mereka dalam menghafal serta memahami ayat-ayatnya.

Memang, ayat-ayat Qur’an begitu turun oleh para sahabat langsung dihafalkan dengan baik, dipahami maknanya, lantas dipraktekkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Itulah sebabnya Umar bin Khattab pernah berkata, “Pelajarilah Al-Qur’an lima ayat-lima ayat. Karena Jibril biasa turun membawa Qur’an kepada Nabi SAW lima ayat-lima ayat” (HR. Baihaqi)

Ketiga, Memberikan semangat untuk menerima dan melaksanakan apa yang telah diturunkan di dalamnya. Turunnya al-Qur’an ialah hal yang dirindu Nabi SAW dan umat Islam dahulu dan mereka sangat menanti-nanti turunnya ayat, terlebih lagi ketika mereka sangat membutuhkannya. Seperti dalam ayat-ayat ’ifk (berita dusta yang disebarkan sebagian orang tentang Aisyah ra).

Keempat, penetapan syariat secara bertahap sampai kepada tingkatan yang sempurna. Seperti yang terdapat dalam ayat khamr, yang mana manusia pada masa itu hidup dengan khamr dan terbiasa dengan hal tersebut, sehingga sulit jika mereka diperintahkan secara spontan meninggalkannya secara total.

Hal ini tergambar dari apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Aisyah yang berkata: “Ayat pertama yang diturunkan menjelaskan tentang Surga dan Neraka. Lalu ketika hati orang-orang semakin meyakini kebenaran Islam, maka turunlah ayat-ayat tentang halal dan haram”.

Andaikan sejak semula yang turun adalah ayat seperti ‘Janganlah meminum khamar’. Maka orang-orang akan berkata, ‘Kami tidak akan meninggalkan kebiasaan meminum khamr selamanya’. Andaikan yang pertama turun adalah ayat ‘jangan berzina’ maka orang-orang akan berkata, ‘Kami tidak akan meninggalkan perbuatan zina selamanya.’

Al-Qur’an ialah media interaksi hamba kepada Allah dengan hamba-Nya. Turunnya al-Qur’an secara berangsur-angsur menjadi bukti betapa akrabnya hubungan antara Allah dan ummat Islam dahulu. Hal itu seyogyanya menumbuhkan pada kita semangat mendekati al-Qur’an. Pelan, perlahan dan berproses secara berkesinambungan dalam bercengkarama dengan kitab pedoman hidup kita ini. Wallahu’alam. (Pengurus Mathla’ul Anwar Sumatera Utara)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.