Tidak Menaati Nabi SAW Bukan Ahlul Sunnah Waljamaah? (Menanggapi Tulisan HM. Nasir, Lc, MA)

Tidak Menaati Nabi SAW Bukan Ahlul Sunnah Waljamaah? (Menanggapi Tulisan HM. Nasir, Lc, MA)

  • Bagikan

Hai orang orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya dan pemimpin di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat maka kembalilah kepada Allah dan Rasul-Nya, Jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhirat (QS. An-Nisaa’: 59)

“Orang-orang yang masuk ke surga adalah Ahli Sunnah Waljamaah, yaitu orang orang yang taat pada Allah SWT dan Rasul-Nya”. Demikian HM. Nasir Lc, MA menulis pada Harian Waspada, rubrik Mimbar Jumat, kolom 6, baris 23.

Saya tanggapi: Itu benar, sesuai QS. An-Nisaa’: 59 di awal tulisan. Pertanyaannya: Orang-orang yang tidak taat pada Allah dan Rasul-Nya, misalnya Allah SWT memerintahkan umat melalui Rasul-Nya untuk bershalawat kepada Muhammad SAW (QS. Al Ahzab: 56), yaitu sesuai HR.Muslim maka Nabi SAW mengajarkan pada Sahabat bershalawat kepada Nabi SAW dengan bunyi ucapan:  Allahumma solli ala Muhammad…

Tetapi ada orang mengubah bunyi shalawat dengan: Allahumma solli ala sayyidina Muhammad… Apakah orang ini taat kepada Allah dan Rasul-Nya? Dan apakah orang ini masih masuk golongan Ahli Sunnah Waljamaah, sesuai definisi Ahli Sunnah Waljamaah di atas?

Apakah persoalan meyakini pahala dapat ditransfer/dihadiahkan kepada orang mati bukan pelanggaran/tidak taat QS. An Najm: 39? Misalnya minta tolong kepada wali yang sudah wafat, atau meyakini malam ke 40, ke 100, ke 1000 merupakan malam yang berkat untuk membaca tahlilan, doa dan Yasin. Pahalanya dihadiahkan pada yang sudah wafat.

Atau i’tikaf bukan di masjid tapi di tempat tertentu, atau minta tolong kepada Allah SWT dengan pakai perantara (mediator) atau berdoa menggunakan perantara orang yang suci. Apakah amalan itu bukan masalah Akidah/Tauhid yang tidak dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya (Al-Qur’an dan Sunnah)? Apakah orang-orang ini masih tergolong Ahli Sunnah Waljamaah?

Tetapi kemudian HM. Nasir Lc, MA menyatakan beda Ahli Sunnah Waljamaah dengan yang bukan Ahli Sunnah Waljamaah adalah beda dalam hal Akidah bukan masalah Fikih (Kolom 4 Baris 24). Dan yang penting adalah perbedaan dalam masalah Akidah bukan dalam Fikih. Fikih dianggap masalah tidak penting/sepele/bisa dimaafkan.

Padahal membedakan golongan Syiah dengan Ahli Sunnah Waljamaah kenyataan sesuai contoh HM. Nasir Lc, MA termasuk masalah Fikih. Misalnya shalat jama’ dibolehkan tanpa alasan apapun. Juga golongan Syiah mengucapkan “amin” di akhir surat Al-Fatihah dianggap tidak sah atau batal shalatnya.

Kemudian shalat Dhuha tidak dibenarkan oleh golongan Syiah. Kalau begitu apakah semua hal ini bukan merupakan masalah Fikih? Berarti dari kenyataan itu perbedaan antara Ahli Sunnah Waljamaah dengan bukan Ahli Sunnah Waljamaah, juga perbedaan dalam Fikih!?

Kemudian dipertanyakan dimana ada tuduhan faham yang ada di Saudi Arabia disebut faham Wahabi dituduh mereka itu bukan termasuk golongan Ahli Sunnah Waljamaah? Padahal faham Wahabi ini juga ada di antara umat Islam di Indonesia. Maka apakah golongan yang di Indonesia itu bukan Ahli Sunnah Waljamaah?

Sunnah Bukan Hanya Masalah Akidah

Kemudian HM. Nasir Lc, MA menyatakan: Ahli Sunnah Waljamaah itu ialah kelompok orang yang menganut atau mengamalkan ajaran atau petunjuk Nabi SAW, yang berlandaskan Al Qur’an dan Sunnah Nabi SAW (Kolom 1, Baris 10-15).

Saya tanggapi: Sunnah Nabi SAW apabila dilanggar ancamannya: syirik, bid’ah dan haram. Bila beda Ahli Sunnah Waljamaah dengan yang bukan Ahli Sunnah Waljamaah hanya dalam masalah Akidah saja, maka apakah perbedaan dalam masalah bid’ah dan haram, tidak menjadi faktor pembeda Ahli Sunnah Waljamaah dengan yang bukan Ahli Sunnah Waljamaah?

Misalnya ibadah yang diubah atau ditambah tambah. Misalnya “shalawat” yang asli dari Nabi SAW tanpa “Sayyidina”, kemudian ditambah “Sayyidina”. Apakah ini bukan merupakan ancaman bid’ah, sesat, neraka? Apakah mengubah, mengotak-katik ibadah/akidah tidak menjadi bid’ah?

Apakah ancamannya tidak menjadi syirik karena tidak taat pada perintah Allah dan Rasul-Nya? Rujukannya QS. An Nisaa’: 59 dimana Allah SWT memerintahkan harus taat pada Allah SWT dan Rasul-Nya tapi ternyata tidak ditaati.

Rujukan lain QS. An Nisaa’: 80: Barang siapa yang menaati Rasul itu sesungguhnya telah menaati Allah. Kemudian QS. Al Hasyar: 7: Dan apa yang dibenarkan Rasul kepadamu maka terimalah itu. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Kemudian hadis “Barang siapa mengerjakan yang bukan petunjukku, maka amalan itu tertolak” (HR. Muslim).

Berarti dari nash-nash di atas menyatakan semua amalan yang terkena hukum tidak taat pada Allah SWT dan Rasul-Nya, berakibat merusak Tauhid, menjadi Syirik? Apakah menganggap hukum bid’ah menjadi sesat, neraka itu sepele?

Apakah menganggap bid’ah itu 2 macam, ada yang hasanah menunjukkan apakah Anda adalah pewaris Nabi SAW atau pewaris mazhab? Apakah mereka ini masih Ahli Sunnah Waljamaah? Atau ahli pengikut mazhab?

Untuk dimaklumi bahwa masalah Akidah dan ibadah yang diamalkan adalah wajib mana yang disunnahkan Nabi SAW. Mengamalkan yang bukan petunjuk/sunnah Nabi SAW terjebak syirik atau bid’ah (sesat) atau haram.

Adalah tidak ada ijitihad untuk Akidah dan ibadah. Maka semua Akidah/ibadah harus sesuai petunjuk Nabi SAW. Masalah muamalah (urusan dunia) yang diamalkan mana mana petunjuk Nabi SAW (sunnah) atau dan boleh hasil ijitihad Ulama pada hal-hal tertentu.

Kesimpulan

Ahli Sunnah Waljamaah adalah orang-orang yang mengamalkan Sunnah Nabi SAW. Tidak mengamalkan Sunnah Nabi SAW, bukan Ahli Sunnah Waljamaah.

Karena rujukannya adalah perintah Allah SWT: “Masuklah kamu ke dalam Islam secara Kaffah (keseluruhan)”. Tidak boleh setengah-setengah, mengatakan hanya Akidah, tidak termasuk Fikih (ibadah) untuk membedakan Ahli Sunnah Waljamaah atau bukan Ahli Sunnah Waljamaah.    WASPADA

Dokter Spesialis

Baca juga:

Ahlussunnah Wal Jamaah Mazhab Dalam Berakidah

  • Bagikan