Tertutup Pintu Ijtihad Kaifiyat Ibadah Nabi SAW
Oleh dr Arifin S. Siregar

  • Bagikan

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya dan pemimpin diantara kamu. Apabila kamu berbeda pendapat, maka kembalilah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu meyakini adanya Allah dan hari Akhirat” (QS. An-Nisaa’: 59)

Menurut pendapat di antara Ulama yang jujur dan taat pada Alqur’an dan Sunnah Nabi SAW, misalnya pada petunjuk QS. An-Nisaa’: 59 dan juga QS. An-Nisaa’: 80 jelas dan tegas, Allah SWT menyatakan, jika di antara para Ulama/Mazhab berbeda pendapat, maka kembalilah kepada (petunjuk/pendapat) Allah dan Rasul-Nya.

Berarti jangan berpikir lain untuk berijtihad mencari pendapat lain, selain pendapat/petunjuk Allah SWT dan Nabi SAW. Dengan kata lain, untuk masalah Ibadah dan Aqidah, telah “tertutup pintu ijtihad“.

Rujukannya yang lain, yang lebih tegas: HR. Ahmad, Nabi SAW menyatakan: “Mengenai masalah dunia (Muamalah) kamu lebih tau, dan mengenai masalah agama (Ibadah/Akidah) ikut aku”.

Kemudian dijelaskan lagi oleh HR. Muslim, Nabi SAW menyatakan: “Shalatlah kamu seperti kamu melihat aku shalat“. Kemudian dijelaskan lagi oleh HR. Muslim, Nabi SAW menyatakan: “Barang siapa melakukan amalan (Ibadah/Aqidah) yang tidak menurut petunjukku, maka amalan itu tertolak”

Ketahuilah, gara-gara tidak mematuhi, tidak taat hal di atas, maka membuat terbukalah pintu Ijtihad oleh diantara Mazhab/Ulama pada masalah Ibadah/Aqidah, maka bertaburanlah bentuk bentuk Ibadah/Aqidah yang sudah di tetapkan Allah SWT dan Rasul-Nya ke bentuk lain.

Kaifiyat (petunjuk) diubah, ditambah, direnovasi, dimodifikasi, apakah itu caranya, bunyinya, kegunaanya dan sebagainya, oleh diantara Ulama/Mazhab. Misalnya adzan diajarkan Nabi SAW untuk shalat fardhu, tetapi digunakan untuk keberangkatan jamaah calon Haji, atau ketika memasukkan mayat ke liang lahat.

Atau di antara Ulama/Mazhab, merasa kurang sempurna atau kurang adab bunyi “shalawat” yang diajarkan Nabi SAW, maka ditambah kata “Sayyidina“. Hal inilah yang disebut terjebak bid’ah/sesat.

Hal inilah yang ditakuti/dikhawatirkan oleh Nabi SAW menjelang akhir hayatnya, sehingga sebelum beliau wafat mengeluarkan peringatannya melalui HR. Muslim, Nabi SAW menyatakan:

“….seburuk-buruknya perbuatan adalah yang mengada-ada (menambah-nambah) dan setiap yang mengada-ada adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap yang sesat di Neraka“.

Menjadi pertanyaan, dimana begitu gamblangnya dan tegas dan jelas peringatan dan ancaman Nabi SAW, pada yang berani mencoba-coba mengubah dengan ber-ijtihad pada Ibadah dan Aqidah, kenapa masih terjadi di antara Ulama/Mazhab berijtihad untuk Ibadah dan Aqidah?

Saya yang sekedar belajar mendalami ilmu ajaran Islam, dapat memahami ancaman Allah SWT dan Nabi SAW melalui QS. An-Nisa’ 59, dan QS. An-Nisa’ 80 dan HR. Muslim dan HR. Ahmad di atas!

Heran seribu kali heran, kenapa sampai sekarang belum terjawab, kenapa begitu berani di antara para saudara yang terhormat para Profesor, DR, Drs,MA, Kiyai, LC dan lain-lain, berani “berijtihad” untuk Ibadah dan Aqidah, dengan mengubah-ubah petunjuk Nabi SAW?

Sangat fatal!!! Tidak percaya pada petunjuk Nabi SAW? Dibilang tidak mengerti bahasa Arab, adalah Hafidz Al-Qur’an, ilmu Fiqih dan Hadist sangat menguasai. Mungkin akibat sifat taklid dan fanatik yang kental melekat!?

Pintu Ijtihad Terbuka

Pertama, terbatas hanya masalah teknis. Misalnya perluasan area Arafah untuk wukuf karena jamaah Haji untuk wukuf bertambah. Maka di ijtihadkan pertambahan “perluasan” area Arafah. Jadi hanya masalah teknis, karena tata cara (kaifiyat) wukuf masih tetap sesuai petunjuk Nabi SAW.

Kedua, penafsiran kata petunjuk ibadah artinya tidak jelas,. Misalnya kata “Quru’” pada QS. Al-Baqarah: 228, penafsirannya “haid” atau “suci”. Bila “haid”, maka wanita diceraikan boleh dikawini setelah selesai 3 masa haid. Arti “Quru’” itu “suci” wanita boleh dikawini selesai 3 masa suci.

Protokoler (kaifiyat) Ibadah/Aqidah ada ditangan Nabi SAW. Misalnya shalat witir 3 rakaat satu salam, jangan buat dua salam (ijtihad). Atau tidak batal wudhu sentuh istri dibuat menjadi batal.

Membuka pintu ijtihad pada Ibadah/Aqidah, berarti tersirat menganggap kaifiyat/petunjuk Nabi SAW pada Ibadah/Aqidah belum sempurna/ada yang salah, perbaikan/ralat/revisi/dan sebagainya. Atau mengingkari QS. An-Nisaa’: 59 dan QS. An-Nisaa’: 80, barakibat bid’ah dan syirik.

Atau tersirat pendapat/petunjuk Nabi SAW setara dengan ijtihad Ulama/Mazhab. Adalah hal seperti inilah yang sampai sekarang terus menjadi pertanyaan di benak kita: Kenapa di antara Ulama/Mazhab melakukan “perbaikan”, “tambahan” (ijtihad) pada petunjuk ibadh dan Aqidah (Sunnah) Nabi SAW?

Adalah orangnya ilmunya tinggi, hafal Alqur’an, gelar Profesor, Kiyai, MA, tapi kenapa mereka tega mengkotak katik “petunjuk” Nabi SAW yang sudah baku ? Mereka tau (hafal Al QS. An-Nisaa’: 59/ QS An-Nisaa’: 80, HR. Muslim mengenai ancaman bid’ah/sesat, hafal Q.S Al Ikhlas/ Q.S Al Fatihah dan mengaku “Pewaris Nabi SAW” dan hafal beribu Hadist dan Ayat Alqur’an Surah Al-Baqarah 285: “Sami’na wa atokna (aku dengar dan aku ikut).

Berarti apa yang didengar dari Alqur’an dan Nabi SAW di ikut) dan HR. Muslim mengenai peringatan/ancaman Nabi SAW mengenai perbuatan bid’ah/sesat, tapi mereka tega tidak peduli, tidak mempedomani hukum-hukum yang di atas, yang telah disampaikan Nabi SAW?

Maulid Nabi SAW jalan terus, peringatan Hijrah, Nujul Qur’an, MTQ terus dilakukan. Apa lebih taat pada Mazhab ini, akibat sifat “taqlid’’ atau fanatik? Kecuali mereka yang tidak tau, tidak hafal Alqur’an atau tidak menguasai Hadis Nabi dsb. Padahal sudah Profesor, Dr, Kiyai, naik Haji/umroh berulang kali?

Penafsiran Dikambinghitamkan?

Mungkin timbulnya “pendapat lain” terhadap ajaran Ibadah/Aqidah yang diajarkan Nabi SAW, adalah akibat “penafsiran” dari ayat/kalimat Alqur’an atau Hadis?

Jawabnya: Maaf seribu kali maaf saudaraku para Profesor, Dr, Drs, Kiyai, Lc, MA, silahkan rujuk pada peng-amalan Nabi SAW/Sahabat Khullafaurrasidin! Sunnah itu adalah ucapan, perbuatan dan keizinan Nabi SAW.

Ternyata misalnya Q.S An-Najm: 39: “Tidaklah sesorang itu akan mendapat ganjaran (pahala) melainkan apa yang dikerjakannya sendiri“. Untuk ayat ini ternyata Nabi SAW, sahabat Khulafaurrasyidin tidak pernah “tahlilan” baca Yasin menghadiahkan pahala pada yang sudah wafat. Jadi kenapa terjadi “penafsiran” lain pada QS. An-Najm 39 tadi ada amalan “hadiah pahala”?

Begitu juga arti Hadis Nabi yang menyuruh “memberi makan” keluarga Jafar karena wafat Jafar, adalah tidak ada sahabat makan atau kenduri di rumah Jafar! Pertanyaan bagaimana penafsiran Hadis itu, jadi “makan-makan”/kenduri di rumah kematian?

Begitu juga tambahan “Sayyidina” pada “shalawat“, bila alasan “penafsiran” pertimbangan pikiran pada bunyi “shalawat” ajaran Nabi SAW itu kurang sempurna, kurang sopan, kurang adab pada Nabi SAW tanpa Sayyidina.

Maka kenyataan Sahabat Abu Bakar RA, Umar RA, dan lain lain tidak pernah bershalawat menambah kata “Sayyidina” pada “Shalawat“. Apakah sahabat kurang sopan?

Jadi kesimpulannya, sebenarnya hai saudaraku para Profesor, Dr, Drs, Kiyai, Lc, MA, tidak ada rasionalnya/kesempatan “ber-ijtihad” pada Ibadah/Aqidah yang sudah baku ditetapkan Nabi SAW.

Contoh lain misalnya batal Wudhu’ sentuh wanita. Di antara Ulama/Mazhab memberi penafsiran QS. An-Nisaa’: 43: “Aulaamastumun nisa afalam tajidu maa amfatayammamu (apabila sentuh Wanita/batal wudhu).

Dengan ayat ini maka penafsiran di antara Mazhab/Ulama asal sentuh wanita, maka batal wudhu’. Tapi penafsiran Nabi SAW atas ayat itu harus sentuh berulang-ulang/bersetubuh (kata “Laa” pada kalimat “Aulaamastumun” itu artinya berulang-ulang, berarti ada nafsu/bersetubuh.

Berarti bukan “sentuh ansich” (sentuh tak sengaja). Maka sentuh tanpa nafsu tidak batal wudhu’. Dibuktikan Nabi SAW tidak batal wudhu asal sentuh dengan HR. Bukhari.

Dimana Nabi SAW shalat di kamar malam hari, Nabi SAW sujud menyentuh kaki Aisyah adalah Nabi terus shalat tanpa mengulangi wudhunya. Berarti penafsiran batal wudhu asal sentuh, ditolak oleh penafsiran/petunjuk Nabi SAW.

Tapi lucunya, ketika Tawaf di Ka’bah mereka sentuh istri, tidak batal wudhu. Kata mereka dalam keadaan darurat. Adalah Thawaf itu bukan darurat. Adalah darurat dimana tidak diduga akan terjadi.

Tadi adalah harus disadari adanya pendapat “batal wudhu” sentuh wanita dengan pendapat “tidak batal”, sesungguhnya itu bukan beda pendapat antara Mazhab/Ulama dengan Mazhab/Ulama, tapi sesungguhnya itu adalah “berlainan pendapat”/”pendapat lain” di antara Mazhab/Ulama dengan Nabi SAW !!! Benar apa tidak? Setuju, apa tidak? WASPADA

Dokter Spesialis

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *