TAUHID ISLAM, Keesaan Tuhan Sejati

  • Bagikan

By Hasan Bakti Nasution

Selain keberadaan Tuhan (Allah), keesaan Tuhan juga menjadi instrumen utama dan pertama dalam agama. Itulah sebabnya Islam sejak awal sangat komit dengan prinsip ini. Adalah Nabi Muhammad Saw sebagai pembawa ajaran, menjadikan peletakan fondasi ini sebagai proyek awal kerasulannya. 10 Tahun di Mekkah adalah wakatu yang lama, namun hasilnya ialah terbentuknya fondasi utama Ketuhanan, yaitu Allah itu Ada dan Esa Adanya.

Prinsip ini diabadikan dalam salah satu surat al-Qur’an, yaitu al-Ikhlash/: 1-5, yang artinya: “Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah tempat meminta segala sesuatu, Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia”.

Dari ayat singkat ini, paling tidak ada dua prinsip keesaan Allah. Pertama, Ia tidak memiliki potensi untuk berkembang menjadi 2, 3, dan seterusnya. Inilah makna dari kata “ahad”, bukan kata “wahid”. Karena jika digunakan kata “wahid” (qul Huwallahu wahid), akan berpotensi berkembang menjadi 2 (itsnain), 3 (tsalatsah), dan seterusnya.

Konsep ini dipertegas lagi dengan ayat berikutnya, yaitu “tidak beranak” (lam yalid) dan “tidak diperanakkan” (walam yulad). Artinya, Allah bukan sebagai hasil pengembangan dan tidak berkembang, karena memanag potensinya tidak berkembang menjadi 2, 3 dan seterrusnya tersebut.

Kedua, Allah tidak memiliki kesetaraan (kufuw) dalam semua aspeknya. Misalnya dalam hal entitas. Jika Tuhan memiliki zat, maka zat-Nya tidak bisa disetarakan, dengan selain Tuhan, misalnya disamakan dengan roh, dengan manusia dan sebagainya. Plato menyebut wujud Tuhan dengan “Ide Muthlak”, ide murni. Aristoteles menyebutnya dengan “Aktus Murni”, yang tidak terbagi kepada materi dan forma. Islam menyebutnya dengan “Wujud Yang Hakikat”, yang disebut Ibn Sina dengan “Wajibal wujud linafsi-Hi”, wajib ada karena diri-Nya, bukab orang lain.

Semua teori itu menggambarkan kesejatian dan keagungan-Nya yang tidak bisa dismakan, dan di sinilah tauhid sejati hadir. Jadi sangatlah tidak sopan, tidak etis, tidak masuk akal, jika Ia (Tuhan) disamakan atau digandengkan dengan wujud lain, seperti dengan ruh kudus, atau ada yang tadinya manusia lalu dituhankan.

Begitulah Dia, yang tidak bisa digambarkan dengan sesuatu apapun (laysa kamitsli-Hi sya’un, surat Syura/42: 11), karena ketika bisa digambarkan berarti Dia sudah makhluk, bukan Tuhan lagi. Suatu benda bisa digambarkan karena dia memiliki 4 dimenasi, panjang, lebar, tinggi, dalam, Tuhan tidak memiliki 4 dimensi, maka Ia tidak bisa digambarkan sebagai sesuatu apapun. Inilah tauhid hakiki dalam Islam.
…22-5-2021…

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.