TARAWEH DAN RELAKSASI

  • Bagikan

Catatan hari Keduabelas:
PUASA DAN KEBAHAGIAAN

Dalam KBBI kebahagiaan diartikan dengan atau kegembiraan adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens. Atau bisa disingkatkan dengan rasa seang hati sehingga nyaman dalam menjalani kehidupan.

Puasa dan kebahagiaan di sini memiliki dua arti; pertama, seorang bahagia karena berpuasa, dan kedua, karena seseorang berpuasa lalu ia sehat secara jasmani rohani yang juga membuatnya bahagia.

Pertama, orang berpuasa bahagia, adalah postulat (konsep yang tidak berubah) karena sudah dinyatakan Nabi melalui haditsnya. “Orang berpuasa akan memperoleh dua kebahagiaan, bahagia saat mau berbuka dan bahagia saat bertemu Tuhan karena puasanya”.

Bahagia saat berbuka sudah bisa kita buktikan, betapa bahagianya karena dalam waktu dekat akan mencicipi hidangan yang menghilangkan haus dan lapar.
Di Medan pernah ada seorang pejabat yang puasa Senin Kamis memiliki tradisi saat berbuka puasa mengundang anak yatim secara bergantian. Ketika ditanya mengapa, dengan sederhana beliau mengatakan: “saya bahagia melihat mereka bahagia ketika dibagikan hidangan. Kebahagiaan saya bertambah karena faktor kebahagiaan mereka adalah karena saya”.

Kebahagiaan kedua ialah bahwa sesuai dengan hasil penelitian Lahdiman dkk (2013) dan Bastani dkk (2017), ternyata puasa dapat menghasilkan senyawa androphine, serotinine, oxytocin, dan dopamine. Androphine, yaitu senyawa kimia yang membuat orang merasa senang dan bahagia sekaligus meningkatkan kekebalan tubuh. Endrophine ini diproduksi oleh kelenjar pituitary yang terjadi ketika manusia ketawa dan saat istirahat yang cukup serta melalui puasa.

Serotinine adalah senyawa kimia yang mengatur suasana hati, nafsu makan dan tidur serta fungsi kognitif dan anti depresi. Itu sebbanya ketika puasa bafsu makan dan tidur meningkat, daya nalar semakin tajam, dan tingkat depresi menurun, sehingga jarang terjadi kasus stroke selama Ramadhan, tentu bagi yang berpuasa.

Bahkan untuk meredam depresi sering dilakukan dengan puasa.
Oxytocin, yaitu hormon yang mendorong manusia untuk menciptakan ikatan sosial, dorongan reproduksi seksual dan termasuk melahirkan bagi wanita karena dapat merenggangkan leher rahim. Itulah sebabnya jaringan sosial menguat selama Ramdhan, dengan kegiatan buka bersama.

Sayangnya dorongan itu tidak tersalurkan karena corona. Begitu juga meningkatnya dorongan seks, walaupun puasa, semuanya karena horman oxytocin yang meningkat selama puasa tersebut.

Demikian juga dopamine, yaitu senyawa kimia yang melahirkan timbulnya hasrat serta perasaan senang dan bahagia bagi manusia. Jika dopamine ini berada dalam pembuluh ia berfungsi sebagai vasodilator, yaitu mengembangkan dan melebarkan pembuluh darah, sehingga tidak terjadi stroke bagi orang yang puasa.

Beberapa senyawa kimiawi penyedap kehidupan di atas yang diproduksi melalui puasa, ternyata membuat rasa bahagia manusia, dan rasa bahagia ini berperan penting dalam membentuk kesehatan fisik. Kesehatan adalah kekayaan yang tak terhingga nilainya, sehingga orang yang sehat adalah orang yang bahagia.

Jika kesehatan itu diakibatkan oleh kegiatan puasa, dan kesehatan itu mengakibatkan bahagia, maka disimpulkan bahwa orang yang berpuasa adalah orang yang bahagia, sesuai dengan judul di atas.

Dengan dua pengertian bahagia di atas, dapat diajukan suatu paradigma bahwa puasa= kebahagiaan. Sekaligus terbukti statemen Nabi melalui haditsnya bahwa orang berpuasa diberi kebahagiaan.
Semoga kebahagiaan itu menjadi nasib bahagian kita juga melalui Ramadhan tahun ini. Amin.


Catatan hari Ketigabelas:
TARAWEH DAN RELAKSASI

Ada beberapa teori tentang kata taraweh. Pertama, berasal dari kata “tarwihah” yang berarti istirahat, yaitu setiap empat raka’at istirahat untuk ceramah singkat. Teori lainnya mengatakan dari kata “rawaha” yang berarti melapangkan atau melonggarkan, salah satu makna Taraweh ialah proses pelonggaran. Atau dalam bahasa milenial bisalah disebut bahwa taraweh adalah proses relaksasi, membuat suasana jadi rilek atau santai.

Proses menyantaikan diri dilakukan dari kondisi sebelumnya yang kurang santai, paling tidak dalam dua bentuk.
Pertama, menyantaikan diri secara fisik setelah makan dan minum saat berbuka yang tentu bawaannya akan muncul rasa ngantuk. Rasa ngantuk bukan karena syetan, karena syetan sudah diikat, tapi imbas dari rasa kenyang tersebut.

Untuk itu, otot-otot perlu dilonggarkan melalui gerakan shalat. Semakin banyak rakaat shalat berarti semakin longgarlah otot-otot, terutama otot perut, leher dan anggota badan yang turut dalam gerakan shalat.

Kedua, menyantaikan pikiran melalui pelaksanaan shalat. Cara menyantaikan fikiran ialah dengan mengalihkan pikiran dari persoalan hidup, apalagi saat Corona ini. Sampai di sini menjadi perlulah bacaan-bacaan perantara antara dua rakaat dengan dua rakaat berikutnya.

Menjadi teringat di masa kecil dulu, bahwa sering kali bacaan-bacaan perantara tersebut disampaikan dengan suara yang keras, tapi tetap terkendali.

Ternyata suara keras ini ada juga fungsinya sebagai relaksasi pikiran seperti disebut tadi. Fungsi suara keras lainnya ialah untuk menghilangkan rasa ngantuk yang berlebihan, karena bercampurnya antara capek kerja di siang hari dengan makan yang kenyang ketika berbuka.

Tidak pula bisa pula merokok. Dengan cara pandang semacam ini menjadi tidak menarik perdebatan berapakah jumlah rakaat shalat Taraweh, karena semakin banyak dilakukan berarti semakin lama otot mengadakan relaksasi.

Baik delapan ataupun 20 memiliki landasan sunnah jadi pilih saja mana yang membahagiakan, karena beragama itu seharusnya membuat kita bahagia, bukan pemaksaan, akhirnya jadi susah.

Lebih tidak menarik lagi perdebatan apakah taraweh diajarkan Nabi atau tidak, apakah yang dikerjakan Nabi shalat Taraweh atau qiyamul-lail, karena yang penting di sini sesuai judul di atas ialah bagaimana untuk relaksasi badan/otot dan pikiran dengan mengerjakan shalat ini.

Dengan tidka dikerjakan tidak dilaksanakan shalat Taraweh berarti tidak ada media atau momen mengadakan relaksasi sambil beribadah. Padahal di situlah kejituan Islam, sambil mengadakan gerakan memiliki nilai ibadah.

Begitu juga dengan pertanyaan mengapa banyak bacaan perantara, seperti “subhana malikul mawjud…., dan sebagainya, karena bacaan-bacaan itu juga menjadi metode relaksasi.

Dalam salah satu ceramah Ramadhan, saat ditanya mengapa harus banyak bacaan-bacaan perantara, mengapa tidak langsung berdiri untuk rakaat berikutnya, sang penceramah santai saja menjawab: “Daripada korek-korek badan yang tak jelas…”.

Jadi terlepas dari pahala shalat Taraweh yang insya’a Allah diterima, dengan mengerjakan shalat Taraweh telah berlangsung proses relaksasi sehingga badan terasa semakin nyaman dan fikiran semakin refresh. Ini saja tentu sudah terasa manfaatnya di dunia.

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.