TARAWEH DAN RELAKSASI

  • Bagikan

Catatan hari Ketigabelas:
—————————————

Ada beberapa teori tentang kata taraweh. Pertama, berasal dari kata “tarwihah” yang berarti istirahat, yaitu setiap empat raka’at istirahat untuk ceramah singkat. Teori lainnya mengatakan dari kata “rawaha” yang berarti melapangkan atau melonggarkan, salah satu makna Taraweh ialah proses pelonggaran. Atau dalam bahasa milenial bisalah disebut bahwa taraweh adalah proses relaksasi, membuat suasana jadi rilek atau santai.

Proses menyantaikan diri dilakukan dari kondisi sebelumnya yang kurang santai, paling tidak dalam dua bentuk.
Pertama, menyantaikan diri secara fisik setelah makan dan minum saat berbuka yang tentu bawaannya akan muncul rasa ngantuk. Rasa ngantuk bukan karena syetan, karena syetan sudah diikat, tapi imbas dari rasa kenyang tersebut. Untuk itu, otot-otot perlu dilonggarkan melalui gerakan shalat. Semakin banyak rakaat shalat berarti semakin longgarlah otot-otot, terutama otot perut, leher dan anggota badan yang turut dalam gerakan shalat.

Kedua, menyantaikan pikiran melalui pelaksanaan shalat. Cara menyantaikan fikiran ialah dengan mengalihkan pikiran dari persoalan hidup, apalagi saat Corona ini. Sampai di sini menjadi perlulah bacaan-bacaan perantara antara dua rakaat dengan dua rakaat berikutnya. Menjadi teringat di masa kecil dulu, bahwa sering kali bacaan-bacaan perantara tersebut disampaikan dengan suara yang keras, tapi tetap terkendali.

Ternyata suara keras ini ada juga fungsinya sebagai relaksasi pikiran seperti disebut tadi. Fungsi suara keras lainnya ialah untuk menghilangkan rasa ngantuk yang berlebihan, karena bercampurnya antara capek kerja di siang hari dengan makan yang kenyang ketika berbuka. Tidak pula bisa pula merokok.

Dengan cara pandang semacam ini menjadi tidak menarik perdebatan berapakah jumlah rakaat shalat Taraweh, karena semakin banyak dilakukan berarti semakin lama otot mengadakan relaksasi. Baik delapan ataupun 20 memiliki landasan sunnah jadi pilih saja mana yang membahagiakan, karena beragama itu seharusnya membuat kita bahagia, bukan pemaksaan, akhirnya jadi susah.

Lebih tidak menarik lagi perdebatan apakah taraweh diajarkan Nabi atau tidak, apakah yang dikerjakan Nabi shalat Taraweh atau qiyamul-lail, karena yang penting di sini sesuai judul di atas ialah bagaimana untuk relaksasi badan/otot dan pikiran dengan mengerjakan shalat ini. Dengan tidka dikerjakan tidak dilaksanakan shalat Taraweh berarti tidak ada media atau momen mengadakan relaksasi sambil beribadah. Padahal di situlah kejituan Islam, sambil mengadakan gerakan memiliki nilai ibadah.

Begitu juga dengan pertanyaan mengapa banyak bacaan perantara, seperti “subhana malikul mawjud…., dan sebagainya, karena bacaan-bacaan itu juga menjadi metode relaksasi. Dalam salah satu ceramah Ramadhan, saat ditanya mengapa harus banyak bacaan-bacaan perantara, mengapa tidak langsung berdiri untuk rakaat berikutnya, sang penceramah santai saja menjawab: “Daripada korek-korek badan yang tak jelas…”.

Jadi terlepas dari pahala shalat Taraweh yang insya’a Allah diterima, dengan mengerjakan shalat Taraweh telah berlangsung proses relaksasi sehingga badan terasa semakin nyaman dan fikiran semakin refresh. Ini saja tentu sudah terasa manfaatnya di dunia.

Catatan hari Keempatbelas:
DILEMMA TARAWEH

Taraweh yang tahun-tahun sebelumnya dilaksanakan secara meriah di masjid, berbeda dengan Taraweh tahun 2020 atau 1441 ini sebagai imbas dari penyebaran virus Corona atau covid-19. Umat Islam dihadapkan pada dilema atau dua pilihan sulit, ibarat memakan buah simalakama, dimakan mati ibu tidak dimakan mati ayah. Akhirnya para pedagangah yang mampu menyelesaikan, yaa.. dijual saja.

Satu edaran meminta Taraweh di rumah saja secara total untuk menyetop peredaran virus corona yang mematikan tersebut. Namun edaran lainnya, atau jelasnya taushiyah, meminta umat Islam jika memenuhi syarat sesuai protokol pemerintah, tetaplah Taraweh di masjid.

Masing-masing kedua edaran ini tentu memiliki missi suci, yang pertama untuk keselamatan “jiwa manusia” yang harus dikedepankan, karena Islam melarang menjerumuskan jiwa kepada kehancuran. “Janganlah jatuhkan dirimu pada kebinasaan”, kata al-Qur’an surat al-Baqarah/2: 195. Dengan shalat Taraweh di rumah, diharapkan peredaran corona tidak terjadi, sehingga selamatlah jiwa manusia.

Adapun edaran kedua juga memiliki tugas suci, yaitu untuk memelihara “jiwa syi’ar Islam”, sehingga bolehlah shalat Taraweh jika kondisi bahaya penyebaran virus corona masih terkendali. Namun memberikan beberapa prasyarat sesuai protokol pemerintah. Misalnya suasana penyebaran corona masih terkendali, selalu menyuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer, menjaga kebersihan masjid, memastikan badan tidak sedang dalam kondisi sakit, membawa sajadah masing-masing, menjaga jarak shalat (phisical distansing), dan sebagainya.

Dilema ini tentu harus disikapi secara arif bijaksana oleh umat. Suatu hal yang pasti kedua edaran berniat baik, dan karenanya tidak perlu dipertentangkan. Sebab itu, jangan sampai menyalahkan dua institusi pembuat edaran. Dan lebih-lebih lagi jangan sampai antara jamaah saling menyalahkan, apalagi disertai dengan nada ejekan seperti bodoh, nekat, bandal, dan sebagainya.

Bagi yang Taraweh di rumah demi keselamatan silahkanlah, karena itu sikap yang paling aman dan sebagai media pembinaan rumah tangga. Begitu juga bagi yang merasa mampu memenuhi semua protokol kesehatan dan memang sehat memilih Taraweh di masjid, ya silahkan juga. Tidak menyuruh dan tidak melarang.

Ibarat perjalanan, pengamalan agama memang sering berliku, kadang melewati tikungan tajam, mendaki terjal atau menurun terjal juga, ditambah licin dan bebatuan. Namun dengan kebesaran hati, ketekunan, kesabaran dan tawakkal, insya’a Allah akan sampai di tujuan.

Alhamdulillah, adalah suatu kesyukuran kita belum ada temuan bahwa dengan shalat Taraweh terjadi penularan, sehingga belum muncul dan mudah-mudahan tidak muncul “claster Taraweh”, baru ada istilah claster Goa Sulawesi dan claster Pabrik rokok Sampurna Jawa Timur. Di Sumatera Utara nampaknya sudah terjadi trend berkurang, karena memang diduga puncaknya pada tanggal 24/25 April atau awal Ramadhan, seperti teori beberapa ahli.

Namun demikian, kita harus terus menjaga ukhuwah dan persatuan serta waspada dan kehati-hatian, bukan panik apalagi stress, karena stress justru mengundang datangnya corona, karena ketahanan tubuhnya berkurang. Jika semua persoalan ini di”gara-garai” oleh Corona, maka do’a kita ialah semoga makhluk Tuhan ini cepat enyah dari kehidupan kita, sehingga kita tidak dihantui oleh dilema yang membingungkan. Mudah-mudahan saja. Amin.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.