Taqlid Pemicu Pembekuan Pendapat ?

Taqlid Pemicu Pembekuan Pendapat ?

  • Bagikan

“Dan janganlah kamu ikuti hal yang kamu tidak mengetahui (kenapa dan mengapa). Sesungguhnya pendengaran, mata dan hati itu akan diminta pertanggung jawabannya (kelak di Akhirat)” (QS Al Isra’: 36)

Taqlid artinya menerima atau mengikut pendapat mujtahid/ulama (kitab: Kamus Istilah Fiqih oleh: M Abdul Mujieb, Mabruri Tholhah, Syafiah AM-Jakarta). QS Al Baqarah: 285 : Samikna wa atokna = aku dengar dan aku ikut.

Apa dua ayat di atas hanya sebagai ayat untuk sekedar dibaca, tidak digunakan sebagai petunjuk? Ada variasinya: Taqlid buta (dimana mengikut tanpa berpikir kenapa dan mengapa pendapat itu diikut, hal ini untuk orang awam).

Tapi untuk sekarang hal ini sulit ditolerir. Kenapa? Karena telah bertebar Al-Quran terjemahan, hadis terjemahan, kitab pembahasan agama di TV maupun masjid-masjid dan pengajian, ada di sana sini.

Imam Ahmad mengatakan taqlid (buta) hukumnya haram. Kenapa kita sebut taqlid itu pemicu pembekuan pendapat? Maksudnya, gara-gara virus taqlid jangankan awam, ulama, profesor, Dr, dr, MA, kiyai, ustadz pun, bisa terjebak cara berpikirnya menjadi beku. Tidak bisa cair, nalarnya rendah, rasionya dibendung oleh akibat taqlid yang sudah mendarahdaging melekat kuat menjadi sifat seseorang.

Pokoknya right or wrong are my country/benar atau salah pokoknya mazhab-ku/ulama-ku/ustadz-ku, kuanggap yang benar dan kuikut. Kenapa demikian? Kata mereka telah berkata Nabi SAW: “Bila mengamalkan suatu pendapat adalah benar, akan mendapat 2 pahala, bila salah akan mendapat 1 pahala“.Jadi bila salah, akan mendapat 1 pahala?

Secara akal yang sehat, manalah mungkin satu kesalahan dinilai Allah SWT satu pahala? Sesungguhnya yang dinilai Allah SWT 1 pahala itu, bukan kesalahannya, tapi jerih payah mazhabnya (berijitihad/berpendapat).

Anda yang ikut buta (taqlid) mana mungkin dinilai 1 pahala—mengikut yang sudah ada. Terbukti daya nalarnya hilang, gara-gara sifat taqlid, sehingga daya pikirnya menjadi beku. Tega ia menyatakan suatu kesalahan akan diberi pahala oleh Allah SWT. Mana mungkin tidak berijitihad (bersusahpayah) akan diberi pahala?

Kenapa Menjadi Beku ?

Kenapa terjadi hal demikian (pembekuan). Padahal ia seorang intelektual agama/ulama? Jawabnya: Seorang ulama besar Dr Mukti Ali mantan Menteri Agama berkata:

Di kalangan (beberapa) ulama ulama (di Indonesia) apabila mereka dihadapkan kepada masalah hukum, maka di satu pihak lebih mendahulukan melihat (berpegang) pada pendapat ulama, setelah itu baru mencari dasarnya (dalilnya) dari Al-Quran dan Hadis. Di lain pihak (ulama) mereka lebih mendahulukan mencari dalilnya dalam (dari) Al-Quran dan Hadis, baru melihat pendapat-pendapat ulama mujtahid tentang masalah tersebut”.

Lebih jelasnya begini: Di satu pihak diantara ulama, bila bertemu beda pendapat dari suatu pendapat, maka pendapat itu “dipaku matinya” kebenarannya (pendapat itu tidak boleh salah). Baru kemudian dicarinya dalil (nash) dari Al-Quran dan Hadis dimana penafsirannya, diolahnya sedemikian rupa sehingga tetap membenarkan pendapatnya.

Tidak boleh salah atas kebenaran pendapat itu..Tetapi di lain pihak di antara ulama mereka belum membenarkan pendapat itu sebelum diperolehnya nash dari Al-Quran dan Al-Hadis (shahih) yang membenarkannya.

Kemudian ada ulama mengatakan bila suatu pendapat telah dibenarkan atau diamalkan oleh terbanyak ulama/orang, maka pendapat itu dianggap benar atau tidak mungkin kalau pendapat itu salah menjadi orang banyak itu akan masuk neraka.

Untuk itu saya tanggapi: Rujuk pada suatu hadis dimana Nabi SAW menyatakan: “Umatku akan terpecah menjadi 73 firkah (kelompok), hanya yang 1 firkah yang masuk surga”. Berarti kebenaran itu tidak bergantung pada banyaknya yang mengamalkannya. Jadi yang sedikitpun mengamalkannya, bisa itu yang menjadi yang benar.

Amalan Akibat Taqlid

Contoh pertama, di antara ulama/orang, setelah selesai salam shalat jenazah masih menambah doa lagi. Padahal yang diajarkan/dicontohkan Nabi SAW setelah selesai salam shalat jenazah, maka segera jenazah diantar ke kuburan.

Pertanyaan apakah dianggap doa yang telah ada pada shalat jenazah itu yang diajarkan Nabi SAW dianggap kurang sempurna/tidak cukup?

Contoh kedua, wudhu’: Syarat boleh shalat. Boleh puasa setelah mengetahui hilal sudah di atas ufuk (masuk bulan Ramadhan). Pertanyaan samakah nilai wudhu’ dengan rukyah? Jawabnya tidak sama.

Wudhu’ ada kaifiyat-nya (harus tertentu), mulai dari basuh wajah, kemudian tangan dan seterusnya. Berarti wudhu’ termasuk kategori ibadah (ada petunjuk cara caranya dari Nabi SAW). Sedangkan rukyah tidak ada kaifiyatnya, hanya melihat hilal dengan segala cara (pakai mata telanjang atau teropong), untuk mengetahui hilal sudah muncul di atas ufuk.

Jadi rukyah hanya cara untuk mengetahui, maka ia tidak termasuk kategori ibadah. Kalau begitu rukyah bukan syarat untuk boleh puasa. Syarat puasa adalah mengetahui hilal telah di atas ufuk (1 derajat/2 derajar, 3 derajat, dan seterusnya).

Kalau begitu boleh menggunakan hisab untuk mengetahui munculnya hilal sesuai perintah QS Al Baqarah: 185: Faman syahida mingkumus syahro falya sumhu/Barang siapa telah mengetahui sudah masuk bulan Ramadhan maka puasalah.

Adalah Nabi SAW belum mendalami ilmu hisab ketika itu. Jangan terjebak pada di antara mazhab yang mewajibkan harus rukyah baru boleh puasa. Mungkin inilah salah satu akibat taqlid, yang memicu kebekuan pendapat.

Contoh ketiga: Orang bershalawat pakai sayyidina. Padahal yang diajarkan Nabi SAW : Allahuma Shalliala Muhammad… Apakah hal ini ketidaktaatan kepada Nabi SAW atau akibat taqlid?

Padahal Imam Syafi’i telah berpesan: Apabila pendapatku bertentangan dengan Al-Quran dan Hadis shahih maka pendapatku itu lemparkan ke dinding”.

Contoh keempat, masih terjadi orang-orang mengamalkan, menanam kepala kerbau di bawah jembatan yang dibangun. Atau kenduri laut berdoa dan memohon kepada penguasa laut agar nelayan selamat dan banyak tangkapan di antaranya disertai membuang sajian ayam/kepala kerbau ke laut dan ada pula amalan tepung tawar, pijak telur, mandi pengantin.

Apakah semuanya ini akibat taqlid kepada anjuran pemuka adat? Padahal ada satu filosofi: Adat basandisara’, sara’basandi Kitabullah. Memang kita harus beradat, orang tidak beradat adalah hewan, tapi amalkanlah adat yang tidak merusak tauhid (Al-Quran dan As-Sunnah).

Padahal HR Bukhari Muslim Nabi SAW telah menyatakan: “Sesungguhnya kamu akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kamu, sejengkal-sejengkal, sehasta-sehasta sehingga sekiranya mereka masuk ke sarang biawak kamu akan masuk juga”.

Kemudian Imam Syafi’i berkata: “Seseorang yang mengamalkan sesuatu tanpa pengetahuan adalah ibarat mencari kayu di hutan pada malam hari, ularpun akan dikutipnya”.

Contoh kelima: Pendapat Imam Syafi’I batal wudhu sentu istri (wanita). Di antara ulama ikut Imam Syafi’i mereka merujuk penafsiran QS An Nisaa’: 43: Aula mastu mun nisa afalam tajidu ma amfa tayamma mu/Apabila kamu menyentuh wanita kemudian tidak mendapat air maka hendaklah kamu tayamum…

Menafsir ayat ini bisa menyentuh tak sengaja, bisa bersetubuh atau bernafsu. Pengikutnya “lupa” merujuk pada HR Bukhari/Muslim dimana Nabi SAW sedang shalat dan Aisah RA tidur di samping. Maka Nabi SAW menyentuh Aisah RA berulangkali, namun Nabi SAW tidak memperbaharui wudhu’. Pendapat batal wudhu’ sentuh istri akibat taqlid pada mazhab ini?    WASPADA

 

  • Bagikan