TAFSIR ALQURAN APLIKATIF: Rukhsah (QS. Al Maidah: 3)

TAFSIR ALQURAN APLIKATIF: Rukhsah (QS. Al Maidah: 3)
Oleh Prof Dr Faisar A. Arfa, MA

  • Bagikan

Diharamkan bagi kalian (memakan) bangkai, darah, daging ba­bi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang di­terkam binatang buas, kecuali yang sempat kalian menyembelih­nya, dan (diharamkan bagi kalian) yang disembelih untuk berha­la. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agama kalian, sebab itu janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian NikmatKu. dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagi kalian. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa. sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang (QS. Al Maidah: 3)

Setelah memberitahukan apa yang tidak layak untuk dikonsumsi Alquran memberi keringaan kepada siapa saja yang terpaksa memakan sebagian dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah —seperti yang telah disebutkan di atas—karena keadaan darurat yang memaksanya melakukan hal itu, maka dia boleh memakannya.

Allah Mahapengampun lagi Mahapenya­yang kepadanya, karena Allah SWT mengetahui kebutuhan hamba­Nya yang terpaksa dan keperluannya akan hal tersebut. Maka dari itu Allah memaafkan dan mengampuninya.

Di dalam kitab musnad dan kitab sahih Ibnu Hibban disebutkan sebuah hadis dari Ibnu Umar secara marfu’, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

Sesungguhnya Allah suka bila rukhsah sebagai tanda kemurahan-Nya) dikerjakan, sebagaimana Dia benci bila perbuat­an durhaka kepada-Nya dikerjakan.

Demikianlah menurut lafaz Imam Ibnu Hibban. Sedangkan menurut lafaz Imam Ahmad disebutkan seperti berikut: Barang siapa yang tidak mau menerima rukhsah (kemurahan) Allah, maka atas dirinya dosa yang besarnya semisal dengan Bu­kit Arafah.

Karena itu, maka ulama fiqih mengatakan bahwa adakalanya mema­kan bangkai itu hukumnya wajib, yaitu bila orang yang bersangkutan merasa khawatir terhadap keselamatan jiwanya, sedangkan di tempat ia berada tidak ditemukan selainnya (yakni selain bangkai itu).

Ada­kalanya memakan bangkai itu hukumnya sunat, adakalanya hukum­nya mubah (boleh), semua ditentukan oleh keadaan.

Tetapi ulama fiqih berselisih pendapat mengenai masalah kadar yang dimakannya, apakah hanya sekadar untuk menutupi kebutuhan saja, atau sampai sekenyangnya, atau sampai kenyang, dan boleh membekali diri dengannya?

Banyak pendapat di kalangan mereka mengenai masalah ini, semuanya disebutkan di dalam kitab-kitab fiqih.

Mereka berselisih pendapat pula dalam masalah bilamana orang yang bersangkutan menjumpai bangkai hewan dan makanan milik orang lain atau hewan buruan, sedangkan dia dalam keadaan ihram.

Masalahnya ialah apakah dia boleh memakan bangkai itu atau hewan buruan yang mengharuskan dia bayar denda, atau makanan milik orang lain yang konsekuensinya dia harus menggantinya. Ada dua pendapat mengenai masalah ini, kedua-duanya dikatakan oleh Imam Syafii rahimahullah.

Bukan termasuk syarat, boleh memakan bangkai bila orang yang bersangkutan telah menjalani masa tiga hari tanpa menjumpai suatu makanan pun, seperti yang diduga oleh kebanyakan kalangan awam dan lain-lainnya.

Bahkan manakala orang yang bersangkutan dalam keadaan terpaksa harus memakannya, maka diperbolehkan baginya melakukannya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, telah menceritakan kepada kami Al-Auza’i, telah menceritakan kepada kami Hassan ibnu Atiyyah, dari Abu Waqid Al-Laisi, bahwa mereka pernah bertanya:

“Wahai Rasulullah, sesungguh­nya kami berada di suatu tempat dan kami mengalami kelaparan di tempat itu. Bilakah diperbolehkan bagi kami memakan bangkai di tempat itu?”

Rasulullah SAW menjawab: Bilamana kalian tidak mendapatkan untuk makan pagi dan tidak pula untuk makan sore hari serta tidak dapat memperoleh sayur-sayuran padanya, maka bangkai itu terserah kamu.

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Salamah, dari Ishaq, telah menceritakan kepadaku Umar ibnu Abdullah ibnu Urwah, dari kakeknya (yaitu Urwah ibnuz Zubair), dari neneknya, bahwa seorang lelaki Badui pernah datang ke­pada Nabi SAW untuk meminta fatwa kepadanya mengenai barang-barang yang diharamkan oleh Allah dan barang-barang yang dihalal­kan Allah untuknya.

Maka Nabi SAW. menjawab melalui sabdanya: Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan diharamkan bagimu yang buruk-buruk, kecuali jika kamu terpaksa memerlukan makanan untuk dirimu;

Maka kamu boleh memakan sebagian darinya hingga kamu merasa berkecukupan. Maka lelaki Badui itu bertanya, “Sampai batas manakah keperluanku yang menghalalkan aku memakannya, dan sampai batas manakah kecukupanku yang membuat aku tidak memerlukannya lagi?”

Nabi SAW bersabda: Apabila kamu mencari makanan untuk mencukupimu, lalu kamu menemukan sesuatu dari (bangkai) itu, maka berilah makan ke­luargamu menurut apa yang kamu kehendaki hingga kamu me­rasa cukup darinya.

Lalu lelaki Arab Badui itu bertanya lagi, “Sampai batas manakah ke­cukupan yang mengharuskan aku meninggalkannya jika aku menjumpainya (lagi)?” Maka Nabi SAW. bersabda: 

Jika kamu telah dapat mengenyangkan keluargamu dengan minuman susu di malam hari, maka jauhilah dari makananmu, makanan yung diharamkan oleh Allah bagimu. Karena sesungguh­nya makananmu yang halal itu semuanya mudah didapat dan tidak ada yang haram padanya.

Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Abu Daud. bahwa ada seorang lelaki turun istirahat di Harrah (pinggir Madinah) disertai istri dan anak laki-lakinya. Ada le­laki lain yang berkata kepadanya,

Sesungguhnya untaku hilang (le­pas). Jika kamu menemukannya, tolonglah tangkap ia.” Lalu ia menemukannya, tetapi tidak menjumpai pemiliknya (karena telah pergi). Kemudian lelaki itu sakit, maka istrinya berkata kepadanya:

“Sem­belihlah unta temuan ini.” Ia menolak dan sakitnya bertambah parah. Lalu istrinya berkata lagi kepadanya.”Sayatlah salah satu bagiannya, lalu kamu dendeng lemak dan dagingnya, kemudian kita makan ber­sama.” Ia menjawab, “Tidak, sebelum aku tanyakan lebih dahulu ke­pada Rasulullah SAW.”

Lelaki ku datang kepada Rasulullah SAW. dan menanyakan hal itu kepadanya. Maka Rasulullah SAW bertanya, “Apakah kamu memiliki makanan yang mencukupimu?” Ia menjawab, ‘Tidak.” Nabi SAW bersabda, “Maka makanlah daging sayatan itu.”

Tidak lama kemudian datanglah pemilik unta itu, dan ia mengabarinya. Ternyata pemilik unta itu berkata, “Mengapa tidak kamu sembelih saja untaku itu?” Ia menjawab, “Aku malu kepadamu.”

Harus tanpa sengaja berbuat dosa. Yakni tidak sengaja berbuat maksiat kepada Allah, maka sesungguh­nya Allah telah membolehkan hal tersebut. orang yang bepergian untuk maksiat tidak diperbolehkan melakukan sesuatu pun dari rukhsah-rukhsah yang diberikan kepada seorang musafir, ka­rena rukhsah tidak dapat dilakukan dengan adanya maksiat.

Hidup dengan iman itu harus dimulai dari awal hinga akhir. Sejak dari awal berniat untuk selalu hidup jujur di jalan Allah mematuhi perintah dan laranganNya bila terbentur dengan kesulitan maka Allah telah menyediakan Rukhsah.

Ambillah dengan sederhana tidak pula berlebihan atau enggan mengambilnya karena ingin membuktikan kesolehan. Allah tidak menerima kesolehan seseorang yang tidak mau menerima hukum rukhsah-Nya. Begitu keindahan Islam sebagai agama Allah SWT. WASPADA

  • Bagikan