TAFSIR ALQURAN APLIKATIF : Perjanjian Orang Mukmin (QS. Al-Maidah: 1-2)

TAFSIR ALQURAN APLIKATIF : Perjanjian Orang Mukmin (QS. Al-Maidah: 1-2)
Oleh Prof Dr Faisar A. Arfa, MA

  • Bagikan

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Diha­lalkan bagi kalian binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepada kalian. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kalian sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang hadya dan bi­natang-binatang galaid, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karu­nia dan keridaan dari Tuhannya; dan apabila kalian telah me­nyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan jangan se­kali-kali kebencian (kalian) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kalian dari Masjidil Haram, mendorong ka­lian berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan to­long-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertak­walah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaan-Nya (QS. Al-Maidah: 1-2)

Yang dimaksud dengan ‘uqud ialah perjanjian-perjanjian. Ibnu Jarir meriwayatkan akan adanya kesepakatan menge­nai makna ini. Ia mengatakan ‘uhud artinya apa yang biasa mereka cantumkan dalam perjanjian-perjanjian mereka menyangkut masalah hilf (perjanjian pakta pertahanan bersama) dan lain-lainnya.

Ibnu Abbas menafsirkan janji-janji itu menyangkut hal-hal yang dihalalkan oleh Allah dan hal-hal yang diharamkan-Nya serta hal-hal yang difardukan oleh-­Nya dan batasan-batasan (hukum-hukum) yang terkandung di dalam Al-Qur’an seluruhnya Dengan kata lain, janganlah kalian berbuat khianat dan janganlah kalian langgar hal tersebut

Dihalalkan bagi kalian binatang ternak (QS. Al-Maidah: 1) Yang dimaksud dengan binatang ternak ialah unta, sapi, dan kambing. Demikianlah menurut Abul Hasan dan Qatadah serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang. Ibnu Jarir mengatakan bahwa demikian pula menurut pengertian orang-orang Arab.

Firman Allah SWT: Kecuali yang akan dibacakan kepada kalian. Ibnu Abbas mengatakan yang di­maksud dengan hal yang akan dibacakan ialah bangkai, darah, dan daging babi. Sedangkan menurut Qatadah, yang dimaksud adalah bangkai dan hewan yang disembelih tanpa menyebut asma Allah pa­danya.            

Binatang yang diharamkan antara lain hewan yang disembelih untuk berhala. Sesungguhnya hewan yang demikian diharamkan sama sekali dan tidak dapat ditanggulangi serta tidak ada jalan keluar untuk menghalalkannya.

Karena itulah pada permulaan surat ini disebutkan: Dihalalkan bagi kalian binatang ternak, kecuali yang akan di­bacakan kepada kalian.

(Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kalian sedang mengerjakan haji. Menurut sebagian ulama, lafaz gaira dibaca nasab karena menjadi hal. 

Makna yang dimaksud dengan an’am ialah binatang ternak yang pada umumnya jinak, seperti unta, sapi, dan kambing. Juga binatang yang pada umumnya liar, seperti kijang, banteng, dan kuda zebra.

Maka hal-hal tersebut di atas dikecualikan dari binatang ternak yang jinak, dan dikecualikan dari jenis yang liar ialah haram memburunya di saat sedang melakukan ihram.

Demikian pula ke­tentuan tersebut berlaku dalam ayat ini (QS. Al-Maidah). Yakni se­bagaimana Kami halalkan binatang ternak dalam semua keadaan, ma­ka mereka diharamkan berburu dalam keadaan berihram.

Sesungguhnya Allah telah memutuskan demikian, Dia Mahabijaksana dalam se­mua yang diperintahkan dan yang dilarang-Nya. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan: Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang di-kehendaki-Nya

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian melanggar syiar-sy’iar Allah. Ibnu Abbas mengatakan, yang dimaksud dengan syiar-syiar Allah ialah manasik haji.

Menurut Mujahid, Safa dan Marwah, serta hadyu dan budna termasuk syiar-syiar Allah. Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan syiar-syiar Allah ialah semua yang diharamkan oleh Allah.

Dengan kata lain, janganlah kalian menghalalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah Swt. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman: dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram (QS. Al-Maidah: 2).

Makna yang dimaksud ialah harus menghormatinya dan mengakui keagungannya, dan meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah melakukannya di masa-masa itu.

Misalnya memulai peperangan—dan lebih dikuatkan lagi melakukan hal-hal yang diharamkan. Hal ini menunjukkan berlangsungnya status haram bulan-bulan haram tersebut sampai dengan akhir waktu (hari Kiamat), seperti yang di­katakan oleh mazhab sejumlah ulama Salaf.

Jangan (mengganggu) binatang-binatang hadya dan binatang-bi­natang qolaid. Maksudnya, janganlah kalian tidak ber-ihda (berkurban) untuk Baitul­lah, karena sesungguhnya hal tersebut mengandung makna meng­agungkan syiar-syiar Allah;

Jangan pula kalian tidak memberinya kalungan sebagai tanda yang membedakannya dari ternak lainnya, agar hal ini diketahui bahwa ternak tersebut akan dikurbankan untuk Kabah. Dengan demikian, maka orang-orang tidak berani mengganggu­nya.

Untuk itulah ketika Rasulullah SAW melakukan haji, terlebih da­hulu beliau menginap di Zul Hulaifah, yaitu di lembah Aqiq. Kemudian beliau mandi dan memakai wewangian, lalu salat dua rakaat Sesudah itu beliau memberi tanda kepada ternak hadyunya dan mengalunginya dengan kalungan tanda.

Lalu ber-ihlal (berih­ram) untuk haji dan umrah. Saat itu ternak hadyu Nabi SAW terdiri atas ternak unta yang cukup banyak jumlahnya, mencapai enam puluh ekor, terdiri atas berbagai jenis dan warna yang semuanya baik.

Dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridaan dari Tuhannya. Artinya, janganlah kalian menghalalkan perang terhadap orang-orang yang mengunjungi Baitullah yang suci dan barang siapa yang mema­sukinya aman.

Mengenai firman-Nya: dan keridaan (dari Tuhan kalian) (QS. Al-Maidah: 2); Menurut Ibnu Abbas, mereka mencari rida Allah melalui ibadah haji­nya.

Firman Allah SWT: dan apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji, maka boleh­lah berburu (QS. Al-Maidah: 2).

Jika kalian telah selesai dari ihram dan sudah ber-tahallul, maka Kami perbolehkan kalian mengerjakan hal-hal yang tadinya kalian di­larang sewaktu ihram, seperti berburu.

Dan jangan sekali-kali kebencian (kalian) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kalian dari Masjidil Haram, mendorong kalian berbuat aniaya. 

Maksudnya, jangan sekali-kali kebencian terhadap suatu kaum men­dorong kalian untuk meninggalkan norma-norma keadilan. Sesung­guhnya keadilan itu wajib atas setiap orang terhadap siapa pun dalam segala keadaan.

Allah SWT memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk saling menolong dalam berbuat kebaikan—yaitu kebajikan—dan meninggalkan hal-hal yang mungkar: Hai ini dinamakan ketakwa­an.

Allah SWT melarang mereka bantu-membantu dalam kebatilan serta tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan hal-hal yang diha­ramkan.

Ayat 1 dan 2 dari alMaidah ini menggambarkan dengan jelas berkelindannya urusan ibadah dan duniawi di dalam Alquran. Bukanlah hal yang tabu untuk membicarakan urusan dunia di tengah tengah ritual ibadah haji.

Hanya saja pelaksanaannya diatur sedemikian ru[a sehingga tidak mengganggu jalannya peribadatan yang dilaksanakan. Ummat Islam sejatinya bisa belajar dari dua ayat ini.

Sehingga tidak memisahkan antara urusan ibadah dengan urusan dunia tapi membuat urusan dunia menopang dari kegiatan urusan ibadah dan agama.

Perlu diingatkan bahwa tugas utama manusia diturunkan ke bumi adalah untuk menjadi khalifah Allah yang bertugas mengurus bumi dengan segala isinya. WASPADA

  • Bagikan