TAFSIR ALQURAN APLIKATIF : Penegak Kebenaran Dan Keadilan (QS. Al-Maidah: 8)

TAFSIR ALQURAN APLIKATIF : Penegak Kebenaran Dan Keadilan (QS. Al-Maidah: 8)
Oleh Prof Dr Faisar A. Arfa, MA

  • Bagikan

Dan ingatlah karunia Allah kepada kalian dan perjanjian-Nya yang telah diikatkan-Nya dengan kalian, ketika kalian mengata­kan, “Kami dengar dan kami taati.” Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati (kalian). Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menja­di saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil-lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang kalian kerjakan. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, me­reka itu adalah penghuni neraka. Hai orang-orang yang ber­iman, ingatlah kalian akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepada kalian, di waktu suatu kaum bermaksud hendak meman­jangkan tangannya kepada kalian (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kalian. Dan bertakwalah ke­pada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang muk­min itu harus bertawakal (QS. Al-Maidah: 7-11)

Alquran mengingatkan orang-orang yang mukmin terhadap semua nikmat yang telah dilimpahkan kepada mereka da­lam syariat yang telah ditetapkan untuk mereka, yaitu berupa agama Islam yang agung ini;

Dan telah dibangkitkan kepada mereka rasul yang mulia, serta apa yang telah diambil dari mereka berupa per­janjian dan kesediaan untuk berbaiat kepada rasul, bersedia meng­ikutinya, menolong dan mendukungnya, menegakkan agamanya dan menerimanya, serta menyampaikannya kepada seluruh manusia.

Untuk itu Allah SWT berfirman: Dan ingatlah karunia Allah kepada kalian dan perjanjian-Nya yang telah diikatkan-Nya dengan kalian, ketika kalian mengata­kan, “Kami dengar dan kami taati.” 

Baiat inilah yang dimaksud ketika mereka mengucapkannya kepada Rasulullah SAW saat mereka masuk Islam. Saat itu mereka mengata­kan:

“Kami berjanji setia kepada Rasulullah SAW untuk mendengar dan menaatinya dalam keadaan kami sedang bersemangat dan dalam keadaan kami sedang tidak bersemangat Kami mengesampingkan ke­pentingan pribadi kami dan tidak akan menentang perintah yang dikeluarkan oleh ahlinya,”

an bertakwalah kepada Allah. Hal ini mengukuhkan dan memacu untuk tetap berpegang kepada tak­wa dalam semua keadaan. Selanjutnya Allah memberitahukan kepada mereka bahwa Dia Maha Mengetahui semua yang tersimpan di dalam hati mereka berupa rahasia dan bisikan-bisikan hati. Untuk itu Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi (hati kalian).Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah.Yakni jadilah kalian orang-orang yang menegakkan kebenaran karena Allah, bukan karena manusia atau karena harga diri. menjadi saksi dengan adil. Maksudnya menegakkan keadilan, bukan kezaliman.

Dan jangan sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Artinya, jangan sekali-kali kalian biarkan perasaan benci terhadap se­suatu kaum mendorong kalian untuk tidak berlaku adil kepada me­reka, tetapi amalkanlah keadilan terhadap setiap orang, baik terhadap teman ataupun musuh. Karena itulah disebutkan dalam firman selan­jutnya:

Berlaku adil-lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Yakni sikap adilmu lebih dekat kepada takwa daripada kamu mening­galkannya. Fi’il yang ada dalam ayat ini menunjukkan keberadaan masdar yang dijadikan rujukan oleh damir-nya; perihalnya sama de­ngan hal-hal yang semisal lainnya dalam Al-Qur’an dan lain-lainnya.

Kalimat Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. ini termasuk ke dalam pemakaian af’alut tafdil di tempat yang tidak terdapat pembandingnya sama sekali.

Yakni seperti pengertian yang terkandung dalam perkataan seorang wanita dari kalangan Sahabat Nabi SAW kepada Umar ra, “Kamu le­bih kasar dan lebih keras, jauh (bedanya) dengan Rasulullah SAW”.

Kemudian Allah SWT berfirman: Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mahame­ngetahui apa yang kalian kerjakan. Maksudnya, Dia kelak akan membalas kalian atas apa yang telah Dia ketahui dari amal perbuatan yang kalian kerjakan. Jika amal itu baik, maka balasannya baik; dan jika amal itu buruk, maka balasannya akan buruk pula.

Untuk itu selaras dengan pengertian ini disebutkan dalam firman selanjutnya: Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

Yakni ampunan bagi dosa-dosa mereka dan pahala yang besar, yaitu Surga yang merupakan rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Sur­ga tidak dapat diperoleh karena amal perbuatan mereka, melainkan hanya semata-mata sebagai ralimat dan kemurahan dari-Nya; sekali­pun penyebab sampainya rahmat tersebut kepada mereka adalah kare­na amal perbuatan mereka, sebab Allah SWT sendirilah yang menjadi­kan penyebab-penyebab untuk memperoleh rahmat, kemurahan, am­punan, dan rida-Nya. Segala sesuatunya dari Allah dan milik Allah, segala puji dan anugerah adalah milik Allah.

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Ka­mi, mereka itu adalah penghuni neraka. Hal ini merupakan sikap adil dari Allah SWT dan hikmah serta kepu-tusan-Nya yang tiada kezaliman padanya, bahkan Dia Pemberi kepu­tusan Yang Mahaadil lagi Mahabijaksana serta Mahakuasa.

Firman Allah SWT: Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kalian akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepada kalian, di waktu suatu kaum bermaksud memanjangkan tangannya kepada kalian (untuk ber­buat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kalian.

Ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang Bani Nadir ketika mereka bermaksud menimpakan batu penggilingan gandum ke tubuh Rasulul­lah Saw manakala Rasulullah SAW datang kepada mereka meminta bantuan berkenaan dengan diat orang-orang Amiriyin.

Mereka menyerahkan tugas ini kepada Amr ibnu Jahsy ibnu Ka’b untuk melaku­kannya, dan mereka memerintahkan kepadanya apabila Nabi Saw te­lah duduk di bawah tembok dan mereka berkumpul menemuinya, hendaknya Amr menjatuhkan batu penggilingan gandum itu dari atas tembok tersebut. Maka Allah memperlihatkan kepada Nabi Saw makar jahat me­reka itu.

Akhirnya Nabi SAW kembali lagi ke Madinah, diikuti oleh para sahabatnya. Berkenaan dengan peristiwa tersebut turunlah ayat ini.

Dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang Mukmin itu berta­wakal. Bila bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan menutupi semua yang menjadi kesusahannya dan memeliharanya dari kejahatan manusia serta melindunginya.

Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan agar para sahabat be­rangkat memerangi mereka. Akhirnya pasukan kaum muslim me­ngepung mereka dan mengalahkan mereka serta mengusirnya.

Ayat ini menekankan pentingnya orang orang yang mengaku beriman untuk menunjukan keimanan mereka dengan berjuang menegakkan kebenaram dan keadilan secara aktif dan penuh dengan perjuangan.

Orang-orang yang beriman dianggap telah melakukan perjanjian kepad Allah untuk selalu tampil sebagai pembela kebenaran dan penegak keadilan. Apalagi mereka punya motto kami dengar dan kami patuhi.

Menegakkan kebenaran dan keadilan merupakan perintah Allah yang wajib dilaksanakan dan dihitung sebagai jalan menuju ketaqwaan dan pelaksanaannya melampaui identitas agama sendiri sehingga orang orang non muslim sekalipun akan kecipratan nuansanya.

Semua ini wajib dilakukan dan Allah sendiri menjamin bahwa Dia akan menolong mereka dalam proses tersebut. Karena proses kea rah tersebut tidak mudah akan banyak yang merintangi dan malah tidak sungkan untuk mencelakakan para pejuang kebenaran tersebut. WASPADA

  • Bagikan