Oleh Prof Dr Faisar A. Arfa, MA
Dosen Pascasarjana UIN SU Dan UMSU
Dan orang-orang yang di atas A’raf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya seraya mengatakan, “Harta yang kalian kumpulkan dan apa yang selalu kalian sombongkan itu tidaklah memberi manfaat kepada kalian.” (Orang-orang di atas A’raf bertanya kepada penghuni Neraka), “Itukah orang-orang yang kalian telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?” (Kepada orang Mukmin itu dikatakan), “Masuklah ke dalam Surga, tidak ada kekhawatiran terhadap kalian dan tidak (pula) kalian bersedih hati” (QS. Al-A’raf: 48-49)
Ayat ini menceritakan bagaiman para penghuni al-A’raf ini seperti moderator yang mengomentari tentang kedua kubu tersebut. Terhadap para penghuni Neraka mereka meneriakkan teriakan yang menghujat nasib mereka yang bersenang senang-senang di Bumi dan tidak mau peduli dengan ancaman Neraka. Mereka anggap enteng saja terhadap ayat-ayat Allah yang mengancam manusia dengan azab api Neraka malah sebagian dari mereka mengolok-olok ceramah agama tentang Neraka dan menyindir dengan kalimat urus saja Surgamu Nerakaku adalah urusanku. Ada pula yang dengan enteng mengatakan telah memboking satu tempat di Neraka. Gambaran sadis tentang Neraka tidak sedikitpun mengguncangkan hati mereka sehingga Al-Quran sendiri menyindir mereka ma ashbarahum alannar. Alangkah sabarnya mereka menghadapi ancaman Neraka.
Para penghuni al-A’raf pun mengingatkan mereka tentang hal tersebut ketika mereka digiring ke Neraka. Nasi telah menjadi bubur tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh para penghuni Neraka tersebut. Para penghuni Al-A’raf juga mengingatkan kepada kejahilan para penghuni Neraka tersebut selama hidup di Bumi dengan memandang rendah orang-orang yang shaleh yang hidup sederhana taat kepada Allah rajin berbagi dengan sesamanya sebagai kelompok yang rendah dan mengolok-olok mereka dengan khayalan Surga yang dijanjikan oleh Allah. Pada saat itu mereka menyaksikan dengan mata kepada sendiri bagaimana orang-orang yang mereka pandang rendah dan anggap enteng selama hidup di Bumi digiring ke dalam Surga.
Tentang para penghuni al-A’raf ini sepertinya tidak ada penjelasan nasib mereka secara eksplisit di ayat ini. Hanya saja para penafsir mencoba untuk memberikan tafsiran yang menghibur bahwa pada akhirnya mereka juga akan dimasukkan ke dalam Surga tanpa ada penjelasan berapa lama mereka berada di antara Surga dan Neraka. Kalau mereka melihat ahli Surga mereka senang tapi ketika menghadap Neraka mereka menyaksikan hukuman yang dahsyat yang ditimpakan kepada penghuni Neraka. Tentulah para penghuni al-Araf tersebut seperti berada di antara nikmat dan azab. Mungkin ini adalah manusia-manusia yang ketika hidup di Bumi tidak konsisten dalam memihak kubu mana yang harus dibela.
Al-Quran menceritakan tentang lontaran kritikan yang dilakukan oleh para penghuni al-A’raf terhadap pemimpin-pemimpin orang musyrikin yang mereka kenal melalui tanda-tandanya dalam Neraka. Bahwa harta yang mereka kumpulkan tidak memberikan manfaat sedikitpun kepada mereka dan tidak juga apa pun yang selalu mereka sombongkan itu. Tidak juga memberi manfaat banyaknya harta kepada mereka tidak juga besarnya golongan mereka untuk luput dari azab Allah, bahkan mereka pasti akan mengalami azab dan pembalasan seperti yang mereka rasakan ketika itu.
Ulama mengatakan, sesungguhnya penduduk A’raf adalah suatu kaum yang seimbang amal kebaikan dan amal keburukannya. Amal keburukannya menghalanginya untuk masuk Surga. Sedangkan amal baiknya menyelamatkannya dari Neraka, maka mereka ditempatkan di A’raf sehingga mereka mengetahui semua orang melalui tanda-tandanya. Dengan kata lain ibadah menyelamatkan mereka dari azab Neraka tapi amalan soleh mereka tidak cukup untuk mengantarkan mereka masuk Surga.
Kemudian Al-Quran menyebutkan yang khusus setelah yang umum. Dia berfirman ”dan orang-orang yang di al-A’raf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya”. Mereka adalah penduduk Neraka, mereka di dunia memiliki kebanggaan, kehormatan, harta, dan anak-anak. Maka orang-orang al-A’raf berkata kepada mereka ketika melihat mereka terbenam dalam azab tanpa seorangpun penolong dan pembantu. ”Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu tidaklah memberi manfaat kepadamu” yakni, bahwa harta di dunia, yang dengannya kamu menolak hal-hal yang tidak kamu inginkan dan dengannya kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan di dunia, pada hari ini ia lenyap tak berbekas, tak berguna bagimu sedikitpun bagimu. Begitu pula kesombongan menolak kebenaran dan kesombonganmu kepada orang yang membawanya dan mengikutinya, sama sekali tidak berguna bagimu.
Penghuni A’raf berkata seperti pada ayat di atas, kepada mereka saat melihat masing-masing mereka diazab tanpa ada yang menolong dan melindungi. Mereka ketika di Dunia memiliki kebesaran, kemuliaan, harta dan anak, dan semua itu tidak bermanfaat apa-apa.
Dan orang-orang di atas A’raf, yaitu tempat yang tertinggi, menyeru penghuni Neraka yang dahulu mendustakan ayat Allah dan Rasul-Nya dan senantiasa membanggakan harta bendanya, penghuni Neraka tersebut adalah orang-orang yang mereka kenal dengan tanda-tandanya. Mereka berkata, wahai penghuni Neraka, rasakanlah pedihnya azab Allah. Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang kamu sombongkan ketika di dunia, ternyata tidak ada manfaatnya sedikit pun buat kamu. Ketika pembicaraan tentang golongan Mukmin yang dulu mereka anggap lemah, miskin, dan hina, penghuni A’raf mengajukan pertanyaan dengan nada mencela dan menghina. Wahai penghuni Neraka! Itukah orang-orang yang kamu telah berani bersumpah, berlagak sombong, dan menghina mereka bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah’ kenyataannya sekarang, merekalah yang beruntung dan mendapatkan rahmat Allah.
Apakah orang-orang lemah dan miskin dari penghuni Surga itu yang dahulu kalian bersumpah di Dunia bahwa Allah tidak akan mencurahkan rahmat kepada merekap pada hari Kiamat, dan tidak akan memasukan mereka ke dalam Surga?” (Allah berfirman), ”Masuklah kalian ke dalam Surga wahai para penghuni al-A’raf. Sungguh telah diampuni dosa-dosa kalian. Tidak ada lagi ketentuan atas kalian terhadap siksaan Allah dan kalian tidak perlu bersedih atas apa yang terlewatkan bagi kalian dari kenikmatan-kenikmatan duniawi”.
Allah SWT berfirman seraya menegur keras terhadap orang-orang kafir, “Apakah mereka ini orang-orang yang kalian bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapatkan rahmat dari Allah?” Dan Allah berkata kepada orang-orang Mukmin, “Masuklah kalian -wahai orang-orang Mukmin- ke dalam Surga. Tidak ada kekhawatiran sedikit pun terhadap masa depan kalian. Dan kalian pun tidak bersedih hati atas kekayaan duniawi yang luput dari kalian setelah kalian berjumpa dengan kenikmatan yang abadi”.
Para ulama dan ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapa ashabul ‘araf itu dan apa amal mereka. Yang masuk akal dari pendapat-pendapat itu adalah bahwa mereka adalah orang-orang yang sama kebaikan dan keburukannya. Keburukan mereka tidak lebih berat sehingga mereka masuk Neraka, dan kebaikan mereka juga tidak lebih berat sehingga mereka masuk surga, maka mereka berada di al-A’raf sesuai dengan kehendak Allah.
Terhadap hal yang telah luput, bahkan mereka akan memperoleh keamanan, ketenteraman dan bergembira dengan segala kebaikan. Ketika pembicaraan tentang golongan mukmin yang dulu mereka anggap lemah, tak berguna, dan hina, penghuni al-A’raf mengajukan pertanyaan dengan nada mencela dan menghina, wahai penghuni Neraka! Itukah orang-orang yang kamu telah berani bersumpah, berlagak sombong, dan menghina mereka bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah’ kenyataannya sekarang, merekalah yang beruntung dan mendapatkan rahmat Allah.
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.