Waspada
Waspada » TAFSIR ALQURAN APLIKATIF: Musuh Dalam Selimut (QS. An-Nisaa’: 141)
Al-bayan Headlines

TAFSIR ALQURAN APLIKATIF: Musuh Dalam Selimut (QS. An-Nisaa’: 141)

Oleh Prof Dr Faisar A. Arfa, MA

“(yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada diri kalian (hai orang-orang Mukmin). Maka jika terjadi bagi kalian kemenangan dari Allah mereka berkata, ‘Bukankah kami (turut berperang) beserta kalian?’ Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata, ‘Bukankah kami turut memenangkan kalian, dan membela kalian dari orang-orang yang beriman?’ Maka Allah akan memberi keputusan di antara kalian di hari Kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman” (An-Nisaa’ ayat 141)

 

Alquran menceritakan perihal orang-orang munafik, yang mereka itu selalu menantikan kehancuran bagi orang-orang beriman pada setiap momen kehidupan, dan mereka berbahagia menyaksikannya. Dengan kata lain, mereka selalu menunggu-nunggu kehancuran kekuasaan orang-orang beriman dan kemenangan orang-orang kafir atas mereka, hingga kejayaan agama mereka lenyap.

Maka jika kemenangan dari Allah yaitu pertolongan, dukungan, keberuntungan, dan ganimah dari Allah, mereka berkata, “Bukankah kami (turut berperang) beserta kalian yaitu menjilat kepada orang-orang Mukmin dengan kata-kata tersebut.

Sebaliknya jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan). Sebab memang terkadang orang-orang kafir itu memperoleh kemenangan atas orang-orang Mukmin, seperti yang terjadi dalam Perang Uhud.

Orang orang munafik itu berkata, “Bukankah kami turut memenangkan kalian, dan membela kalian dari orang-orang yang beriman? Kami telah membantu kalian secara rahasia, dan tiada henti-hentinya kami tipu dan kami perdayai mereka orang-orang munafik kepada orang-orang kafir untuk mendapat simpati dari mereka, dan beroleh kedudukan di kalangan mereka serta tipu muslihat yang mereka gunakan terlindungi. Untuk itulah mereka bersikap menjilat ke sana dan kemari. Sikap seperti ini tiada lain karena lemahnya sehingga kalian menang atas mereka.

Dengan pengetahuan Allah mengenai orang orang munafik tersebut,menyangkut batin mereka yang kotor itu. Karena itu, dengan berlakunya pun hukum-hukum syariat secara lahiriah dalam kehidupan dunia ini tidak memberi pengaruh yang signifikan.

Begitu pula di hari kiamat kelak tidak akan bermanfaat tampilan lahiriah itu, bahkan pada hari itu semua rahasia akan terungkap dan semua yang terpendam di dalam dada akan diutarakan dan sekali-kali Allah tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman (QS. An-Nisaa’: 141).

Dapat pula diinterpretasikan makna yang terkandung di dalam ayat ini, dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman (QS. An-Nisaa’: 141) Yakni di dunia, misalnya orang-orang kafir itu dapat menguasai mereka dan memusnahkan mereka secara keseluruhan.

Hal ini tidak akan terjadi, sekalipun pada sebagian waktu orang-orang kafir adakalanya beroleh kemenangan atas orang lain. Tetapi, pada akhirnya akibat yang terpuji di dunia dan akhirat hanyalah diperoleh oleh orang-orang yang bertakwa.

Seperti yang disebutkan oleh Allah SWT melalui ayat lain, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia… (QS. Al-Mu’min: 51).

Berarti hal ini merupakan sanggahan terhadap orang-orang munafik yang mencita-citakan hal tersebut dan mengharap-harapkannya serta mereka tunggu-tunggu agar kekuasaan kaum mukmin lenyap. Juga membantah sikap mereka yang menjilat kepada orang-orang kafir karena takut diri mereka terancam oleh orang-orang kafir; jika mereka membantu orang-orang Mukmin, nanti orang-orang kafir akan memusnahkan mereka.

Pada umumnya ulama menarik kesimpulan dalil dari ayat ini menurut pendapat yang paling sahih di antara dua pendapat yang ada, bahwa dilarang menjual budak yang Muslim kepada orang-orang kafir. Karena menjual budak itu kepada mereka berarti menyetujui penguasaan mereka terhadap diri budak yang Muslim, juga berarti menghinakannya.

Orang yang mengatakan jual beli itu sah, diperintahkan kepadanya agar melucuti hak miliknya dari budak yang dimilikinya dengan seketika. Karena Allah SWT telah berfirman: dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman (QS. An-Nisaa’: 141).

Dalam permulaan surat Al-Baqarah disebutkan melalui firman-Nya: Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman (QS. Al-Baqarah: 9)  Tidak diragukan lagi bahwa Allah Swt. itu tidak dapat tertipu, karena sesungguhnya Allah mengetahui semua rahasia dan semua yang terkandung di dalam hati.

Tetapi orang-orang munafik itu—karena kebodohan dan minimnya pengetahuan serta wawasan mereka—akhirnya menduga bahwa perkara mereka adalah seperti yang terlihat oleh manusia dan pemberlakuan hukum-hukum syariat atas diri mereka secara lahiriahnya dan di akhirat pun perkara mereka akan seperti itu juga. Perkara mereka di sisi Allah adalah seperti apa yang diberlakukan terhadap mereka di dunia.

Allah SWT menceritakan perihal mereka, bahwa di hari kiamat kelak mereka berani bersumpah kepada Allah bahwa diri mereka berada dalam jalan yang lurus dan benar, dan mereka menduga bahwa hal tersebut memberi manfaat kepada mereka.

Sebagaimana yang di-sebutkan oleh firman-Nya: (Ingatlah) hari (ketika) mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepada kalian (QS. Al-Mujadilah: 18).

Artinya, Allah menyeret mereka secara perlahan-lahan ke dalam kesesatan dan keangkaramurkaan, membutakan mereka dari perkara yang hak dan untuk sampai kepadanya di dunia.

Demikianlah keadaan mereka nanti pada hari kiamat, seperti yang dinyatakan oleh firman-Nya: Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian” (QS. Al-Hadid: 13).

Alquran menyadarkan orang orang beriman secara kolektif agar waspada dan berhati hati terhadap sepak terjang orang orang munafik di dunia ini. Karena sepak terjang mereka sangat mengancam eksistensi ummat Islam di dunia.

Sedangkan perkara di akhirat Allah telah mengambilalih sepenuhnya bahwa Dia akan memberikan azab yang setimpal bagi mereka dan menempatkan mereka bersama-sama dengan orang kafir di neraka tanpa ada peluang untuk keluar selamanya.

Meskipun begitu orang orang beriman didorong untuk mengawasi pergerakan orang-orang munafik tersebut karena mereka manusia tanpa prinsip hidup. Mereka menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan meskipun mereka selalu kalah dalam pertarungan.

Namun mereka tetap meraih keuntungan karena sikap mereka yang tidak jelas tersebut dan berusaha untuk melihat setiap peluang yang ada untuk mendapatkan keuntungan dari setiap situasi yang terjadi.

Alquran menggambarkan dengan gamblang bahwa ciri khas orang munafik itu adalah siapapun yang menang mereka akan merapat dan menjilat agar mendapatkan bagian dari kue kemenangan yang diraih tanpa peduli identitas kelompok yang berkuasa.   WASPADA

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2