Waspada
Waspada » TAFSIR ALQURAN APLIKATIF Menunaikan Amanat (QS. An Nisa’: 58)
Al-bayan Headlines

TAFSIR ALQURAN APLIKATIF Menunaikan Amanat (QS. An Nisa’: 58)

Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kalian menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian. Sesungguhnya Allah adalah Mahamendengar lagi Mahamelihat (QS. An Nisa’: 58)

 

Setelah bica panjang lebar tentang ancaman neraka Jahannam terhadap orang orang yang inkar terhadap ayat ayat Allah, Al Qur’an kemudian masuk ke topik yang lain tapi terkait erat dengan persoalan masa depan manusia yang beriman di Akhirat kelak. Ada dosa yang tidak mungkin diampuni oleh Allah secara sepihak, karena ini terkait dengan persoalan titipan amanah yang tak dikembalikan kepada pemiliknya. Karena itu Al Qur’an secara spesifik mengingatkan orang orang yang mengaku beriman agar berhati hati terhadap masalah ini.

Al Qur’an memberitahukan bahwa Allah ta’ala memerintahkan agar amanat itu disampaikan kepada yang berhak menerimanya termasuk pula hak-hak yang menyangkut hamba-hamba Allah sebagian dari mereka atas sebagian yang lain, seperti semua titipan dan lain-lainnya yang merupakan subjek titipan tanpa ada bukti yang menunjukkan ke arah itu. Maka Allah SWT memerintahkan agar hal tersebut ditunaikan kepada yang berhak menerimanya. Barang siapa yang tidak melakukan hal tersebut di dunia, maka ia akan dituntut nanti di hari Kiamat dan dihukum karenanya.

Ibnu Abbas menjelaskan tentang ayat ini, bahwa amanat ini bermakna umum dan wajib ditunaikan terhadap semua orang, baik yang bertakwa maupun yang durhaka. Amanat itu bersifat umum, menyangkut bagi orang yang berbakti dan orang yang durhaka. Abul Aliyah mengatakan bahwa amanat itu ialah semua hal yang mereka diperintahkan untuk melakukannya dan semua hal yang dilarang mereka mengerjakannya. Ibnu Abu Hatim meriwayatkan bahwa Abdullah ibnu Mas’ud mengatakan, “Sesungguhnya syahadat itu menghapus semua dosa kecuali amanat”.

Kebanyakan Mufassirin menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Usman ibnu Talhah ibnu Abu Talhah. Nama Abu Talhah ialah Abdullah ibnu Abdul Uzza ibnu Usman ibnu Abdud Dar ibnu Qusai ibnu Kitab Al-Qurasyi Al-Abdari, pengurus Ka’bah. Dia adalah saudara sepupu Syaibah ibnu Usman ibnu Abu Talhah yang berpindah kepadanya tugas pengurusan Ka’bah hingga turun-temurun ke anak cucunya sampai sekarang.

Usman yang ini masuk Islam dalam masa perjanjian gencatan senjata antara Perjanjian Hudaibiyah dan terbukanya kota Mekah. Saat itu ia masuk Islam bersama Khalid ibnul Walid dan Amr ibnul As. Pamannya bernama Usman ibnu Talhah ibnu Abu Talhah, ia memegang panji pasukan kaum musyrik dalam Perang Uhud, dan terbunuh dalam peperangan itu dalam keadaan kafir. Usman ibnu Abu Talhah pengurus Ka’bah dan Usman ibnu Talhah ibnu Abu Talhah yang mati kafir dalam Perang Uhud.

Penyebab turunnya ayat ini berkaitan dengan Usman tersebut ialah ketika Rasulullah SAW mengambil kunci pintu Ka’bah dari tangannya pada hari kemenangan atas kota Makkah. Kemudian Ibnu Ishaq mengatakan bahwa salah seorang Ahlul Ilmi telah menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah SAW bersabda ketika berdiri di depan pintu Ka’bah: Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Dia telah menunaikan janji-Nya kepada hamba-Nya, dan telah menolong hamba-Nya dan telah mengalahkan pasukan yang bersekutu sendirian. Ingatlah, semua dendam atau darah atau harta yang didakwakan berada di bawah kedua telapak kakiku ini, kecuali jabatan Sadanatul Ka’bah (pengurus Ka’bah) dan Siqayalut Haj (pemberi minum jamaah haji).

Ibnu Ishaq melanjutkan kisah hadis sehubungan dengan khutbah Nabi SAW pada hari itu, hingga ia mengatakan bahwa setelah itu Rasulullah SAW duduk di masjid. Maka menghadaplah kepadanya Ali ibnu Abu Talib seraya membawa kunci pintu Ka’bah. Lalu Ali berkata, “Wahai Rasulullah, serahkan sajalah tugas ini kepada kami bersama jabatan siqayah, semoga Allah melimpahkan shalawat kepadamu.”

Maka Rasulullah SAW bersabda, “Di manakah Usman ibnu Talhah?” Lalu Usman dipanggil. Setelah ia menghadap, Rasulullah SAW bersabda kepadanya: Inilah kuncimu, hai Usman, hari ini adalah hari penyampaian amanat dan kebajikan. Setelah itu Rasul SAW keluar dari dalam Ka’bah seraya membacakan ayat ini, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya (QS.An-Nisa: 58), hingga akhir ayat. Ibnu Juraij mengatakan bahwa ketika Rasulullah SAW keluar dari dalam Ka’bah seraya membaca firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya (QS. An-Nisa: 58)

Hai manusia, inilah kiblat! Selanjutnya Rasulullah SAW keluar, lalu melakukan tawaf di Ka’bah sekali atau dua kali keliling. Menurut penulis kitab Bardul Miftah, setelah itu turunlah Malaikat Jibril. Kemudian Rasulullah SAW membacakan firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya (QS. An-Nisa: 58), hingga akhir ayat.

Dalam sebuah hadis disebutkan: Sesungguhnya Allah selalu bersama hakim selagi ia tidak aniaya; apabila ia berbuat aniaya dalam keputusannya, maka Allah menyerahkan dia kepada dirinya sendiri (yakni menjauh darinya).

Di dalam sebuah atsar disebutkan: Dikatakan bahwa berbuat adil selama sehari lebih baik daripada melakukan ibadah empat puluh tahun. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian (QS. An-Nisa’: 58). Allah memerintahkan kepada kalian untuk menyampaikan amanat-amanat tersebut dan memutuskan hukum dengan adil di antara manusia serta lain-lainnya yang termasuk perintah-perintah-Nya dan syariat-syariat-Nya yang sempurna lagi agung dan mencakup semuanya.

Sesungguhnya Allah adalah Mahamendengar lagi Mahamelihat (QS. An-Nisa: 58). Mahamendengar semua ucapan kalian lagi Mahamelihat semua perbuatan kalian. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdullah ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Abdulah ibnu Luhai’ah, dari Yazid ibnu Abu Habib, dari Abul Khair, dari Uqbah ibnu Amir yang menceritakan bahwa ia pernah melihat Rasulullah SAW sedang membaca ayat ini, yaitu firman-Nya: Mahamendengar lagi Mahamelihat (QS. An-Nisa’: 58) Lalu Beliau SAW bersabda:  Mahamelihat segala sesuatu.

Amanah merupakan perkara yang sangat penting sehinga Alquran secara spesifik menggunakan kalimat yang melibatkan Allah secara langsung sebagai pihak ketiga dalam urusan dua pihak yang dilakoni oleh manusia dalam kehidupan mereka sehari hari hari. Biasanya setiap masalah yang disebutkan oleh Al Qur’an menunjukkan masalah tersebut merupakan masalah yang serius dan manusia lemah di  dalam memikulnya.

Sehingga Al Qur’an mengatakan Allah memerintahkan kamu untuk melaksanakannya  dengan penuh kehati hatian karena ini melibatkan urusan dengan orang lain yang Allah tidak mungkin mengambil tindakan atas nama orang tersebut untuk memaafkan dan mengampuni kesalahan yang dilakukan dalam pelanggaran terhadap perintah tersebut dalam kasus ini disebut mengembalikan amanah kepada pemiliknya. Waspada

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2