TAFSIR ALQURAN APLIKATIF : Makanan Ahli Kitab (QS. Al-Maidah: 5)
Oleh Prof Dr Faisar A. Arfa, MA

  • Bagikan

Pada hari ini dihalalkan bagi kalian yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagi ka­lian, dan makanan kalian halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalal­kan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di an­tara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang men­jaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab se­belum kalian, bila kalian telah membayar maskawin mereka de­ngan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikan gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam), maka hapuslah amalannya dan ia di hari Akhirat termasuk orang-orang merugi (QS. Al-Maidah: 5)

Setelah Alquran menyebutkan makanan yang diharamkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan makanan dihalalkan untuk mereka, Alquran kemudian menyebutkan hukum sembelihan dua Ahli Ki­tab. Yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani, melalui fir­man-Nya: Dan makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu dihalalkan bagi kalian (QS. Al-Maidah: 5)

Dalilnya sebuah hadis yang disebutkan di dalam kitab sahih, bahwa penduduk Khaibar mengirim­kan seekor kambing panggang kepada Rasulullah SAW sedangkan mereka telah membubuhi racun pada kakinya.

Nabi SAW menyukai kaki kambing, maka Nabi SAW memakan sebagian darinya sekali suap. Tetapi kaki kambing itu memberitahukan kepada Nabi SAW bahwa ia telah diracuni. Maka Nabi SAW memuntahkannya kembali. Tetapi tak urung hal tersebut mempunyai pengaruh pada gigi seri dan urat nadi jantung Beliau.

Pada saat itu yang ikut makan bersama beliau adalah Bisyr ibnul Barra ibnu Ma’rur, tetapi ia tidak tertolong lagi dan meninggal dunia. Maka wanita Yahudi yang membubuhkan racun itu dibunuh. Ia bernama Zainab.

Dan makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagi kalian.  Mafhum mukhalafah dari ayat ini jelas menunjukkan bahwa makanan atau sembelihan selain Ahli Kitab dari kalangan pemeluk agama lain­nya tidak halal. dan makanan kalian dihalalkan (pula) bagi mereka. 

Artinya, dihalalkan bagi kalian memberi mereka makan dari hasil sembelihan kalian. Hal ini bukan merupakan berita mengenai hukum untuk mereka, kecuali bila dipandang dari segi makna sebagai berita tentang apa yang pernah diperintahkan kepada mereka, yaitu harus memakan sembelihan yang disebutkan nama Allah atasnya, baik dari kalangan mereka sendiri ataupun dari kalangan agama lain.

Tetapi, makna yang pertama lebih kuat, yang mengatakan bahwa kalian diperbolehkan memberi mereka makan dari hasil sem­belihan kalian, sebagaimana kalian pun boleh memakan hasil sembe­lihan mereka.

Dan (dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehor­matannya di antara wanita-wanita yang beriman. Yakni dihalalkan untuk kalian menikahi wanita-wanita merdeka yang memelihara kehormatannya dari kalangan wanita-wanita yang ber­iman.

Ayat ini merupakan pendahuluan bagi firman Selanjutnya, yaitu firman-Nya:dan wanita-wanita yang menjaga kehormatannya di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kalian.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayah­ku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Hatim ibnu Su­laiman Al-Muaddib, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim ibnu Malik (yakni Al-Muzanni), telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Sami’, dari Abu Malik Al-Gifari, dari Ibnu Abbas yang menga­takan bahwa diturunkan firman-Nya: Dan janganlah kalian nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman (QS. Al-Baqarah: 221).

Maka orang-orang menahan dirinya dari mereka hingga turunlah ayat berikutnya dalam surat Al-Maidah, yaitu firman-Nya: dam wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kalian. Maka orang-orang mulai menikahi wanita-wanita Ahli Kitab.

Sesung­guhnya ada segolongan di antara sahabat yang menikahi wanita-wani­ta Nasrani dan mereka memandangnya diperbolehkan karena ber­dasarkan firman-Nya: dan wanita-wanita yang memelihara kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kalian.

Bila kalian telah membayar maskawin mereka. (QS. Al-Maidah: 5). Yaitu maskawin mereka. Dengan kata lain, sebagaimana mereka menjaga kehormatannya, maka berikanlah kepada mereka mas kawin­nya.

Dengan senang hati. dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Sebagaimana disyaratkan ihsan, yakni menjaga diri dari perbuatan zi­na pada pihak wanita, hal yang sama disyaratkan pula pada pihak la­ki-laki, yaitu hendaknya pihak laki-laki pun menjaga kehormatannya dari perbuatan zina.

Karena itulah disebutkan ‘tidak dengan maksud berzina’ dengan kata musafihina yang artinya laki-laki tukang zina yang tidak pernah kapok melakukan maksiat dan tidak pernah meno­lak terhadap wanita yang datang kepadanya. Tidak pula menjadikannya gundik-gundik, yakni para kekasih hidup bagaikan suami istri tanpa ikatan nikah.

Karena itulah dalam surat ini Allah Swt. berfirman: Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hu­kum-hukum Islam), maka hapuslah amalannya, dan ia di hari ki­amat termasuk orang-orang merugi.

Pembicaraan tenang sembelihan ahli kitab dan menikahi kaum perempuan mereka merupakan topik kontroversial yang memecah ummat Islam ke dalam beberapa kubu pendapat.

Pendapat yang pertama adalah pendapat yang berpegang kepada teks ayat yang membolehkan umat Islam untuk memakan sembelihan mereka dan menikahi Wanita-wanita ahli kitab tanpa mengkaji bagaimana sikap mereka terhadap ajaran Islam.

Semua hak istimewa tersebut diberikan Allah SWT kepada para ahli kitab karena sistem kepercayaan mereka lebih dekat dengan Islam dibandingkan orang-orang kafir lainnya. Semasa hidupnya, Rasulullah SAW juga memberikan kebebasan kepada kalangan ahli kitab untuk menjalankan agama yang mereka yakini.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah orang Yahudi dan Kristen pada zaman sekarang masih termasuk golongan ahli kitab? Apakah lelaki Muslim diperbolehkan menikahi perempuan mereka? Menjawab pertanyaan tersebut, mayoritas ulama ber pendapat, menikah dengan wanita Yahudi atau Kristen itu dibolehkan.

Ibnu Qudamah menulis tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai kehalalan (menikahi) wanita ahli kitab. Di antara sahabat yang meriwayatkan hal itu adalah Umar, Utsman, Hudzaifah, Salman, Jabir, Talhah dan yang lainnya. Ibnu Munzir berkata, tidak ada dari kalangan generasi pertama yang mengharamkan hal itu.

Syaikh Yusuf Qardhawi menjelaskan betapapun ahli kitab itu dinilai sebagai kufur dan sesat, namun seorang muslim masih diperkenankan, bahwa isterinya, pengurus rumahtangganya, ketenteraman hatinya, menyerahkan rahasianya dan ibu anak-anaknya itu dari ahli kitab dan dia masih tetap berpegang pada agamanya juga.

Begitu pun Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita tentang memilih jodoh dengan kata-kata sebagai berikut: “Pilihlah perempuan yang beragama, sebab kalau tidak, celakalah dirimu.”  Dengan demikian, maka setiap muslimah betapapun keadaannya adalah lebih baik bagi seorang muslim, daripada perempuan ahli kitab.

Menikahi para wanita ahli kitab (Yahudi dan Kristen) pada zaman sekarang ini dikhawatirkan karena bisa membawa berbagai dampak buruk. Sebab, para wanita tersebut justru terkadang mengajak calon suami Muslimnya kepada agama mereka.

Apalagi bagi anak-anak yang lahir dari pasangan Muslim dan ahli kitab, bahayanya bisa besar sekali. Tindakan yang lebih hati-hati bagi seorang mukmin adalah tidak menikahi perempuan yang berbeda agama.

Apalagi dalam masyarakat Indonesia yang menganut sistem matrineal yakni keluarga perempuan menunjukkan dominasi mereka setelah terjadinya pernikahan. Ini sangat mengancam agama anak anak mereka selanjutnya. WASPADA

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *