TAFSIR ALQURAN APLIKATIF: Kalalah (QS. An-Nisaa’: 176)

TAFSIR ALQURAN APLIKATIF: Kalalah (QS. An-Nisaa’: 176)
Oleh Prof Dr Faisar A. Arfa, MA

  • Bagikan

Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepada kalian tentang kalalah (yaitu); Jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan sau­daranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara pe­rempuan) jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara pe­rempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri atas) saudara-saudara laki-laki dan perem­puan, maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepada kalian supaya kalian tidak sesat. Dan Allah Mahame­ngetahui segala sesuatu (QS. An-Nisaa’: 176)

Asbab nuzul ayat ini adalah tentang Jabir ibnu Abdullah yang berkisah bahwa mengatakan: “Rasulullah SAW masuk ke dalam rumahku ketika aku sedang sakit dan dalam keadaan tidak sadar.”

                                             

Lalu Rasulullah SAW berwudu, kemudian mengucurkan bekasnya kepadaku; karena itu aku sadar, lalu aku bertanya, ‘Sesungguhnya tidak ada yang mewarisiku kecuali kalalah. Bagaimanakah cara pem­bagiannya?’.” Lalu Allah menurunkan ayat faraid.

Mayoritas ulama menafsirkan kata kalalah dengan pengertian orang yang meninggal dunia dalam keadaan tidak mempunyai anak, tidak pula orang tua. Menurut yang lain, tidak mempunyai anak, tidak pula cucu.

Sebagian ulama mengatakan bahwa kalalah ialah orang yang tidak mempunyai anak. Seperti yang ditunjukkan oleh pengertian ayat ini, yaitu firman-Nya: jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak (QS. An-Nisaa’: 176)

Umar ibnul Khattab r.a.. seperti yang disebutkan di da­lam kitab Ash-Shahihain darinya, bahwa ia telah mengatakan: Ada tiga perkara yang sejak semula aku sangat menginginkan bi­la Rasulullah SAW memberikan keterangan kepada kami tentang­nya dengan keterangan yang sangat memuaskan kami, yaitu ma­salah kakek, masalah kalalah, dan salah satu bab mengenai masalah riba.

Imam Ahmad mengatakan,Umar ibnul Khattab pernah mengatakan bahwa ia belum pernah menanyakan ke­pada Rasulullah SAW suatu masalah pun yang lebih banyak dari per­tanyaannya tentang masalah kalalah, sehingga Rasulullah SAW menotok dada Umar dengan jari telunjuknya seraya bersabda: 

Cukuplah bagimu ayat saif (ayat yang diturunkan di musim pa­nas) yang terdapat di akhir surat An-Nisaa’. Karena itulah Umar ra mengata­kan, “Sesungguhnya jika aku menanyakan kepada Rasulullah SAW tentang masalah kalalah ini, lebih aku sukai daripada aku mempunyai ternak unta yang merah.”

Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa Khalifah Abu Bakar As-Siddiq mengatakan di dalam khotbahnya: Ingatlah, sesungguhnya ayat yang diturunkan pada permulaan surat An-Nisaa’ berkenaan dengan masalah faraid, Allah menurun­kannya untuk menjelaskan warisan anak dan orang tua.

Ayat yang kedua diturunkan oleh Allah untuk menjelaskan warisan suami, istri, dan saudara-saudara lelaki seibu. Ayat yang meng­akhiri surat An-Nisaa’ diturunkan oleh Allah untuk menjelaskan warisan saudara-saudara laki-laki dan perempuan yang seibu seayah (sekandung).

Dan ayat yang mengakhiri surat Al-Anfal diturunkan berkenaan dengan masalah orang-orang yang mem­punyai hubungan darah satu sama lain yang lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitabullah sesuai dengan ketentuan asabah dari hubungan darah.

Masalah warisan memang merupakan persoalan yang cukup pelik sehingga Alquran memberikan penjelasan yang cukup panjang di dalam ayat ayatnya. Persoalan kalalah ini merupakan salah satu contoh yang diangkat oleh Alquran dan diberikan jawaban khusus.

Sementara ayat yang lain hanya memberikan porsi bagian ahli waris yang harus diberikan bila terjadinya pembagian ahli waris.

Mereka meminta fatwa kepadamu, Nabi Muhammad SAW, tentang kalalah, yaitu seorang yang mati tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak.

Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah, yaitu jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak, tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya, yakni bagian dari saudara perempuan itu, adalah seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi seluruh harta saudara perempuan, jika saudara perempuan itu mati dan saudara laki-laki itu masih hidup, ketentuan ini berlaku jika dia, saudara perempuan yang mati itu, tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan yang mewarisi itu berjumlah dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka, ahli waris itu, terdiri atas saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua saudara perempuan.”

Demikian Allah menerangkan hukum tentang pembagian waris kepadamu, agar kamu tidak sesat, dalam menetapkan pembagian itu.

Allah Mahamengetahui segala sesuatu yang membawa kebaikan bagimu dan yang menjerumuskan kamu ke dalam kesesatan, maka taatilah segala perintah-Nya dan jauhilah segala larangan-Nya.

Orang-orang bertanya kepadamu (wahai rasul), tentang hukum warisan dari kalalah, yaitu orang yang meninggal tanpa meninggalkan seorang anak atau ayah.

Katakanlah, ”Allah akan menerangkan hukum kepada kalian tentang itu; yaitu apabila ada seorang lelaki meninggal, tanpa memiliki anak atau ayah, sedangkan dia mempunyai saudara perempuan seayah dan seibu, atau seayah saja, maka baginya setengah dari harta warisan itu. Dan saudara lelaki sekandungnya atau seayah akan mewarisi seluruh harta warisannya, bila wanita itu meninggal dalam keadaan tidak memiliki anak dan ayah. Dan jika orang yang mati dalam keadaan kalalah itu memiliki dua saudara perempuan,maka bagi mereka berdua bagian dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan apabila ada saudara-saudara laki-laki bersama saudara-saudara perempuan itu, maka bagi seorang lelaki sebanyak bagian dua perempuan dari saudara-saudara perempuan nya. Allah menjelaskan bagi kalian pembagian harta warisan dan hukum kalalah, supaya kalian tidak tersesat dari jalan kebenaran dalam perkara pembagian warisan. Dan Allah Mahamengetahui kesudahan-kesudahan perkara-perkara dan segala sesuatu yang membawa kebaiakan bagi hamba-hambaNya.”

Ayat-ayat yang ada pada surat an-Nisaa’ ini ditutup dengan pembukaan hukum-hukum warisan yang disyariatkan oleh Allah sebagai bentuk rahmat dan hidayah bagi hamba-hamba-Nya, dan untuk menjaga hak-hak mereka serta melindungi harta mereka agar sampai kepada orang yang lebih utama untuk menerimanya sesuai dengan syariat Allah yang adil.

Para sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang seorang lelaki yang meninggal dunia namun tidak memiliki ayah atau anak sebagai ahli waris, akan tetapi dia memiliki saudari kandung atau saudari seibu.

Maka Alquran menjelaskan: Bagi seorang saudari setengah dari harta yang ditinggalkan oleh saudaranya. Dan seorang saudara mendapatkan seluruh harta yang ditinggalkan saudarinya jika saudarinya tersebut tidak memiliki anak.

Sebab seorang saudara mendapatkan bagian ashabah sehingga dia dapat mengambil seluruh sisa harta warisan setelah semua ahli waris menerima bagiannya, atau dapat mengambil seluruh harta warisan jika tidak ada ahli waris yang lain.

Namun jika terdapat dua saudari maka bagi mereka dua pertiga dari harta warisan. Dan jika terdapat banyak saudara baik itu laki-laki maupun perempuan maka mereka mendapatkan bagian ashobah, yang laki-laki mendapatkan dua jatah bagian perempuan setelah semua ahli waris menerima bagiannya masing-masing jika terdapat ahli waris lain. WASPADA

  • Bagikan