Waspada
Waspada » TAFSIR ALQURAN APLIKATIF: Hijrah Itu Pindah Lokasi (QS. An-Nisa’: 97-100)
Al-bayan Headlines

TAFSIR ALQURAN APLIKATIF: Hijrah Itu Pindah Lokasi (QS. An-Nisa’: 97-100)

Oleh Prof Dr Faisar A. Arfa, MA

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya: ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab: ‘Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah).’ Para Malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’ Orang-orang itu tempatnya Neraka Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), Mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Mahapemaaf lagi Mahapengampun. Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang (QS. an-Nisa’: 97-100)

 

Ada beberapa orang dari kalangan kaum Muslimin tetap tinggal bersama kaum musyrikin, padahal sanggup berhijrah. Akibatnya mereka tidak mampu menegakkan agama dalam kehidupan sehari hari, maka ia termasuk orang yang zhalim pada dirinya sendiri dengan meninggalkan hijrah. Malaikat maut ketika mereka wafat mengajukan pertanyaan: kenapa kalian tinggal di sini dan enggan melakukan hijrah. Mereka menjawab ‘Kami adalah orang-orang tertindas di negeri ini. Malaikat menjawab mereka, “Bukankah bumi Allah itu luas.

Enggan untuk berhijrah bersama orang-orang seiman dan nyaman hidup bersama orang-orang Musyrikin dianggap sebuah kesalahan fatal dalam berjamaah. Kecuali orang-orang yang tertindas tak mampu berhijrah karena mereka itu tidak sanggup keluar dari cengkeraman kaum musyrikin.

Kalaupun mereka berhasil lolos, mereka tidak tahu jalan yang ditempuh. Ini merupakan rukhsoh keringanan dari Allah bagi mereka untuk meninggalkan hijrah. Mereka tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan. Allah memaafkan mereka karena tidak melakukan hijrah tersebut karena Allah Mahapengampun lagi Mahapengasih.

Ibnu `Abbas: mengatakan bahwa Dahulu dia dan ibunya termasuk orang yang diberi udzur oleh Allah.”Alquran memberikan argumentasi bahwa pindah dari satu tempat ke tempat lain demi menyelamatkan keimanan merupakan langkah yang sangat didukung Allah:

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak”. Ini merupakan dorongan untuk hijrah dan anjuran untuk memisahkan diri dari orang-orang musyrik dan bahwa kemana saja seorang Mukmin pergi, ia akan mendapatkan keluasan dan tempat perlindungan yang mana ia dapat membentengi dirinya di sana.

Ibnu `Abbas berkata: Al-muraagham adalah berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan sa’atan adalah rezeki yang luas. Menurut Qatadah, mengenai firman-Nya: yajid fil ardli muraaghaman katsiiraw wa sa’atan maksudnya adalah mereka mendapati di muka bumi tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” ia berkata: “Dari kesesatan menuju hidayah dan dari kekurangan menuju kekayaan.”

Firman-Nya: wa may yakhruj mim baitiHii muHaajiran ilallaaHi wa rasuuliHii tsumma yudrikHul mautu faqad waqa’a ajruHuu ‘alallaaHi (Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan kemudian kematian menimpanya [sebelum sampai ke tempat yang dituju], maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah).

Maksudnya, barangsiapa keluar dari rumahnya dengan niat hijrah, lalu mati di tengah perjalanan, maka telah memperoleh di sisi Allah pahala orang yang berhijrah.

Diriwayatkan dari `Umar bin al-Khaththab, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya suatu amal itu tergantung dari niatnya dan sesungguhnya setiap orang itu memperoleh apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Sedang barangsiapa berhijrah untuk kepentingan dunia yang ingin diperolehnya, seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu untuk apa yang ia berhijrah kepadanya”.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, ia berkata: “Dhamrah bin Jundub keluar menuju Rasulullah SAW, lalu ia mati di jalan sebelum sampai kepada Rasul, maka turunlah ayat: wa may yakhruj mim baitiHii muHaajiran ilallaaHi wa rasuuliHii tsumma yudrikHul mautu faqad waqa’a ajruHuu ‘alallaaHi (Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan kemudian kematian menimpanya [sebelum sampai ke tempat yang dituju], maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah).

Hijrah merupakan perintah yang penting di dalam Alquran sehingga peristiwa tersebut diabadikan dalam sejarah Islam dan dijadikan sebagai patokan penanggalan umat Islam—menandai sebuah peristiwa besar yaitu hijrahnya Nabi menyusul para Sahabat dan pengikut Beliau dari kota Makkah ke kota Madinah. Tonggak sejarah ini menandai munculnya bulan sabit peradaban Islam di kota Madinah yang kemudian beberapa tahun kemudian menjelma menjadi bulan purnama yang menerangi seantero jazirah Arabia.

Hijrah yang dimaksud Alquran itu adalah hijrah fisik. Pindah lokasi dari Makkah sebagai kota yang tidak bersahabat bagi umat Islam menuju kota Madinah, kota yang menyiapkan segalanya bagi perkembangan Islam dan menyambut nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul serta pemimpin masa depan bagi kota mereka. Masyarakat Madinah merupakan masyarakat yang sangat terbuka terhadap keimanan kepad Rasul dan meninggalkan identitas diri mereka sebagai penduduk Madinah menjadi ummat nabi Muhammad.

Hijrah di dalam Alquran merupakan momentum yang sangat penting yang menandai perubahan besar di dalam masyarakat Islam yang hidup tertekan di kota Makkah akibat tekanan luar biasa yang diberikan para penguasa Makkah baik secara politik sosial ekonomi dan budaya. Tekanan yang luar biasa itu menghambat perkembangan dakwah Islam dan membuat banyak ummat Islam yang menyembunyikan identitas diri mereka karena khawatir terhadap keselamatan diri mereka.

Hijrah ke Madinah merupakan keputusan berat yang harus diambil oleh para pengikut Nabi sebab meninggalkan tanah kelahiran yang telah memberikan identitas diri jelas bukan perkara yang mudah sehingga sebagian masih ada yang tetap tinggal di Makkah dengan menyembunyikan keimanan mereka. Padahal mereka mampu untuk berhijrah sehingga mereka sulit untuk menjalankan ajaran Islam karena situasi yang menekan mereka.

Hijrah itu secara generiknya adalah pergerakan fisik dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Dari satu lokasi yang ditekan oleh lawan menuju satu lokasi yang memungkinkan untuk memberikan perlawanan terhadap lawan. Filosofi ini yang harus diingat oleh kaum Muslimin bahwa hijrah adalah strategi untuk mencapai kehidupan yang layak di dunia ini.

Hanya pada fondasi kehidupan yang layak lah Islam sebagai agama dapat berdiri tegak menjulang, menegakkan kepala berhadapan dengan musuh dan lawan politiknya. Salah kaprah yang terjadi pada trend hijrah yang diperkenalkan oleh para pejuang milenial sekarang dengan meninggalkan pekerjaan mapan yang mereka kerjakan kemudian hidup pas pasan.

Hijrah bukan meninggalkan dunia dengan segala urusannya lalu menyibukkan diri dengan urusan agama. Hijrah berguna untuk meningkatkan kualitas hidup dunia agar mampu mengerjakan perintah agama Allah.  WASPADA

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2