banner 325x300

TAFSIR ALQURAN APLIKATIF: Ahli Kitab Yang Lurus (QS. Ali Imran: 199-200)

  • Bagikan

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kalian beruntung (QS. Ali Imran: 200)

SIKAP Ahli kitab itu terpecah dalam merespons risalah Islam yang disempurnakan nabi Muhammad SAW.

Alquran memberitakan respons berbeda segolongan Ahli Kitab. Mereka beriman kepada Allah dengan iman yang sebenarnya.

Beriman pula kepada Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW serta kitab-kitab terdahulu yang ada di tangan mereka.

Bahwa mereka selalu taat kepada Allah, tunduk patuh di hadapan-Nya, dan tidak pernah menukar ayat-ayat Allah dengan harga sedikit.

Yakni mereka tidak menyembunyikan berita gembira tentang Nabi Muhammad SAW yang ada di dalam kitab-kitab mereka.

Mereka menyebutkan sifat dan ciri khasnya, serta tempat beliau diutus dan sifat umatnya.

Mereka adalah orang-orang yang terpilih dari kalangan Ahli Kitab dan merupakan orang-orang paling baik di antara mereka.

Baik dari kalangan orang-orang Yahudi ataupun orang-orang Nasrani. Sifat-sifat tersebut memang dijumpai di kalangan orang Yahudi, tetapi sedikit.

Seperti yang ada pada diri Abdullah ibnu Salam dan orang-orang Yahudi yang semisal dengannya dari kalangan rahib-rahib Yahudi yang beriman, tetapi jumlah mereka tidak sampai sepuluh orang.

Adapun di kalangan orang-orang Nasrani, sifat-sifat tersebut banyak dijumpai; di kalangan mereka banyak orang yang mendapat petunjuk dan mengikuti kebenaran

Ibnu Abu Hatim dan Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih meriwayatkan dari hadis Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari Anas Ibnu Malik yang menceritakan bahwa ketika Raja Najasyi meninggal dunia.

Rasulullah SAW bersabda: Mohonkanlah ampun buat saudara kalian! Maka sebagian orang ada yang mengatakan, “Apakah beliau memerintahkan kita agar memintakan ampun buat orang kafir yang mati di negeri Habsyah ini?”

Maka turunlah firman-Nya: Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kalian dan yang diturunkan kepada mereka, sedangkan mereka berendah hati kepada Allah (QS.Ali Imran: 199).

Ayat ini bicara tentang sosok Raja Nashrani yang ketika tekanan dan siksaan kaum kafir Quraisy terhadap orang-orang Islam makin meningkat, Nabi SAW memerintahkan berhijrah ke negeri Rasja tersebut.

Mereka mendapat perlakuan yang baik dan tidak dihalangi menjalankan ibadah, walaupun berbeda dengan agama yang dianut penduduk Habasyah, Nashrani.

Sebaliknya, kaum kafir Quraisy merasa iri dan marah, karena itu mereka bersepakat mengirimkan utusan pada Najasyi sambil memberikan hadiah-hadiah.

Sekaligus meminta agar ia mengusir para muhajirin Muslim tersebut dari negerinya, mengembalikan lagi ke Makkah.

Dengan tegas Najasyi berkata, “Tidak, demi Allah, aku tidak akan mengembalikan mereka sebelum aku berbicara dengan mereka, dan akan kupertimbangkan dengan matang urusan ini.

Sungguh mereka telah datang ke negeriku dan memilih perlindunganku daripada perlindungan orang lain, termasuk kalian…”

Ketika Ja’far bin Abu Thalib dan beberapa sahabat didatangkan menghadap Najasyi, ia menjawab dan menjelaskan panjang lebar tentang Islam.

Najasyi meminta agar dibacakan beberapa wahyu yang diturunkan, Ja’far-pun membacakan permulaan Surah Maryam.

Najasyi dan beberapa uskup di sebelahnya menangis hingga air mata membasahi janggutnya, kemudian ia berkata, “Demi Allah, ini dan apa yang dibawa Musa muncul dari misykah yang sama.

Pergilah kalian berdua!! Aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian..!”

Misykah adalah lubang tempat diletakkannya lampu penerangan, sehingga dari tempat itu cahaya memancar menerangi tempat sekitarnya.

Dengan perkataannya tersebut, sedikit banyak Najasyi telah memberikan pengakuan bahwa Islam adalah agama wahyu, sama seperti halnya agama Nashrani yang dipeluknya.

Ternyata dua orang Quraisy itu tidak mau menyerah begitu saja. Keesokan harinya, mereka menghadap Najasyi, meminta agar mempertanyakan tentang Isa bin Maryam.

Najasyi memenuhi permintaannya, sekali lagi para sahabat itu didatangkan lagi dan diminta menjelaskan pandangan mereka tentang Isa bin Maryam.

Ja’far menjawab, “Kami berkata tentang dirinya, sebagaimana diajarkan oleh Nabi SAW, yakni Isa adalah seorang hamba Allah, RasulNya dan RuhNya.

Sekaligus kalimahNya yang diletakkanNya pada Maryam, seorang perawan suci yang tidak mempunyai syahwat kepada lelaki.”

Mendengar jawaban tersebut, Najasyi memukul tanah dengan tangannya dan mengambil sepotong ranting.

Kemudian berkata, “Demi Allah, Isa bin Maryam tidak melebihi apa yang kamu katakan, walaupun hanya sepanjang ranting ini.

Kalian aman di sini, jika ada orang yang menghina dan mencerca kalian, dia akan menanggung denda. Aku tidak suka seandainya memiliki gunung emas, sedangkan aku menyakiti salah satu dari kalian.”

Sebagian pembesar dan panglimanya tampak tidak senang dengan perkataan Najasyi, mereka mendengus marah.

Najasyipun berkata, “Aku tidak perduli jika kalian marah, kembalikan hadiah yang diberikan oleh kedua orang itu (yakni utusan Quraisy).

Demi Allah, Allah tidak menerima suap dariku ketika Dia memberikan amanat kerajaan ini, karena itu aku tidak perlu menerima suap dalam urusanNya.

Tidak juga Allah menuruti kemauan orang banyak dalam urusanku, sehingga aku tidak perlu menuruti kemauan kalian dalam urusanNya.

Dengan terpaksa mereka mengembalikan hadiah-hadiah tersebut kepada dua utusan Quraisy, dan keduanya keluar dari majelis Najasyi dengan perasaan terhina terhina.

Sikap tegas Najasyi ini ternyata harus dibayar mahal, beberapa orang panglima dan pembesar bersekongkol untuk merebut kekuasaan Najasyi.

Sehingga terjadi pertempuran antara dua kubu. Para sahabat sedih dan khawatir, kalau Najasyi kalah pastilah mereka tidak bisa lagi beribadah dengan tenang.

Merekapun berdoa untuk keselamatan dan kemenangan Najasyi. Zubair bin Awwam dikirim untuk mengamati pertempuran tersebut, dan ia harus berenang menyeberangi sungai Nil.

Setelah menunggu dengan harap-harap cemas, Zubair datang mengabarkan kemenangan pasukan Najasyi, para sahabatpun menjadi tenang.

Pada Dzulhijjah tahun 6 hijriah atau Muharam tahun 7 hijriah, Rasulullah SAW mengirim seorang utusan, yaitu Amr bin Umayyah adh Dhamry untuk menemui Najasyi. Amr membawa tiga misi:

  1. Menyampaikan surat ajakan Nabi SAW kepada Najasyi untuk memeluk Islam.
  2. Menyampaikan lamaran Nabi SAW kepada Ummu Habibah, janda Ubaidillah bin Jahsy yang murtad dan meninggal dalam agama Nashrani.
  3. Mengajak para sahabat yang berada di Habasyah untuk berhijrah ke Madinah. Najasyi wafat pada bulan Rajab tahun 7 hijriah, Nabi SAW sangat bersedih dan melakukan shalat ghaib untuk kewafatannya tersebut.
  • Bagikan