“Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang fasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian” (QS. Al-Hujurat [49]: 6)
Era digital sangat penting peran kita untuk melakukan klarifikasi (tabayyun) terhadap suatu kabar berita merupakan kewajiban bagi kita dalam hidup bermasyarakat. Sebab, terkadang kabar berita yang kita terima, kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Kadang-kadang berita itu hanya berupa isu-isu yang bersifat provokatif dan berita bohong belaka. Klarifikasi merupakan suatu tindakan preventif dalam mencegah terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan dari dampak suatu berita.
Sikap kritis dan kehati-hatian dalam menerima berita, terutama berkaitan dengan orang lain, akan menghindarkan kita dari perbuatan memfitnah dan ghibah (menggunjing). Suatu berita akan menjadi fitnah bagi orang lain jika tidak benar, dan akan menjadi suatu ghibah (gunjingan) jika berita tersebut menceritakan keburukan seseorang.
Disebutkan dalam hadis sahih Rasulullah SAW menerangkan, ”Mengumpat yaitu engkau membicarakan saudara engkau dengan sesuatu yang dibencinya.” Berkata seseorang, ”Bagaimana pendapat engkau jika ada pada saudaraku itu apa yang aku katakan?”
Nabi mengatakan, ”Jika ada pada saudara engkau apa yang engkau katakan, maka berarti engkau mengumpatnya (menggunjingnya), dan jika tidak ada apa yang engkau bicarakan, maka berarti engkau menuduhnya (memfitnahnya)” (HR Ahmad dari Abu Hurairah).
Fitnah dan ghibah merupakan perbuatan yang tercela. Rasulullah saw dengan tegas menyatakan, ”Tidaklah akan masuk Surga orang yang suka memfitnah” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa Allah tidak akan mengampuni tobat seseorang yang menggunjing sampai orang yang digunjingkannya itu memaafkannya
Janganlah kamu membicarakan apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya (QS al-Isra’/17: 36).
Ayat tersebut ada dua kata kunci; berita dan fasiq. Berita tentu saja memiliki nilai urgensi dalam kehidupan manusia. Dan fasiq menunjukkan berita itu disampaikan orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah alias telah bermaksiat. Langkah yang mesti diambil ialah tabayyun.
Terhadap kata “tabayyun” Ath-Thabari memahaminya dengan “Endapkanlah dulu sampai kalian mengetahui kebenarannya, jangan terburu-buru menerimanya…” Dengan demikian, kita akan selamat dari bertindak bodoh, yang tentu saja dampaknya akan sangat buruk dikemudian hari.
Hadis yang akan disebar oleh Mu’az berbunyi: “Tidaklah seseorang yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, melainkan Allah mengharamkan baginya api Neraka”. Rasulullah SAW khawatir hadis tersebut akan disalahartikan jika terburu-buru disebarkan kepada masyarakat.
“Wahai Rasul, tidakkah aku sebaiknya menyebarkan hadis ini kepada umat agar mereka bergembira?” tanya Mu’az tak mengerti. “Jika demikian, maka mereka hanya akan mengandalkan hadis tersebut saja,” jawab Rasul sebagaimana direkam dalam HR. Muslim. Kisah di atas mengajarkan pentingnya tabayyun, bukan saja terhadap kebenaran informasi, tetapi juga kesiapan orang yang akan menerima informasi tersebut.
“Janganlah kamu menceritakan sesuatu kepada suatu kaum sedang akal mereka tidak mampu menerimanya. Karena cerita tersebut (justru dapat) menimbulkan fitnah pada sebagian dari mereka” (H.R. Muslim).
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barangsiapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula)” (QS. an-Nur [24]: 11).
Sikap berhati-hati bisa kita belajar dari spirit Nabi Sulaiman dan burung hud-hud. Ketika burung ini membawa kabar dari Saba`, ibu kota kerajaan Saba’ atau Sabaiyah. Namun Nabi Daud tak langsung menerima tapi berkata: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.”
Begitu pun di zaman digital. Bersikaplah seperti Nabi Sulaiman yang tak langsung percaya dengan kabar, melainkan dengan banyak proses. Dimulai memerintahkan agar burung hud-hud itu menyampaikan surat kepada ratu Balqis itu, serta memperhatikan bagaimana reaksi dan sikap ratu Balqis membaca surat yang dibawanya itu, hingga terbitlah kebenaran yang hakiki. Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq. (Kakankemenag Pidie dan Kandidat Doktor UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.