Subhana Rabbika, “Ka” = Nabi SAW Atau Allah SWT?

Subhana Rabbika, “Ka” = Nabi SAW Atau Allah SWT?

  • Bagikan

Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang Mahaperkasa dari sifat yang mereka katakan. Dan selamat sejahtera bagi para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam (QS Ash Syaffat: 180-182)

Dakwah pembahasan penggunaan ayat QS Ash Syaffat 180: “Subhana Rabbika Rabbil izzati amma yasifun”, adalah “ka” itu bisa “Muhammad SAW” atau “Allah SWT”, bergantung kapan digunakan ayat pada ketika berdoa, atau bukan berdoa yang terlibat kata “rabbika”.

Ternyata masih terus dijumpai didengar dan dilihat di TV atau radio atau oleh penceramah berkhutbah shalat Jum’at, ketika mereka menutup apa-apa yang disampaikan dengan membaca doa, setelah membaca: “Rabbana atina fiddunya hasanah…” disambung dengan: “Subbhana rabbika rabbil izzati amma yasifuun” (Mahasuci tuhan-mu, tuhan dari apa yang mereka sifatkan).

Maka untuk itu, wajib kita harus terus tidak bosan menyampaikan pada pendoa untuk membahas ulang secara jujur berpikir apakah hal itu tidak atau akan terjebak merusak Tauhid. Karena menyekutukan Allah SWT.

Karena menyatakan Allah SWT mempunyai tuhan yang suci ketika digunakan pada doa. Ketahuilah kawan yang baik itu adalah kawan yang saling mengingatkan, bukan kawan yang sering memuji, atau kawan yang tidak perduli atas kesalahan kita.

Pembahasan

Kenapa terjebak menyekutukan Allah SWT, mari kita bahas. Asbabun Nujul (sebab sebab turunnya ayat-ayat Al Qur’an) misalnya QS. Ash Syafaat 180 itu, adalah di mana orang Arab musyrik Quraisy ketika itu, mengejek Nabi SAW dengan mengatakan: “Hai Muhammad! Tuhanmu kawin, punya anak…”

Untuk itu, maka Nabi SAW murung. Maka segera Allah SWT merespons, menurunkan QS. Ash Syafaat 180, yang isinya membantah tuduhan kaum musyrik itu. Setelah turun ayat ini, maka Nabi SAW segar dan bersemangat kembali. Adalah perlu diketahui di mana “Subhana rabbika…” di mana “ka” itu adalah Nabi Muhammad SAW.

Atau misalnya QS. Al Hijr 86: Inna rabbika huwa khallakul alim (Sesungguhnya Tuhanmu Mahapencipta lagi Mahamengetahui). Sangat disesalkan, di antara ulama gunakan ayat QS. Ash Syafaat 180 ini di akhir doa. Setelah baca “Rabbana attina…”

Harus diakui berdoa itu adalah bermunajat (menyampaikan isi hati kita pada Allah SWT). Tidak ada lawan kita bicara, selain Allah SWT. Maka “Subbhana Rabbika…” adalah “Ka” itu Allah SWT di saat berdoa (bermunajat) pada Allah SWT. Dalam hal ini yang berdoa menyatakan tuhan (Allah SWT) itu mempunyai tuhan, bukan Muhammad SAW lagi yang mempunyai tuhan yang suci.

Maka berakibat artinya: Allah SWT itu mempunyai tuhan yang suci. Maka berakibat ada sekutu Allah SWT (tuhan dari tuhan yang juga suci). Berarti terjebak merusak Tauhid, jadi musrik atau syirik. Penyebab berubahnya “Muhammad SAW” yang mempunyai Tuhan menjadi “Allah SWT” yang mempunyai tuhan dalam ayat itu, ada gara-gara kata “Rabbi-ka”.

Sebenarnya bila yang berdoa hendak menyucikan Allah SWT, masih ada ayat pilihan yang tepat yaitu: QS Ash Syaffat 159: Subhanallah amma yasifun (Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan). Atau Menurut HR. Bukhari, Muslim: Nabi SAW sering menggunakan ayat ini ketika berdoa: QS. Ali Imran ayat 191: Subbhanaka, faqina azabannar (Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari azab Neraka).

Mungkin ada yang berkomentar: Ada hadisnya di mana Nabi SAW membaca ayat itu ketika berdoa. Itu bohong! Nabi SAW membaca ayat itu, bukan ketika Nabi SAW berdoa, tapi ketika Beliau SAW berpamitan meninggalkan pertemuan dengan Sahabat.

Begitu pun dinyatakan oleh ulama adalah hadisnya lemah, palsu. Seandainya pun bukan lemah, tapi di mana “kamu” di ayat itu, bukan Allah SWT, tetapi “mu” di situ adalah Sahabat ketika Nabi SAW berpamitan. Berarti Nabi SAW bicara pada Sahabat, bukan berdoa, bukan bicara pada Allah SWT.

Bandingan, ada ayat QS. Al Anbiyaa: 69: Qulna yaa naa rukuni bardang wassalaamaan ala Ibrahim (Tuhan berfirman! Hai api! Jadilah kamu sejuk dan selamat sejahtera bagi Ibrahim!).

Menjadi pertanyaan, apakah firman Allah SWT ayat QS Al Anbiya itu akan kita gunakan (baca) sebagai doa ketika api kebakaran?

Ayat itu adalah ucapan Allah SWT untuk membuat api menjadi sejuk, membuat Ibrahim as merasa sejuk. Berarti tidak sembarangan kita menggunakan ayat Al Qur’an! Mungkin ada pertanyaan: Ketika shalat (bermunajat kepada Allah SWT), kita baca ayat itu, apakah boleh?

Jawabnya boleh! Ketika shalat kita hanya ditugaskan membaca ayat (Al Qur’an). Jadi bukan bentuk ayat itu pilihan kita, tapi kita baca sebagai mengulangi firman Allah SWT sebagai ayat dalam Al Qur’an. Adalah berbeda ketika berdoa, dimana kita ambil, kita pilih ayat Al Qur’an yang cocok atau untuk menyampaikan isi hati kita pada ketika berdoa, bicara pada Allah SWT. Tentu kita pilih yang isinya tidak menyekutukan Allah SWT.

Pertanyaan misalnya, apakah Anda pilih ayat Al Qur’an yang isinya: “Aku yang menjadikan langit dan bumi”? Atau pun ayat Al Qur’an yang isinya “Jangan Engkau dekati zina”, di mana kita hadapkan ayat tersebut pada Allah SWT ketika berdoa? Seperti QS. Al Anbiya: 69 di atas (Hai api dinginlah, padamlah engkau api), kita gunakan ketika kebakaran? Tentu tidak boleh, salah penempatan.

Suatu pertanyaan lagi dan imbauan kepada di antara ulama dan ustadz yang berdoa: Bila pembahasan saya ini salah, tolong berikan tanggapan, tunjukkan kesalahannya, tunjukkan argumentasi bolehnya QS. Ash Syaffat: 180 itu dipakai untuk berdoa, (terhindar dari menyekutukan Allah SWT). Membiarkannya, bila syirik semua kita akan berdosa dituntut di Akhirat nanti, masuk Neraka.    WASPADA

Dokter Spesialis

  • Bagikan