Spiritualitas Dalam Menjaga Imunitas

Spiritualitas Dalam Menjaga Imunitas

  • Bagikan

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruk-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari buruk-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (QS.al-Hujuraat: 12)

Kehampaan spiritual, keringnya jiwa dari kehidupan rohani menjadi sebab sakitnya mental dalam jiwa manusia, dapat menyebabkan munculnya berbagai penyakit hati yang menjadi faktor pendorong timbulnya penyakit fisik, akibat menurunnya imunitas.

Di tengah pandemi Covid-19 ini sangat diperlukan imun yang kuat dan stabil, dengan mematuhi Prokes secara benar dan penuh kesadaran, pola hidup sehat, terutama dengan  membangun dan memelihara kehidupan spiritual untuk menjaga imunitas.

Ibnu Sina-Pakar kedokteran Muslim-, pernah mengatakan bahwa dalam menghadapi suasana wabah seperti saat ini dengan pendekatan spiritualitas, “Kepanikan adalah separuh penyakit, Ketenangan adalah separuh obat dan kesabaran adalah permulaaan kesembuhan…”.

Orientasi hidup manusia yang sangat materialistik telah membuatnya mengabaikan nilai-nilai spiritual yang sebenarnya sangat dibutuhkan. Manusia akhirnya mengalami keterasingan jiwa atau mengalami alienasi diri (self alienation).

Salah satu fenomena yang sangat terang berkenaan dengan hal ini adalah fakta bahwa era modern di tengah pandemi ini telah menimbulkan kecemasan, ketakutan, penderitaan, egoisme, depresi, dan kegelisahan. Sebab-sebab kegelisahan itu dapat diklasifikasi menjadi empat macam.

Pertama, karena takut kehilangan apa yang dimiliki; kedua, timbulnya rasa khawatir terhadap masa depan yang tidak disukai (trauma akibat imajinasi masa depan); ketiga, rasa kecewa terhadap hasil kerja yang tidak mampu memenuhi harapan dan kepuasan; dan keempat banyak melakukan pelanggaran dan dosa.

Problema-problema kejiwaan yang dialami masyarakat modern tersebut bukan saja berakibat pada munculnya berbagai penyakit mental, moral, dan sosial, bahkan juga menjadi salah satu faktor pendorong timbulnya gangguan-gangguan kesehatan pada fisiologi manusia yang berujung pada penyakit-penyakit fisik, seperti jantung, hipertensi, diabetes, kolesterol, stroke, asam urat, lever dan lain sebagainya.

Di sinilah sangat diperlukan nilai-nilai spiritualitas dalam menjaga imunitas, diantaranya adalah; Pertama, Zikrullah. Zikir-mengingat Allah SWT-, baik secara lisan maupun dengan batin memiliki manfaat besar bagi kehidupan seseorang, terutama sebagai imun dalam kehidupan saat ini.

Ada beberapa manfaat yang bisa diperoleh sebagai Psikoterapi melalui berzikir, yaitu: memantapkan iman, memperkuat energi akhlak, terhindar dari bahaya, sebagai terapi jiwa, serta yang tak kalah penting adalah sebagai terapi fisik.

Zikir dapat mengembalikan kesadaran seseorang yang hilang, sebab aktivitas zikir mendorong seseorang untuk mengingat, menyebut kembali hal-hal yang tersembunyi dalam hatinya. Zikir juga mampu mengingatkan seseorang bahwa yang membuat dan menyembuhkan penyakit hanyalah Allah SWT semata.

Sehingga zikir mampu memberi sugesti penyembuhannya. Melakukan zikir sama halnya dengan terapi relaksasi, yaitu satu bentuk terapi dengan menekankan upaya mengantarkan seseorang bagaimana cara ia harus beristirahat dan bersantai-santai melalui pengurangan ketegangan atau tekanan psikologis.

Eksistensi fisik merupakan ekspresi dari keadaan jiwa, ketika fisik terluka maka jiwa akan merasakan perih luka itu. Misalnya luka sayatan yang ada di fisik akan mengganggu ketenangan jiwa.

Kesehatan fisik dan kesehatan mental manusia ternyata memiliki keterkaitan, misalnya stres, ternyata tidak hanya mengganggu jiwa, tetapi juga dapat mengganggu susunan saraf, menimbulkan gangguan pencernaan, marah menyebabkan sistem imun mengalami depresi, dan sebagainya.

Dengan demikian, jelas pula bahwa sakit bukan hanya karena campur tangan Tuhan, tetapi karena kesalahan yang diperbuat manusia itu sendiri. Di sini peran zikir memberikan kontribusi yang besar dalam menstabilkan jiwa manusia, zikir dapat mendamaikan jiwa manusia yang stres menjadi tenang, kecemasan menjadi rasa aman, takut menjadi berani, dapat membuat hati menjadi tenang sehingga bernapas jadi teratur, bahkan dapat menimbulkan gelombang otak yang merasa damai dan tenang.

Dapat kita simpulkan fungsi preventif dari zikir, yaitu mencegah untuk berperilaku menyimpang. Sedangkan fungsi kuratifnya berzikir dapat mengobati penyakit jasmani maupun rohani serta dapat memecahkan masalah individu, keluarga, dan sosial, fungsi preservatif berbekal diri dekat dengan Allah SWT dan selalu mengingat-NYA.

Maka pengamal zikir akan memahami situasi dan kondisi yang dihadapinya. Zikir juga dapat menyembuhkan penyakit mental seseorang  karena adanya alunan nada yang bervariasi dalam setiap ritual zikir sehingga gelombang suara yang lahir dari zikir terasa indah hingga ke otak membuat pikiran pun jadi tenang.

Sama halnya ketika mendengarkan musik jiwa terasa tenteram dan damai, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS.ar-Ra’d : 28).

Kedua, berpuasa. Kesehatan prima haruslah sehat jasmani (fisik), nafsani (kejiwaan) dan rohani (spiritual), mengingat manusia terdiri dari tiga elemen tersebut. Menurut ahli gizi dan nutrisi bahwa puasa merupakan metode yang efektif dan aman untuk detoksifikasi tubuh manusia yang telah digunakan selama berabad-abad untuk menyembuhkan orang sakit.

Puasa membantu tubuh menyembuhkan dirinya sendiri dengan mengistirahatkan semua organ tubuh. Puasa dapat membantu membalikkan proses penuaan jika kita melakukannya dengan benar, dan merasa hidup bahagia.

Sistem kekebalan tubuh akan meningkat jika puasa dilakukan dengan teratur. Puasa jika ditinjau dari segi kesehatan adalah membersihkan usus-usus, memperbaiki kerja pencernaan, membersihkan tubuh dari sisa-sisa dan endapan makanan, dan mengurangi kelebihan lemak di perut.

Apa pun pelaksanaan dan penamaan puasa, bila puasa dilakukan dengan niat yang tulus, maka tidak akan mungkin membuat manusia yang mengerjakannya celaka. Bahkan dunia medis mampu membuktikan betapa puasa memberikan efek yang baik bagi tubuh, terutama untuk mengistirahatkan organ pencernaan.

Dalam tubuh manusia terdapat parasit-parasit yang menumpang hidup, termasuk menumpang makan dan minum. Dengan menghentikan suplai makanan, kuman-kuman penyakit, bakteri-bakteri, dan sel-sel kanker tidak akan bisa bertahan hidup.

Mereka akan keluar melalui cairan tubuh bersama sel-sel yang telah mati dan toksin. Dengan demikian, pengaruh puasa terhadap kesehatan jasmani selain aspek pengobatan yang sangat signifikan ialah aspek pencegahan dan aspek perlindungan, sehingga jasmani tetap sehat dengan imunitas yang kuat.

Ketiga, Membangun kesolehan sosial melalui semangat berbagi dalam bentuk zakat, infaq, shadaqah, hibah dan sebagainya. Ketika kita bisa memberikan rasa bahagia kepada orang lain, dengan memberikan segala sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, sesungguhnya hal itu juga membuat hati kita menjadi tenang dan bahagia, saat itu pula imunitas kita bertambah kuat dan menjadikan kita sehat.

Allah SWT berfirman dalam Alquran, Artinya : “Artinya: Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan (QS. At Thalaq: 7).

Dalam sebuah Hadis disebutkan juga, “Barangsiapa mendatangi saudaranya dan membawakannya sesuatu yang disukainya dengan maksud untuk menggembirakannya, maka dengan sebab itu ia juga akan digembirakan Allah di hari Kiamat” (HR.at.Thabroni).

Keempat, menjaga silaturrahim, membangun persaudaraan yang harmonis. Karena permusuhan akan mengakibatkan terganggunya ketenangan jiwa yang berdampak imunitas menurun. Seperti dendam yang berakibat imun menjadi mati, mudah tersinggung yang mengakibatkan insomnia-sulit tidur.

Sebaliknya persahabatan yang harmonis itu akan mendatangkan ketenangan, kebahagiaan dan menguatkan imunitas. Sejatinya senantiasa membangun nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang terhadap sesama, saling menyayangi, saling membela, saling membantu, bukan malah saling dendam, saling mengejek, memfitnah dan menzalimi.

Kelima, Selalu bersyukur kepada Allah SWT dengan cara memaksimalkan pendayagunaan setiap nikmat tersebut di jalan yang benar dan selalu mencari Ridho Allah SWT. Nasehat Saidina Ali bin Abi Thalib, “Apabila engkau telah diberi dan merasakan nikmat Allah SWT, maka jagalah dan manfaatkan nikmat itu dengan baik, karena menyalahgunakan nikmat tersebut akan menyebabkan nikmat itu sirna dan lenyap darimu.”

Di dalam Alquran disebutkan. “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterimakasih” (QS.Saba : 13). Orang yang selalu bersyukur, Allah SWT akan menambah dan mendatangkan nikmat yang lain kepadanya, dan selalu merasa bahagia, dan ini juga yang menguatkan imunitas, tetapi orang yang tidak bersyukur, menyalahgunakan nikmat dalam perbuatan dosa, selalu berkeluh kesah.

Apalagi suka melihat dan membandingkan nikmat yang ada pada orang lain, akan mengakibatkan kegelisahan, kebencian, kedengkian dan permusuhan. Sehingga jiwa tersiksa, susah tidur, makan juga tidak terasa nikmat lagi, akibatnya imun menurun, pencernaan terganggu sehingga fisik pun bisa menjadi sakit.

Keenam, meyakini selalu ada jalan kemudahan dari Allah SWT dibalik berbagai kesulitan. Itulah yang disebut Ar-rojaa’, sikap optimis dan semangat yang tinggi. Bahwa badai akan berlalu, memiliki daya tahan yang tangguh dalam menghadapi berbagai kesulitan.

Tetapi diiringi daya juang yang tinggi, berani dalam menghadapi berbagai kesulitan itu, dengan segala usaha, doa dan penyerahan diri secara totalitas kepada Allah SWT. Ini akan menjaga imunitas di dalam tubuh,

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung” (QS.At-Taubah : 129).

Ketujuh, selalu tersenyum, wajah yang berseri-seri, apalagi saat berjumpa dengan sesama, tidak bermuka masam atau memalingkan pipi. Nabi SAW bersabda, “Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun juga walau saat engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri” (HR. Muslim).

Tersenyum juga dapat meningkatkan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Senyuman yang tulus bisa membantu sistem kekebalan tubuh manusia berfungsi lebih efektif, dengan adanya rasa rileks dan bahagia. Semoga pendekatan spiritualitas ini dapat kita amalkan dalam upaya menjaga imunitas.

Guru Besar Fakultas Ushuluddin Dan Studi Islam UIN SU

  • Bagikan