Siksa Kubur Bukan Di Liang Lahat ?

Siksa Kubur Bukan Di Liang Lahat ?

  • Bagikan

Ada keyakinan di antara orang Islam, ruh seorang yang telah wafat masih bisa “mondar mandir” ke bumi liang lahat (untuk di tanyai) atau ke rumahnya melihat apakah keluarganya yang ditinggalkan mengadakan tahlilan (menghadiahkan mengirim pahala) atau apakah lupa pada dirinya. Dan ada keyakinan bahwa ada siksa kubur di liang lahat kuburan. Hal ini akan kita bahas.

Sesungguhnya siksa kubur itu ada, tapi bukan di liang lahat, tapi di alam barzah. Orang yang meyakini selama ini siksa kubur itu ada di liang lahat, dihimpit dengan tanah, dipalu godam dengan batu besar sehingga remuk sekujur tubuhnya, menjerit kesakitan, yang katanya hal ini terjadi setelah 7 langkah orang yang mengantarnya ke kuburan meninggalkannya. Siksaan itu akibat tidak dapat menjawab benar pertanyaan malaikat Nungkar dan Nakir, di tanya : siapa Tuhanmu, siapa Nabimu, apa Kitabmu, dsb. Hal ini diriwayatkan oleh H R Muslim. Namun Hadis ini syahih, di mana sanad dan rawinya terpercaya, tetapi matannya (materinya, isinya) bertentangan dengan nash (hukum) yang lebih kuat kebenarannya, yaitu Al Qur’an. Di mana Al Qur’an sifat kebenarannya Qathi (mutlak tidak diragukan kebenarannya). Di mana untuk itu sebagai bantahannya yaitu :

Pertama: Di mana seseorang telah wafat kita berucap “Inna lillahi wa inna illaihi rojiun = Sesungguh nya kami dari Allah dan kembali kepada Allah”. Jadi Al Qur’an menyatakan setelah seseorang wafat maka ruhnya secepat kilat kembali ke hadapan Allah SWT, disimpan di alam barzah menunggu hari kiamat dan tidak bisa kembali lagi ke bumi atau ke liang lahat kuburannya, karena antara bumi dengan alam barzah ada dinding yang sangat tebal yang tidak bisa ditembus atau dilewati oleh ruh. Jadi kenapa ada keyakinan ruh si mayat masih ada atau kembali ke liang lahat (kuburan) untuk ditanyai (disiksa)?. Hal ini di bantah oleh QS Al Mukminun 99-100, di mana Allah menyatakan : “(demikianlah orang orang kafir), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata : ya tuhan ku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh. Terhadap yang aku telah tinggalkan. Sekali lagi tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (barzah) sampai hari mereka dibangkitkan”.

Kedua: Sebagai argumentasi membantah siksa kubur itu ada tapi bukan di liang lahat, iyalah : Seperti kita sudah maklum, hisab atau pengadilan baru akan terjadi setelah semua manusia nanti dibangkitkan hidup kembali di akhirat (padang mahsar). Jadi tidak ada kehidupan kembali di liang lahat untuk ditanyai dan disiksa.

Ketiga: Sebagai argumentasi bantahan selanjutnya, adalah tidak ada keterangan bahwa Allah menghidupkan mayat di liang lahat dan tidak ada menyatakan kemampuan malaikat Nungkar dan Nakir dapat menghidupkan yang sudah wafat di liang lahat.

SIKSA KUBUR DI MANA ?

Kalau begitu menjadi pertanyaan, apa sesungguhnya ada atau tidak ada siksa kubur itu ?. Dan kalau ada di mana terjadinya ?.

Jawab nya : Seperti sudah kita yakini siksa bagi seseorang setelah wafat, sesungguhnya ada di akhirat nanti setelah dihisab. Yang berdosa dikecemplungkan ke neraka. Tapi siksa di liang lahat tidak ada. Memang  ada siksa di alam barzah sebagai yang disebut “siksa kubur” secara pasif. Tentu anda bertanya : “Tapi hisab belum ada, bagaimana diketahui siapa yang salah (berdosa) atau siapa yang benar (tidak berdosa) dan bagaimana cara penyiksaannya ?. Apakah pakai api atau palu godam ?.

Jawab nya : Siksa kubur itu ada terjadi di alam barzah, tapi bukan dipalu godam atau dibakar dengan api atau dihimpit tanah, setelah ditanyai oleh Nungkar dan Nakir setelah tidak mampu menjawab pertanyaan secara benar. Adalah di alam barzah ditayangkan sebangsa “tv” yang dipertontonkan pada penghuni alam barzah. Tayangan itu berupa neraka yang apinya menyala nyala seperti lahar (kawah gunung berapi).

Maka bagi mereka orang kafir dan yang tidak menjalankan perintah Allah di dunia, melihat ini yang selama hidupnya teringat penuh berbuat dosa, akan terbayang padanya, aku juga akan seperti mereka kelak nasibnya, maka batinnya akan menerima siksa secara pasif seperti yang dipertontonkan itu. Akan begitulah aku nanti dibakar di neraka jahannam. Sehingga dengan secara tak langsung ia sendiri telah menghakimi menghukum dirinya atas kesalahannya selama ini di dunia akan menerima ganjaran yang pedih, sakit seperti yang dipertontonkan di “tv” itu, di mana batinnya merasa menderita.

Sebagai rujukan keterangan di atas dinyatakan oleh Allah SWT melalui QS Al Mukmin 46 :“Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang dan pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan kepada malaikat) : “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”.

Jadi dari QS Al Mukmin 46 ini jelas dan tegas Allah menyatakan orang-orang yang berdosa/kafir adalah sebenarnya belum dihisab (ditanyai) di liang lahat dan tidak atau belum ada siksa atau azab yang keras di liang lahat.

Jadi yang benar adalah setelah mereka berada di alam barzah barulah kepada mereka ditampakkan gambaran orang yang berdosa di neraka disiksa pagi dan petang. Dan ditunjukkan juga pada hari kiamat Allah secara eksplisit, Allah mengatakan pada malaikat agar memasukkan Fir’aun dan pengikutnya ke neraka. Jadi di alam barzah mereka hanya mengalami siksa jiwa dalam batinnya dalam bentuk teror mental. Sehingga ketakutan dan meminta dikembalikan ke dunia agar memperbaiki amalannya. Dan Allah menolak permintaan mereka.

Jadi tulisan ini mengkoreksi membantah keyakinan adanya siksa di liang lahat (siksa kubur), tapi sesungguhnya siksa itu ada di alam barzah secara pasif. Mungkin ada yang berkata : “Kok repot, ada atau tidak ada, dan di mana siksa kubur, ya masa bodo !?. Jawabnya : Meyakini ada siksa kubur di liang lahat segera setelah 7 langkah pengantar meninggalkan kuburan dan diyakini akan ditanyai dan disiksa bila jawabnya tidak benar, maka timbullah amalan talqin (mengajari) di kuburan. Ini merusak tauhid (akidah) dan berbuat amalan bid’ah (sesat). Kemudian bila meyakini ruh yang wafat bisa mundar-mandir ke bumi (ke liang lahat dan ke rumahnya) maka timbul amalan tahlilan menghadiahkan atau mengirim pahala pada yang sudah wafat. Padahal kita sudah mengucapkan : “Inna lillahi wa inna illaihi rojiun” = “Sesunguhnya kami dari Allah dan kembali kepada Allah”.

PENUTUP

Tulisan saya ini rujukannya adalah dari pembahasan pada kitab “TAK ADA AZAB KUBUR ?” oleh Agus Mustofa, lahir di Malang 16 Agustus 1963. Ayahnya : Syech Djapri Karim, seorang guru tarekat tasawuf. Tahun 1982 Agus Mustofa menuntut ilmu di Fakultas Teknik, jurusan Teknik Nuklir, Universitas Gajah Mada, di Jogja. Waspada

Penulis Adalah Dokter Spesialis

  • Bagikan