Sidang Istbat Mubazir Dan Lelucon ?

Sidang Istbat Mubazir Dan Lelucon ?

  • Bagikan

 “Kami jadikan malam gelap gulita dan siang terang benderang agar kamu mengetahui bilangan tahun dan hisab’” (QS Al Isra’: 12)

Suatu pertanyaan yang harus dipertanyakan: Benarkah adanya sidang istbat ke I dan ke II perlu dibuat atau bisakah disebut menjadi lelucon dan mubazir? Pertanyaan itu rasional, kenapa tidak? Kalaulah dilakukan sidang istbat I untuk menetapkan hasil rukyah apakah hilal sudah muncul (berada) di atas ufuk atau belum untuk mengetahui 1 Ramadhan?

Padahal oleh ahli ilmu falaq (hisab) sudah diketahui adanya hilal sudah berada 3 derajat di atas ufuk. Tapi kenapa masih diusahakan merukyah untuk mencari hilal? Adapun memaksakan diri melakukan rukyah dengan alasan mengikut petunjuk (Sunnah) Nabi SAW.

Tetapi kenyataan kenapa tidak jujur menjalankan petunjuk Nabi SAW, dimana rukyah Nabi SAW dulunya hanya dengan mata telanjang. Sedangkan rukyah sekarang dengan bantuan teropong, dimana kemampuan rukyahnya sangat berbeda, yaitu dengan mata telanjang hanya mampu melihat hilal yang berada minimal 6 derajat diatas ufuk.

Sedangkan pakai teropong bisa mampu melihat hilal 2 derajat diatas ufuk. Maka Allah SWT untuk mengatasi hal di atas, Allah SWT memberi peluang dengan cara lain yaitu hisab, untuk mengetahui apakah hilal sudah muncul diatas ufuk atau belum. Rujukannya sesuai QS Al Isra’ 12, Allah SWT menyatakan : “Kami jadikan malam gelap gulita dan siang terang benderang agar kamu mengetahui bilangan tahun dan hisab’”.

Adalah secara tidak sadar, beraninya orang sekarang melaksanakan rukyah dengan dibantu teropong, menandakan rukyah itu hanya cara (bukan bentuk ibadah, seperti wudhu memulai shalat)—untuk mengetahui posisi hilal apakah sudah di atas ufuk atau di bawah ufuk. Berarti rukyah itu hanya “cara”, bukan bentuk ibadah yang harus diamalkan mengetahui posisi hilal.

Kemudian untuk membolehkan kita tidak menggunakan rukyah cukup bila sudah “mengetahui” adanya hilal di atas ufuk tak perlu ru’yah. Rujukannya QS Al Baqarah 185, Allah SWT menyatakan: “Faman syahida mingkumus syahro fal ya sumhu/Apabila di antara kamu mengetahui (sudah masuk) Ramadhan maka berpuasalah”.

Kemudian karena QS Al Isra’ 12 di atas yang memberi peluang cara hisab untuk mengetahui posisi hilal. Maka untuk lebih akurat, lebih hemat, lebih tidak timbul kegaduhan maka untuk menggantikan rukyah hilal. Karena sekarang ilmu falaq (hisab) telah berkembang canggih.

Alangkah baiknya para profesor, Dr, dr, Drs, MA, Kiyai meminta kepada pemerintah untuk mengetahui hilal tidak lagi menggunakan ru’yah, tapi menggunakan hisab.

Sidang Istbat II

Kemudian terjadi lagi sidang istbat II untuk menentukan 1 Syawal (Hari Raya Idul Fitri). Padahal sebenarnya dengan bantuan ahli ilmu falaq (ilmu hisab) maka sudah diberitakan hilal masih berada misalnya 3 derajat atau 2 derajat atau 1 derajat di bawah ufuk. Namun kenapa masih dilakukan rukyah dan juga sidang istbat untuk menentukan 1 Syawal?

Apakah ini bukan suatu lelucon lagi? Atau perbuatan mubazir? Janganlah seperti kata pepatah: “Sudah gaharu cendana pula, sudah tahu bertanya pula”. Mungkin hal itu dianggap boleh-boleh saja, karena modalnya hanya “air liur” dan untuk baso basi.

Tapi adanya sidang istbat menimbulkan kegaduhan, ibu-ibu kalang kabut untuk menyediakan keperluan Hari Raya kalau karena tidak ada kepastian kalau kenyataan hari raya terjadi lebih cepat dari dugaan. Kemudian ada akibat yang fatal dengan penggunaan rukyah, dimana seandainya terjadi gagal merukyah hilal gara gara terlindung awan maka berarti besoknya belum 1 Syawal (Hari Raya Idul Fitri), dimana puasa masihdi lakukan hari besoknya.

Padahal (dengan bantuan ilmu hisab) sudah diketahui besoknya sudah 1 Syawal (hilal sudah muncul di atas ufuk), tentu kita ini diancam berdosa. Karena sudah tahu 1 Syawal, tapi kenapa masih puasa?

Adalah kejadian seperti ini kalaulah Nabi SAW gagal melihat hilal karena terhalang awan, maka Nabi SAW masih terus puasa besoknya (padahal hilal misalnya sudah 2 derajat diatas ufuk). Tapi Nabi SAW tidak mengetahui hal itu, karena dimasa itu laporan ahli hisab belum ada (ilmu hisab belum berkembang) seperti kita sekarang. Maka Nabi SAW tidak berdosa, meski masih puasa padahal hilal sudah misalnya 2 derajat di atas ufuk.

Apakah menghindari semua hal hal diatas itu, sudah waktunya, sewajarnya para Profesor, DR, dr, Drs, MA, kiyai untuk hijrah dari cara rukyah kecara hisab? Adalah hal ini lebih efektif, akurat, tenang, adanya kepastian atau tidak menimbulkan perbuatan lelucon, tidak menunjukkan kebodohan, tidak menimbulkan kegaduhan atau tidak membodohi umat?

Marilah kita tinggalkan sifat sifat taqlid (buta=tidak tahu kenapa dan mengapa, atau sudah tahu kenapa dan mengapa tapi desakan sifat fanatik, atau mempunyai pemikiran yang beku). Karena seandainya kesalahan yang terjadi merupakan dosa, maka orang yang mengikut yang salah itu akan berdosa. Tapi juga dosa pengikutnya akan terus mengalir kepada yang diikut oleh pengikutnya.

Apakah tidak takut dosa Anda akan bertambah (datang) kepada Anda seperti air bah atau banjir bandang?    WASPADA

 

  • Bagikan