Waspada
Waspada » Sibuk Harta & Keluarga
Al-bayan Headlines

Sibuk Harta & Keluarga

Oleh Abdul Hakim Siregar

“…Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami. Mereka mengucapkan sesuatu dengan mulutnya apa yang tidak ada dalam hatinya…” (QS. Al-Fath: 11).

Sibuk karena harta dan keluarga menjadi alasan dominan. Alhasil, kita membuat dalih kesibukan sebagai kemunafikan belaka. Kalau berada di tengah keluarga kita sedang berlagak sangat dibutuhkan di tempat kerja. Padahal karier dan sumbangsih kita hampir nol dan nihil dalam profesi.

Begitu kita sampai ke tempat kerja, kita pun berperilaku sebagai orang yang punya perhatian dan cinta ekstremis pada keluarga sehingga harus cepat pulang sebab keluarga sedang merindukan kehadiran kita? Padahal, hubungan yang terbina hanya dilandasi kebohongan dan kemunafikan?

Dalam konteks ayat di atas, banyak orang berbaiat (berjanji setia) kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu sebagian yang tidak turut baiat di Hudaibiyah dan tetap tinggal di Madinah beralasan sibuk dengan harta dan keluarga.

Perjanjian Hudaibiyah ialah kaum Muslim berangkat ke Makkah tanpa senjata melaksanakan ibadah umrah. Namun karena kaum Quraisy menghadang rombongan umrah itu di wilayah Hudaibiyah.

Apalagi sebelumnya dua pihak terlibat perang, Makkah anti terhadap kaum Muslim Madinah. Sehingga Makkah menolak kehadiran kaum Muslim, apapun alasannya.

Ketika itulah dua pihak bertemu dan mengadakan perjanjian Hudaibiyah. Beberapa rumusan isi perjanjian Hudaibiyah tampak lebih menguntungkan pihak Makkah, tetapi juga sangat menguntungkan kaum Muslimin.

Setidaknya ada gencatan senjatan 10 tahun dalam dokumen diplomasi itu. Alhasil, itulah akhirnya kelak menjadi Fathul Makkah, pembukaan Kota Makkah bagi kaum Muslim dan dan bahasa militer: penaklukan Kota Makkah.

Kembali kepada pembicaraan di atas, sebagian orang Badui yang tinggal di Madinah tidak turut ke Hudaibiyah menyampaikan uzur (halangan) hadir karena mereka disibukkan dengan harta dan keluarga. Karena itu, mereka memohon izin atau maaf kepada Nabi Muhammad SAW, tidak dapat hadir.

Tapi Tuhan membongkar kemunafikan mereka dengan argumen: “Mereka mengucapkan secara lisan atau mulut mereka, sesuatu yang berbeda di hati mereka.” Meskipun dalam konteks ayat tersebut tertuju pada sebagian Badui yang bersifat munafik terhadap nabi, bisa jadi dalam perkembangan selanjutnya kini sifat dan watak kemunafikan menyelimuti kita?

Bukankah ada di antara kita yang menjadikan harta, pekerjaan, keluarga, dan lainnya sebagai alasan kesibukan? Pada saat kita dibutuhkan pada acara atau tempat tertentu, kita beralasan tidak bisa hadir karena pekerjaan atau keluarga? Padahal sesungguhnya pekerjaan dan keluarga yang kita alaskan tidak begitu mendesak bagi kita?

Beberapa orang menasihati agar menyeimbangkan keluarga dan pekerjaan. Akhirnya, harus mengakui kalau salah satunya mau tidak mau harus agak terabaikan. Misalnya bisnisman lebih mengutamakan pekerjaan dan sedikit mengabaikan keluarga.

Sebaliknya petani di desa barangkali intentitas hubungan keluarganya permanen. Tapi akibatnya terus diterpa kemiskinan. Itulah di antara konsekuensi dari sebuah kesibukan pada pekerjaan dan hubungan keluarga yang harus ditanggung.

Masalah yang paling dasar di dalamnya muncul kemunafikan karena alasan sibuk menyangkut harta, pekerjaan, dan keluarga? Demikianlah kadang kemunafikan melingkupi harta, pekerjaan, dan keluarga. Di dalamnya, kita banyak membuat alasan pembenaran sibuk. Padahal sebenarnya tidaklah begitu penuh kerja atau di keluarga?

Mungkin karena alasan serupa itulah salah satu info pada profil WhatsApp: “sibuk?” Sibuk berarti banyak pekerjaan. Maka kita pun ingin memberitahukan kepada semua orang bahwa kita sedang sibuk? Padahal, bisa jadi hal info sibuk itu hanyalah sebuah kemunafikan?

Banyak orang mengutamakan keluarga. Padahal dia aparatur negara membuat pernyataan bahkan sumpah jabatan mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan lainnya. Meskipun dalam realitas pekerjaan pemerintahan, sering lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan keluarga daripada kepentingan negara dan rakyat?

Begitulah alasanologi kesibukan, malahan membuat kita semakin munafik, sikap mendua. Berbeda lisan dengan apa yang ada dalam hati, motif, niat, dan inginkan?

Jadi, kesibukan pada harta, keluarga, pekerjaan, dan lainnya bisa jadi hanyalah kedok kemunafikan dalam diri sebagaimana sebagian kaum Badui dulu absen ke Hudaibiyah. Namun, akhirnya beberapa di antaranya mengingkari dengan berbagai alasanologi.

Untuk alasan serupa kita mengajukan maaf atas uzur yang kita buat padahal hanyalah kemunafikan. Semoga saja kita menyibukkan diri dengan amal ibadah secara ikhlas kepada Tuhan ketika dalam mencari harta, pekerjaan, dan keluarga. Bukan malah menjadikan semua amal dan pekerjaan serta keluarga sebagai alasan sibuk dan lahan ajang kemunafikan.   WASPADA

(Guru MAN IC Tapsel)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2