SHALAT Sebagai Mikraj Orang Beriman

  • Bagikan

Kendati peristiwa mikraj hanya dialami oleh Nabi Muhammad Saw, namun tidak menutup peluang umatnya dapat menghayati maknanya. Hal ini tergambar pada sabda Nabi Muhamamd Saw bahwa “shalat adalah mikrajnya orang beriman” (ash-shalatu mi’rajul mukmin), sebagaimana judul di atas.
Hadits ini memberi panduan (guidance) jika ada keinginan untuk nenaik (mikraj, taraqqi) kepada Tuhan, yaitu dengan melaksanakan shalat.

Sebagaimana dimaklumi bahwa shalat adalah aktifitas hati (rukun qalbi), aktifitas anggota badan (rukun fi’li) dan aktifitas lidah (rukun qawli). Shalat yang sempurna haruslah terintegral di dalamnya ketiga aktifitas tersebut
Namun jika menelisik lebih jauh, makna terdalamnya ialah ingat kepada Allah, sesuai kata al-Qur’an pada surat ..”aqimish-shalata lizikriy, kerjakanlah shalat untuk mengingat-Ku”. Saat mengingat itulah, pelaku shalat harus konsentrasi penuh, dan saat itulah proses mikraj berlangsung, yang dalam teori Insan Kamil disebut dengan “taraqqi”, yaitu spiritual manusia menaik mendekat kepada Allah (taqarrub ila Allah).


Namun kata Imam al-Ghazali dan sufi aliran Baghdad lainnya, kedekatan itu hanyalah sebatas “kesadaran rohani” (wahdatusy-syuhud), tidak sampai pada kedekatan substansial (wahdatul wujud), sebagaimanan dianut oleh para sufi aliran Isfahan, Iran, seperti Abu Yazid al-Busthamiy, Al-Hallaj dan Ibn ‘Arabi. Menurut Abu Yazid al-Busthamiy, kedekatan bisa dalam bentuk ittihad, yaitu lahut manusia bersatu dengan nasut Tuhan.

Atau menurut Al-Hallaj dalam bentuk hulul, yaitu nasut Tuhan bersatu dengan lahut manusia. Sedangkan menurut Ibn ‘Arabi, kedekatan sampai pada titik substansial, yang disebutnya dengan wahdatul wujud.
Namun ketiga teori ini tidak terjebak pada aliran panteisme, karena yang bersatu hanya lahut manusia dengan nasut Tuhan (Ittihad Abu Yazid al-Busthamiy), nasut Tuhan dengan lahut manusia (hulul Al-Hallaj), dan kesatuan hakekat (al-haqiqat) dan bukan hakekat (al-majaz) atau seperti kaitan angka 1 pada angka-angka lainnya (al-‘adad), atau hubungan antara bayangan dicermin dan pemilik bayangan (al-mir’ah) dan lain-lain (wahdatul wujud Ibn Arabi).


Kembali ke judul di awal, saat mikraj yang dilakukan dalam shalat, manusia akan merasakan kenikmatan beragama (kenikmatan spiritual), seolah tidak merasakan lagi apapun yang dihadapi. Hal ini dapat dilihat pada kasus Ali bin Abi Thalib yang terhunjam anak panah. Saat di luar shalat, Ali bin Abi Thalib merasakan rasa sakit yang luar biasa, namun ketika shalat, anak panah dicabut, ia tidak merasakan apa-apa.

…10=3=2022..


Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.

SHALAT Sebagai Mikraj Orang Beriman

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *