Fungsi lain shalat ialah sebagai “pembeda muslim-kafir”, sebagaimana dinyatakan hadits Nabi: “Perbedaan muslim dan kafir ialah shalat” (farqul muslimi wal-kafiri ash-shalat). Tentu maksudnya, jika mengerjakan shalat berarti muslim dan jika tidak mengerjakan shalat berarti kafir.
Mengenai kaitan shalat dengan kafir ini dijelaskan juga oleh hadits Nabi yang lain.
Katanya: “Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja, ia tergolong kafir yang pasti” (man tarakash-shalata muta’ammidan faqad kafara ziharan).
Kalangan teolog Muslim (Mutakallimin) berbagai dua memaknai maksud kafir di sini. Kalangan Khawarij mengartikan dengan “kafir bil-millah”, kafir dalam arti sudah keluar dari Islam. Namun kalangan Ahlussunnah mengartikannya dengan “kafir bin-ni’mah”, kafir dalam arti tidak mensyukuri nikmat Tuhan, dalam bentuk pelaksanaan shalat.
Oh iya, di setiap tiga paragraf disebut kata kafir, sorry bagi yang keberatan disebut kafir, karena itu ajaran agama saya, sesuai makna 2 hadits tadi. Dan ada yang keberatan atau tidak, saya tidak perduli, karena saya juga tidak perduli apapun saya disebut orang lain berdasarkan ajaran agamanya.
Mungkin disebut saya domba, saya kuda, atau apapun, saya tak perduli karena memang saya bukan domba. Atau mungkin saya juga disebut kafir oleh kelompok lain, saya juga tidak perduli, karena menurut saya saya muslim, dan itu saya pertanggung jawabkan.
Baik, kembali ke judul di atas, saya setuju shalat itulah pembeda muslim dan kafir. Pertama, logikanya sederhananya, hal itu dikatakan Nabi, kita harus manut, sami’na wa atha’na. Kemudian, saya melihat tidak ada orang yang kafir yang mengerjakan shalat, dan tidak ada juga yang muslim yang tidak pernah shalat, walau hanya 2 kali setahun, yaitu shalat 2 hari raya.
Jikapun katanya benar-benar Muslim tetapi tidak pernah shalat, menurut saya Islamnya hanya pura-pura masuk Islam (pura-pura muallaf), mungkin karena ingin kawin dengan orang Islam dan itu sering terjadi. Kemungkinan lainnya ada memang namanya Muslim tetapi dia tidak muslim tetapi non Muslim. Jadilah dia tidak pernah shalat.
Lalu, untuk apa digunakan nama-nama Islam ?
Tentu banyak alasan, salah satunya “agar diterima umat Islam”, dan itu juga banyak terjadi seperti di kalangan chainis yang menggunakan nama-nama Islam, seperti Halim, Hakim, Mukhtar, dan lain-lain, yang sebenarnya bukan muslim. Atau agar dianggap etnis Jawa lalu diterima eksistensinya, jadilah ia menggunakan nama-nama Jawa, seperti Sutrisno, Cokro, dan lain-lain….
…14=3=2022..
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.