Seandainya Mazhab Salah, Yang Salah Pengikutnya?
Oleh dr Arifin S. Siregar

  • Bagikan

Imam Syafi’i telah berkata: “Apapun yang terjadi, apakah azan shalat Jumat satu kali seperti masa Rasulullah SAW atau dua kali seperti di masa Ustman ra, maka saya memilih azan shalat Jumat satu kali seperti yang terjadi pada masa Rasulullah SAW”

Sepanjang tersedianya ilmu yang ada, atau fasilitas yang ada, di masa kehidupan mazhab maka amalan mereka dianggap tidak salah. Karena di masanya: itulah kebenaran yang dianggap ada tersedia. Tidak ada dalil/argumentasi atau Hadist yang dianggap shahih ketika itu, yang dapat mengoreksi ijtihad/pendapat mazhab.

Maka timbullah Hadis yang menyatakan: “Apabila mazhab (ketika itu) mengeluarkan pendapat mereka benar, maka mereka mendapat dua pahala. Dan apabila mereka salah, maka mereka mendapat satu pahala“.

Pertanyaan: kenapa mereka bila salah, masih mendapat satu pahala? Jawabnya: Yang dipahalai bukan kesalahannya, tapi kesungguhan (usahanya) mencari kebenaran hukum (ber-ijtihad) itulah yang diganjar satu pahala.

Namun bagi umat sekarang, bila masih mengamalkan ijtihad mazhab yang diketahui sekarang jelas salah (misalnya masalah hadiah pahala), itu tentu tidak mendapat satu pahala, tapi diganjar (mendapat) satu dosa. Logikanya: tidaklah Allah SWT memberi pahala pada suatu kesalahan.

Kenapa? Karena di masa kita sekarang, sudah banyak bertebaran kitab/buku hadis mana yang shahih, mana lemah, mana yang palsu atau mana yang amalan itu (ibadah, argumentasinya tanpa hadist shahih atau dalil Al Qur’an. Tapi hanya hasil buah pikiran di antara ulama mana yang dirasanya baik, bagus, mengandung kebaikan syiar, apa salahnya menurut pemikirannya.

Atau dengan kata lain, umat Islam pada masa kita sekarang jangan coba-coba berkata: “Ah bila salah, itu kan (adalah) tanggung jawab para mazhab”. Maka tulisan ini judulnya “Seandainya Mazhab Salah, Yang Salah Pengikutnya?

Yang salah besar/paling salah adalah diantara mereka para profesor, Dr, Drs, MA, kiyai yang fanatik (buta), yang taat pada ulama/mazhab meski ajaarannya telah meyimpang dari petunjuk Nabi SAW (Sunnah). Adalah QS. An-Nisa 59: adalah dibolehkan taat hanya pada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Kenapa Mazhab Terjebak Hadis Lemah/Palsu?

Adalah masa hidup mazhab yang empat itu yaitu di antaranya Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali (Ahmad), saat itu dominan tekunnya sebagai ahli fikih menyusun hukum-hukum.

Untuk menegakkan hukum itu tentu mereka bersandar pada hadis-hadis yang ada ketika itu. Mazhab ketika itu larut usahanya menegakkan beribu-ribu hukum. Tentu tidak ada kesempatan mereka tersedia waktu, tenaga/untuk menseleksi apakah hadis yang digunakan itu shahih, lemah, palsu.

Kemampuan mereka menyusun hukum itu, maka mereka disebut ahli fikih. Setelah mereka wafat, barulah timbul ahli mengoreksi hadis. Seperti syeikh Nasyiruddin Albani (ada 4 jilid kitabnya berjudul “Silsilah Hadis Lemah, Palsu“, masing-masing lebih kurang 900 halaman.

Jadi itulah di antaranya menjadi sebabnya banyak di antara pendapat (ijtihad) para mazhab itu terjebak tercemar penegakan ijtihadnya oleh hadis lemah/palsu. Pembuktian Imam Syafi’i tidak kaku (beku) dengan pendapatnya: “Apabila pendapatku bertentangan dengan Alquran dan Hadis shahih maka pendapatku itu lemparkan ke dinding. Dan ikutilah Alqu’an dan Hadis Shahih itu.

Kemudian harus disadari para imam mazhab begitu juga Imam Syafi’i tidak pernah berkata atau berpesan: Mazhab wajib diikuti seluruhnya. Atau para mazhab tidak pernah berkata: Aku adalah mazhab penyelamat Anda di Akhirat nanti bila Anda salah, gara-gara mengikut aku. Dan kita wajib sadar di dalam Islam tidak ada kewajiban harus tetap ngotot ikut mazhab.

Ingat QS. An-Nisaa’: 59 Allah SWT menyatakan: “Apabila kamu berbeda pendapat kembalilah kepada Allah dan Rasul-Nya”. Imam Syafi’i telah berkata: “Bila telah sah/benar/suatu hadis, maka itulah mazhabku”.

Imam Syafi’i telah berkata: “Apapun yang terjadi, apakah azan shalat Jumat satu kali seperti masa Rasulullah SAW atau dua kali seperti di masa Ustman ra, maka saya memilih azan shalat Jumat satu kali seperti yang terjadi pada masa Rasulullah SAW”.

Kemudian Imam Syafi’i berkata: “Janganlah kamu seperti orang mencari kayu di malam hari di hutan, bukan hanya kayu yang dipungutnya, tetapi ularpun diangkatnya”

Kenapa Ada Hadist Palsu?

Tentu anda bertanya kenapa timbul hadis lemah, palsu? Jawabnya: di antaranya adalah lemahnya daya ingat perawi, sanad atau sengaja dipalsukan. Kaum Yahudi yang akan menusuk Islam.

Ada fakta penyebab umat susah mengubah amalannya meski sudah dinyatakan itu sandaran hukumnya hadis palsu, di antaranya: Pertama, sifat taqlid/fanatik sudah melekat erat kuat pada fikiran seseorang: tak mungkin mazhab/ulama itu salah.

Kedua, kenapa fanatik? Karena di antaranya dari awal sudah dicekoki kitab-kitab mazhab dan rujukannya pun mazhab sehingga diyakininya Islam itu ajaran mazhab. Kemudian membuktikan Imam Syafi’i ketika Beliau bermukim di Bagdad Beliau membenarkan “hadiah pahala” dengan sebutan “Qaul Qadim“.

Namun setelah Beliau pindah ke Mesir maka Beliau berpendapat (berkeyakinan) pahala tidak dapat dihadiahkan kepada yang sudah wafat dikenal dengan sebutan “Qaul Jadid“. Hal ini pembuktian Imam Syafi’i taat pada Allah dan Rasul-Nya tidak beku berpikir.

Contoh hadis palsu: “Tuntulah ilmu sampai ke negeri China sekalipun”, “Cincin yang bermata aqiq bisa menghilangkan kesulitan”

Kesimpulannya, pesan Nabi SAW hanya dua yaitu: “Bila anda ingin selamat Dunia Akhirat, maka ikutlah Alquran dan Sunnahku”. WASPADA

Dokter Spesialis

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.