Rindu Padamu Ya Rabbi - Waspada

Rindu Padamu Ya Rabbi

  • Bagikan

 

“Wahai jiwa yang telah mencapai ketenteraman, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam Surga-Ku” (QS. Al-Fajr: 27-30)

 

Andai setiap waktu kita merasa rindu pada Rabbi, tentu tak ada ruang dan waktu untuk berpaling. Sebab, hati selalu mendambakan pertemuan denganNya.

Tentang rasa rindu ini, tersebutlah seorang wanita yang bernama Rabiatul Adawiyah. (713 – 717 M), di kota Basrah, Irak, dan meninggal sekitar tahun 801 M. Rabiah merupakan sufi wanita beraliran Sunni pada masa dinasti Umayyah yang sangat rindu kepada Allah. Cinta murni kepada Allah adalah puncak tasawuf Rabi’ah yang dicurahkannya melalui syair.

Salah satu syair, Rabi’ah berkata; Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya. Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi padaku.

Di antara para sahabat yang selalu rindu kepada Rabbi adalah Abu Dzar al-Ghifari. Menjelang ajal menjemputnya, ia tersenyum didampingi istrinya yang menangis. “Apa yang kamu tangisi, padahal maut itu adalah pintu akan bertemu Allah?” Istrinya menjawab, “Anda akan meninggal, tetapi kita tak punya sehelai kain pun untuk kafanmu.”

Nabi Muhammad SAW bersabda; Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Ketujuhnya adalah; seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu menetes air matanya. “Oleh kerana itu, ingatlah kalian kepada Ku, niscaya Aku ingat kepada kalian, dan bersyukurlah kalian kepada-Ku dan jangan kalian mengingkari (nikmat)-Ku” (QS. Al-Baqarah: 152).

Lantas seorang budak dari Afrika bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kedua mataku ini juga akan melihat apa yang engkau lihat? Yaitu melihat Rabbi dengan segala keindahanNya?” Rasul kemudian berkata, “Iya, kamu akan melihat apa yang aku lihat.” Maka robohlah ia dengan tangisnya karena gembira dijanjikan akan melihat keindahan Rabbi.

Ketika orang ini wafat, Rasul memanjakan jenazahnya dan Beliau turun ke lahatnya. Maka para sahabat berkata, “Wahai Rasulallah, mengapa Engkau begitu memuliakan dia.” Rasul berkata. “Demi Allah, ruh orang ini sedang berdiri di hadapan Allah dan Allah berkata, “Wahai hambaKu, sekarang kan Kuterangi engkau dengan cahaya-Ku.”

Allah berfirman; “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat, Aku memperkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku, sebab itu hendaklah mereka memohon berkenan kepada-Ku dan beriman pada-Ku supaya mereka memperoleh petunjuk (QS. Al-Baqarah: 186).

Hati yang rindu akan Rabbi, selalu beribadah, bekerja, semata karena Allah. Maka, tak ada alasan bagi dirinya untuk bersedih. Sebab, ia yakin bahwa hidup dan matinya hanya untuk Allah SWT. Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam” (QS. Al-An’am: 162).

Ya Rabbi, salahkah aku merasa senatiasa merindukan-Mu, sedangkan Engkaulah yang menciptakan kerinduan ini. Salahkah aku merasa teduh, sejuk, nyaman dalam kasih sayang-Mu, karena Engkaulah yang menciptakan perasaan teduh ini di hatiku. “Tuhanku, aku hilang bentuk remuk, di pintu-Mu aku mengetuk, aku tidak bisa berpaling” (Khairil anwar). Waspada

Guru SMAN 16 Medan, Alumni Program Doktor PEDI UIN SU

  • Bagikan