Waspada
Waspada » RAMADHAN ANTARA AKU DAN DIA
Al-bayan

RAMADHAN ANTARA AKU DAN DIA

Catatan hari Ketujuh
Sejatinya, dalam ibadah manusia tidak memiliki peluang berbohong.
Misalnya seorang mengatakan sudah shalat, pasti akan ditanya di mana dan kapan. Jika tidak ada yang melihat maka kebohongan akan ketahui.
Begitu juga dengan zakat, seorang tidak bisa berbohong sudah berzakat, karena akan diminta bukti, kapan dan di mana. Atau kwitansinya mana.
Intinya tidak bisa berbohong.
Namun teori itu tidak berlaku pada ibadah puasa, seperti puasa Ramadhan. Dalam hal
puasa ini, seseorang bisa saja berbohong dengan mengatakan puasa padahal tidak, dan tidak bisa
diminta bukti berpuasa. Karena itu, puasa merupakan ibadah yang sangat individual, seorang pelaku puasalah yang mengetahui dirinya puasa sungguhan.
Dengan kata lain, hanya dia dan Allahlah yang mengetahui benar tidaknya ia berpuasa.
Itulah sebabnya, ibadah puasa memiliki kekhasan, seperti ganjaran pahala yang tidak
terbatas (unlimited), sebagaimana dinyatakan dalam hadits qudsi yang artinya:
“Setiap amalan keturunan Adam baginya, kecuali puasa. Puasa itu bagi-Ku dan Akulah
yang akan membalasnya”.
Oleh sebab itu pelaku puasa dituntut keikhlasan secara murni, karena ketika ia memiliki peluang tidak ikhlash tetapi ia tetap dalam rotasi keikhlasan, sehingga hanya dua yang mengetahui puasa tidaknya, yaitu dirinya dan Tuhan. Inilah maksud judul di atas, antara aku dan Dia.
Puasa yang seperti inilah kelak yang akan melahirkan taqwa, karena inti dari taqwa ialah
kesadaran diri seseorang bahwa ia senantiasa bersama dan dalam kendali pengawasan Tuhan.
Aplikasi taqwa selanjutnya diharapkan agar keikhlasan totalitas ini tertular pada ibadah
lainnya.
Ini penting karena adanya fenoena mengedepankan aspek riyanya, sehingga
keikhlasahan dinormor duakan. Secara gamblang fenomena ini mudah dipantau melalui apload di medsos dengan berita berinfaq di sini dan di situ.
Mungkin maksudnya baik, yaitu untuk
berdakwah, mengajak orang untuk melakukan yang sama.
Terhadap fenomena ini Al-Qur’an mengatakan:
“Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jka kamu
menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu
lebih baik bagimu….” (Q.S. al-Baqarah/2: 271).
Kata lebih baik adalah bahasanya orang ikhlash, dan karena keiklasan yang diharapkan, maka kata ini pulalah yang selalu jadi buruan selama Ramadhan.
Salah satu ciri keikhlasan itu ialah “sepi di tengah keramaian”, seperti semboyan tareqat Naqsyabandiyah, “khush dardam”.
Inilah yang dimaksudkan hadits bersedekah yang ikhlash “seolah tangan kiri tidak tahu apa yang diberikan tangan kanan” (hatta la ta’lamu syimaluhu ma tunfiqu yaminuhu).
Semoga protokol ini yang menjadi gerak kehidupan, antara manusia dan Tuhannya,
karena puncak dari ibadah ialah “antara aku dan Dia”.
—————————
 Catatan hari Kedelapan:
PUASA ULAR DAN PUASA ULAT
Hampir setiap tahun tema dua jenis puasa ini selalu muncul dalam berbagai ceramah dan
tulisan, sehingga catatan Ramadhan tahun inipun menjadikannya sebagai catatan hari kedelapan.
Seperti dimaklumi, ular dan ulat sama-sama hewan melata dengan bentuk tubuh dan cara
berjalan yang hampir sama. Kesamaan lainnya ialah sama-sama mengalami ganti kulit, dan dalam pergantian itu sama-sama puasa dengan tidak makan dan minum beberapa waktu.
Namun keduanya berbeda setelah proses ganti kulit selesai melalui puasa panjangnya.
Seekor ular sebelum dan setelah ganti kulit tetaplah menjadi ular. Bahkan setelah ganti
kulit akan membesar, sehingga lebih berbahaya karena daya serangnyapun lebih besar pula. Sedangkan ulat, sebelum ganti kulit ia adalah ulat yang menjijikkan, berjalan lambat dan makanannyapun hanya dedaunan.
Tetapi begitu melewati masa puasanya untuk berganti kulit, ia akan mengalami metamorfosis menjadi wujud baru, yaitu kupu-kupu.
Ketika menjadi kupu-kupu semuanya berubah. Bentuk ulat yang menjijikkan berobah
menjadi kupu-kupu yang cantik dan sangat menarik.
Jalannyapun tidak lagi merayap secara
lamban, tetapi terbang di udara dengan jangkauan yang luas. Makanannyapun tidak lagi dedaunan, tetapi sari bunga yang harum semerbak.
Puasa yang diinginkan ialah puasa ulat ini. Seberapa jelekpun kita sebelum puasa,
mungkin semua gelar kita miliki seperti pencuri, pezina, dan sebagainya, sehingga menjijikkan seperti ulat.
Tetapi begitu Ramadhan berakhir berubah total menjadi manusia baik seperti kupu-kupu.
Prilakunya tidak lagi mengabaikan perintah Allah, tetapi mentaatinya, sehingga gelar
taqwa sebagai orang yang selalu siap melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Di sisi lain, kita tidak seperti puasanya ular, karena sebelum dan sesudah Ramadhan
semua gelar kejahatan melekat pada diri kita. Bahkan seperti ular yang semakin berbahaya,
kitapun semakin berbahaya karena pengalaman yang semakin teruji.
Dengan semangat perubahan seperti ulat, kiranya pasca Ramadhan nanti kita mengalami metamorfosis menjadi lebih baik dan lebih menarik, semenariknya keindahan kupu-kupu.
Pesona itu terwujud karena gelar taqwa sudah diraih, sebagai target akhir Ramadhan (la’allakum tattaqun, agar kamu menjadi orang bertaqwa (Q.S. al-Baqarah/2: 183).
Upaya ke arah itu tentu dimulai dari komitmen mengaktualisasikan semua fasilitas
Ramadhan dengan berpuasa di siang hari, qiyamullail di malam hari, memperbanyak membaca al-Qur’an, bersedekah bagi yang mampu, meningkatkan silaturrahim, dan sebagainya.
Dengan metode itu, insya Allah kita akan beroleh wujud baru yang lebih indah, cara
bergerak yang lebih dinamis, dan makanan yang lebih tersaring karena indah dan harum, sepertu kupu-kupu.
Semoga….!.
—————————
Catatan hari Kesembilan:
PUASA DAN KESEHATAN JASMANI
Setiap ibadah dalam Islam memiliki dampak positif (hikmah) bagi orang yang
melaksanakannya, termasuk puasa Ramadhan.
Hikmah itu kadang disebut secara langsung oleh al-Qur’an maupun hadits. Salah satu hikmah ibadah yang secara langsung disebut hadits ialah ibadah puasa. Dalam kaitan ini Nabi Muhammad bersabda:
“Berpuasalah, kamu akan sehat”, (shumuw tashihhuw).
Adalah suatu hal yang menta’ajjubkan termasuk para Orientalis, bahwa Nabi Muhammad yang bukan ahli medis pada abad ketujuh sudah berbicara puasa dan kesehatan, padahal perkembangan medis saja masih sangat sederhana ketika itu.
Namun pernyataan Nabi abad 7 ini kini secara perlahan terbukti kebenarannya satu
persatu secara medis. Betullah bahwa memang puasa bisa membuat kesehatan, baik fisik (jasmani) maupun mental (rohani).
Kesehatan secara fisik misalnya, puasa dapat menyehatkan jantung.
Salah seorang tenaga medis ketika bercerita bagaimana kaitan puasa dengan kesehatan jantung, memulai dari proses
pencernaan makanan dalam lambung yang berlangsung antara 6 sampai 8 jam.
Jadi jika puasa 13 jam 45 menit, berarti proses pencernaan berhenti selama 5 jam lebih. Saat proses pencernaan selesai, maka jantung akan istirahat atau paling tidak tugasnya akan melembat, sehingga
memungkinkannya istirahat.
Kemudian masih cerita sang ahli medis, ketika makanan di lambung sudah habis dicerna,
lalu ia akan mencerna lemak-lemak yang tidak dibutuhkan, dan karena lemak itu seringkali
menjadi sumber penyakit seperti kolestrol, asam urat dan sebagainya, maka sumber penyakit itu akan habis, sehingga peluang datangnya penyakit akan hilang sebab sumbernya telah tiada.
Oleh karena itu, tidak hanya jantung yang sehat, seseorang juga akan bebas dari penyakit lain yang diakibatkan oleh lemak kolestrol, asam urat, dan sebagainya.
Sederhana kedengarannya dan mudah mencerna ulasannya walaupun bukan seorang ahli medis.
Karena itu sederhana pulalah menyimpulkan bahwa puasa akan membuat orang sehat
secara fisik, seperti penyakit jantung. Juga sehat dari penyakit diabetes, sebab timbunan gula diolah menjadi energi.
Begitu juga timbunan kolestrol dihancurkan dirubah menjadi ATP (adenosine tripospat) maka terjadinya energi baru.
Adapun protein yang ancaman timbunannya
kepada arteri koroniaris, pembuluh nadi ke jantung dihancurkan di siang hari bagi orang
berpuasa. Maka wajar orang berpuasa itu berat tubuhnya akan berkurang karena terjadi proses decomposer.
Puasa juga dapat mengurangi tekanan darah tinggi, karena semakin melambat detak
jantung karena tugasnya yang ringan sebab berpuasa akan betakibat pada stabilnya tekanan darah.
Kestabilan tekanan darah tentu akan mempengaruhi respon manusia dalam menyikapi setiap masalah yang dihadapi, yaitu semakin stabil.
Sebab itulah setiap kali mengadakan operasi
besar si pasien diwajibkan berpuasa, karena dengan puasa tekanan darah tinggi tersebut lebih stabil.
Sebab itu pula banyak kasus menyampaikan bahwa orang yang mengalami stress berat
dapat mengatasinya dengan berpuasa.
Gambaran ini diharapkan akan memperkuat komitmen melaksanakan puasa yang
memang merupakan sebuah perjuangan berat bagi sebagian, tetapi sesuatu yang mengasyikkan bagi sebagian yang lain. Tergantung ghirah iman yang melatarinya. Semoga kesehatan menjadi
nasib kita pada Ramadhan tahun 2020, tahun Corona ini. Amin

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2