Pulang Kampung Dalam Perspektif Tasawuf

  • Bagikan

Apabila kalian mendengar wabah tha’un [penyakit menular] melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian ada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu (Muttaqun ‘alaihi)

Salah satu tradisi umat Islam Indonesia dalam menyambut dan merayakan hari raya `Idulfitri (lebaran) adalah pulang kampung (istilah orang Medan). Atau bagi orang Jawa dikenal dengan istilah mudik.

Idul Fitri atau terkadang disebut dengan Lebaran dianggap momentum yang paling tepat untuk kembali berkumpul dengan keluarga, bershilaturrahim dengan jiran tetangga, karib kerabat, kawan lama setelah sekian lama berpisah. Hal ini sudah menjadi budaya jauh sebelum wabah Covid-19 terjadi.

Namun setelah Covid-19 terjadi sejak Maret 2020, tradisi pulang kampung menjadi persoalan dan dilema baru antara kerinduan yang dalam untuk bertemu sanak keluarga di kampung dan perlunya memutus mata rantai penularan pandemi Covid-19 ini.

Berdasarkan Hadis di awal tulisan ini, dan dengan berbagai pertimbangan yang penuh kearifan, sehingga perlunya dilakukan lock down untuk kemaslahatan orang banyak. Dalam teori sosial memang begitu pentingnya tradisi Pulang Kampung ini, sampai-sampai orang tidak segan mengeluarkan uang dalam jumlah yang cukup besar.

Dengan kata lain, demi pulang kampung mereka sanggup menghabiskan uang yang telah mereka tabung selama satu tahun penuh. Kenaikan tiket pesawat, kapal laut, kereta api dan bus  tidak membuat mereka surut untuk pulang kampung.

Mereka juga tidak peduli dengan bahaya yang mungkin menimpa mereka diperjalanan baik oleh “perilaku alam” seperti tanah longsor, bahaya dikendaraan ataupun pencopet. Belum  lagi keletihan yang mungkin tak terbayar dan kerugian-kerugian ekonomi lainnya.

Malah mereka yang pulang kampung tidak pernah memikirkan tentang kehidupan mereka pascalebaran. Kehidupan modern sadar atau tidak sadar menuntut manusia untuk memiliki bahkan menguasai materi dan prestise.

Kebahagiaan diukur seberapa banyak ia memiliki harta benda, rumah yang mewah, dan mobil yang tersusun rapi di garasi. Keberhasilan dan kesuksesan hidup akan diukur dengan cara seberapa banyak dan tinggi jabatan yang ia pegang dan seberapa banyak ia memiliki massa.

Akhirnya manusia menjadi semakin materialistik dan individualistik. Selain itu relasi yang selama ini terbangun berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai wujud diri manusia sebagai makhluk sosial, juga mengalami pergeseran menjadi relasi individual yang dihubungkan kepentingan bisnis.

Hubungan akan terjalin dengan penuh kehangatan bahkan seolah-olah sangat akrab hanya dapat tercipta karena ada kepentingan bisnis yang sama. Hidup akan dibangun berdasarkan kepura-puraan, keakraban yang dipaksakan, kehangatan yang di rekayasa dan sebagainya.

Manusia sudah kehilangan perasaan. Mereka bisa merusak dan merampas hak orang tanpa rasa risih. Mereka menyiksa dan membunuh orang tanpa rasa iba. Mereka bisa menonton penderitaan dan tindakan kekerasan tanpa rasa simpati. Hidup mereka adalah hidup yang kosong, tanpa rasa dan tanpa makna, dikarenakan hilangnya keakraban hubungan manusiawi.

Manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup sehat tanpa menyayangi dan disayangi. Stress yang paling berat bagi manusia adalah kegagalan hubungan interpersonal. Tanpa topangan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya, manusia akan rentan terhadap berbagai penyakit.

Daya tahannya menurun. Kematian cepat menyergapnya. Lebih penting dari itu, perkembangan orang yang mengalami deprivasi kasih sayang akan terhambat secara intelektual, emosional dan spiritual. Inilah yang sering disebut  dengan nestafa manusia modern.

Ketika derita nestapa manusia modern ini telah mencapai titik kulminasi, maka manusia kembali merasakan kerinduan terhadap nilai-nilai moral-spiritual. Jika ditelusuri sebabnya, ternyata ada ruang batin dalam diri manusia yang kebutuhannya tidak pernah terpenuhi, yaitu kebutuhan ruhani.

Dalam perspektif Tasawuf ketika manusia modern pulang kampung hakikatnya adalah karena keinginan kembali merasakan nuansa tradisional yang pernah melekat dalam kehidupannya. Manusia modern ingin kembali merasakan hubungan yang hangat penuh rasa keakraban dan bersifat kekeluargaan.

Manusia  modern membutuhkan suatu hubungan yang tidak lagi didasari kepentingan bisnis melainkan didasarkan pada kebutuhan eksistensisnya sebagai manusia yang perlu berinteraksi dengan orang lain. Suasana ini tentu saja akan mereka temukan pada saat pulang kampung.

Ketika manusia modern yang tinggal di kota-kota merasakan dirinya bukan lagi menjadi manusia yang utuh, maka ia ingin menemukan kembali kemanusiaannya dengan cara pulang kampung. Pulang kampung bukan sekedar untuk berjumpa dengan orang tua, karib kerabat, tetapi lebih jauh dari itu mereka ingin menemukan suasana kemanusiaan yang sejati, tulus dan abadi.

Ketika mereka pulang kampung mereka akan bershilaturrahim dengan seluruh keluarga tanpa didasari oleh kepentingan-kepentingan yang bersifat material. Tidak itu saja mereka juga dapat melakukan shilaturrahim dengan orang-orang yang telah meninggal, baik orang tua, guru dan saudara sehingga tanpa disadari muncul-lah kesadaran eskatologis, kesadaran akan adanya kematian dan perhitungan diakhirat.

Kesadaran ini akan membentuk suatu sikap yang tidak lagi memburu dunia dengan perhiasannya akan tetapi akan menggiring manusia menjadi sadar untuk mempersiapkan bekal akhiratnya. “Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal” (QS.Al-baqarah : 197).

Di kampung mereka akan menemukan suasana kekeluargaan yang dibangun atas dasar cinta yang tulus ikhlas dan bukan dibangun atas kepentingan-kepentingan material. Di kampung mereka akan menemukan hubungan yang hangat penuh rasa simpati dan empati dan bukan hubungan yang dibangun atas kepentingan bisnis.

Di kampung mereka akan berkomunikasi secara beradab sesuai dengan hirarki tradisional yang menyejukkan bukan komunikasi yang dibangun atas hirarki kepemilikan modal dan alat-alat produksi yang menggerahkan.

Pendeknya di kampung mereka diperlakukan sebagai manusia yang berjiwa dan berharga, bukan sebagai angka-angka yang sering dieksploitasi oleh penguasa dan pengusaha. Juga bukan seperti skerup-skerup yang menggerakkan kenderaan kota.

Dalam kajian Tasawuf, dapatlah dikatakan pulang kampung adalah upaya manusia untuk menemukan kembali hakikat dirinya sebagai manusia yang memiliki jiwa dan rasa. Manusia yang pulang kampung akan mengalami transformasi jiwa yang cukup berarti dalam membangun citra dirinya sebagai manusia.

Lebih jauh dari itu tentu diharapkan ia juga akan mengalami perubahan sikap yang lebih humanis. Mungkin selama ini ia juga termasuk orang yang  memperlakukan orang lain bukan sebagai manusia. Maka ia menjadi sadar dan menyadari bahwa manusia itu membutuhkan perlakuan yang manusiawi.

Mungkin selama ini ia membangun relasi berdasarkan angka-angka, menjadi sadar bahwa hubungan yang abadi itu hanya dapat dibangun atas dasar cinta, kasih sayang dan penghargaan. Tradisi mudik atau pulang kampung adalah satu bentuk terapi modernitas.

Setelah mereka pulang kampung dan kembali ke kota tempat mereka bekerja, diharapkan mereka menjadi manusia-manusia yang baru (‘Idul Fitri) dan asli (autentik). Pada gilirannya mereka akan dapat mengubah wajah kota yang seram, keras menjadi wajah kota yang lembut dan damai.

Sayangnya manusia yang pulang kampung itu kebanyakan hanyalah orang-orang kecil yang selama ini mereka orang-orang yang dikorbankan. Adalah lebih baik jika penguasa dan pengusaha yang selama ini mengendalikan kebijakan kota juga sekali-sekali pulang kampung.

Sehingga mereka juga kembali menemukan nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang. Semoga Pandemi Covid-19 segera berakhir, supaya kita benar-benar merasakan hakikat pulang kampung.    WASPADA

Guru Besar Fakultas Ushuluddin Dan Studi Islam UIN SU

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *