Psikoterapi Dalam Tasawuf Berdasarkan Maqamat (2) - Waspada

Psikoterapi Dalam Tasawuf Berdasarkan Maqamat (2)
Oleh Prof Muzakkir

  • Bagikan

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu (QS. at-Tahrim [66]: 8)

Maqamat merupakan kaedah terapi atau membersihkan jiwa seseorang dari penyakit-penyakit ruhani menurut metode psikospiritual Islam dalam merealisasikan kehidupan manusia sebagai ciptaan Allah SWT.

                                             

Proses penyucian jiwa ini mampu membuahkan ketenangan dan kebahagiaan hidup seseorang di dunia maupun di akhirat. Pembahasan mengenai maqamat ada sembilan tingkatan, yaitu :

1.Maqam Taubat. Taubat merupakan salah satu kunci dalam pengobatan jiwa, bahkan dapat dikatakan sebagai media pengobatan yang paling penting.

Ketika seseorang masih berbuat dosa, maka dampak perbuatan dosa itu akan menimbulkan keresahan, ketakutan sehingga jiwanya terancam, dan ini awal munculnya berbagai gangguan penyakit fisik.

Perkataan nasuha di atas maknanya bersikap pasrah dan tulus hanya kepada Allah SWT, serta kukuh dalam ketaatan dan teguh pada larangan terhadap kemaksiatan.

Seseorang yang melakukan taubat nasuha, ikhlas karena Allah, maka orang tersebut telah memperbaiki dan meluruskan jalan hidupnya, kembali kepada Allah SWT dan meninggalkan tipu daya syahwat serta hawa nafsu supaya memperoleh keuntungan dan selamat dari azab di Akhirat kelak.

Taubat secara terperinci terbagi kepada dua tingkat, yaitu semasa seseorang bertaubat dan setelah bertaubat: Tingkat pertama Taubat (semasa bertaubat):

Berikrar dan membuat pengakuan terhadap dosa yang telah dilakukan,Berjanji supaya tidak melakukan dosa dan menuruti hawa nafsu lagi, Membersihkan makanan dari segala yang haram, Senantiasa bersedih di atas segala yang telah dilakukan,Istiqamah dalam melakukan perintah Allah SWT.  serta menjauhi larangan-Nya.

Tingkat kedua setelah bertaubat : Berusaha membaiki perilaku buruk yang telah dilakukan, Menggantikan perilaku buruk dari kebaikan, Senantiasa menyesal secara berterusan diatas segala dosanya, Berjanji agar tidak mengulangi dosa tersebut.

Syarat Taubat : Tidak mengulangi dosa, Tidak menjadikan maksiat sebagai tabiat, Bertaubat kepada Allah SWT terhadap segala dosa yang telah dilakukan; Menyesali segala perbuatan dosa; Istiqamah dalam melakukan ketaatan kepada Allah SWT; Takut akan siksaan;

Bertaubat dengan penuh pengharapan agar diampunkan segala dosa; Mengakui dosa yang dilakukan; Yakin serta ridha di atas segala yang telah ditetapkan-Nya; Senantiasa melakukan kebaikan agar kebaikan itu penghapus kepada dosa.

2. Maqam Sabar. Sabar adalah menahan diri dari hawa nafsu serta menekan diri agar tekun beramal. Sabar juga dapat diartikan sebagai bersungguh-sungguh dalam menghadapi cobaan dan ujian yang menimpa dalam kehidupan.

Karena itu, kesungguhan seseorang hamba dalam menahan diri dari hawa nafsu dan menghadapi ujian akan menumbuhkan ketaatan kepada Allah SWT, di samping bersabar dalam memperbaiki akhlak buruk kepada akhlak yang mulia dalam pergaulan dan kelakuan.

Sabar juga terdiri dari beberapa jenis: Sabar dalam beramal; Sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian dengan senantiasa bertawakkal kepada Allah SWT; Sabar dalam melakukan kebaikan dan memerangi hawa nafsu; Sabar dalam memperoleh nikmat dari Allah SWT;

Sabar dalam menyembunyikan musibah, Sabar dalam menyembunyikan amalan baik; Sabar dalam berusaha untuk tidak malas; Sabar dengan kehinaan; Sabar dalam mementingkan hal-hal yang berkaitan Akhirat berbanding dunia; Sabar dalam membina keluarga.

3. Maqam Syukur. Syukur dari sudut bahasa adalah dengan “memperlihatkan” atau “menzahirkan” nikmat karunia Allah SWT.  Dengan bersyukur kita memahami dan mengetahui bahwa pemberi nikmat tersebut adalah Allah SWT.

Sehingga orang yang bersyukur akan memaksimalkan pengabdiannya kepada Allah SWT.   Orang yang bersyukur akan merasa bahagia, tidak berkeluh kesah dan akhirnya merasakan ketenangan dan kesehatan jiwa dan raganya.

4. Maqam Raja’. Raja’ sebagai suatu istilah yang menunjukkan kuatnya keinginan seseorang terhadap sesuatu apabila meminta pertolongan dari Allah SWT.  Ciri raja’ adalah:

Seseorang yang bersegera dalam melakukan ibadah karena ditakuti tidak akan mendapat kesempatan untuk beribadah lagi serta berharap agar amalannya diterima;

Seseorang yang memperbanyak sholat tahajjud pada waktu malam dan berdoa sehingga menjelang pagi disertai dengan rasa takut  pada dzat-Nya; Ringan tulang untuk memberikan pertolongan sesama makhluk dalam kebaikan dan takwa;

Merasai nikmat apabila doa terkabul dengan bermunajat kepada Allah SWT dan senantiasa bersangka baik kepada-Nya; Senantiasa berakhlak mulia sesama makhluk;

Meninggalkan hawa nafsu yang hina dan syahwat yang melampaui batas; Dengan mengutamakan ketaatan serta memohon dengan bersungguh-sungguh diiringi dengan bersangka baik kepada-Nya.

5. Maqam Khawf. Perasaan khawf [takut kepada Allah swt] merupakan anugerah dari Allah SWT kepada hamba-Nya yang senantiasa melakukan ketaatan kepada-Nya. Ia juga muncul dari rasa yakin kepada keagungan serta kekuasaan-Nya dan segalanya milik-Nya.

Sebagai hamba yang beriman, perlu adanya rasa khawf terhadap lenyapnya dan hilang iman di dada, iman ialah anugerah dan karunia dari Allah SWT yang bergantung kepada kemurahan-Nya yang berhak untuk mencabut dan memberi iman tersebut.

Rasa khawf yang melekat di hati juga menjadikan jiwa lembut yang senantiasa sedih dan menangis karena takut akan kebesaran-Nya.

Tangisan tersebut menunjukkan rasa khawf yang mendalam karena keikhlasan dan kekhusyukan hati sebagai seorang hamba yang hina di hadapan penciptanya.

6. Maqam Zuhud. Zuhud adalah perasaan yang tidak terlena mencintai dunia dan berpaling dari padanya dari dalam hati. Karena itu, zuhud dapat dicapai dengan meninggalkan segala yang bersifat keduniaan dan beribadah secara bersungguh-sungguh hanya untuk Allah SWT. 

Beberapa ciri zuhud adalah: Memendekkan angan-angan, tidak berlebih-lebihan dalam urusan dunia; Mencintai kefakiran dan orang fakir serta bergaul dengan mereka; Zuhud terhadap keduniaan dengan mencari perkara yang halal dalam makanan dan minuman serta menghindari dari hal-hal yang syubhat dan berlebihan.

7. Maqam Tawakkal. Tawakkal merupakan ketergantungan dan keyakinan seseorang terhadap Allah SWT sepenuhnya tanpa bergantung selain daripada-Nya. Sabar dengan segala ujian-Nya, ridha akan ketentuan-Nya.

Senantiasa bersangka baik terhadap-Nya dan senantiasa mengingat akan ketentuan-Nya atas segala sesuatu yang berlaku dalam kehidupan ini.

Karena itu, tawakkal merupakan kebergantungan sepenuhnya kepada Allah SWT tanpa mengharapkan sesuatu yang lain daripada-Nya disamping diiringi dengan usaha sebagai sebab dalam memperoleh sesuatu.

8. Maqam Ridha. Ridha adalah: Pertama, apabila seorang hamba tidak mempermasalahkan apapun pemberian Allah SWT kepadanya.

Kedua, ridha adalah keadaan apabila seorang hamba tidak berbolak-balik hatinya, tidak gundah gulana pada sesuatu yang tiada atau ada dan juga pada saat sehat atau sakit, susah dan senang ia selalu berlapang dada, sehingga tetap semangat.

Seorang hamba hendaklah ridha dengan ketentuan yang ditetapkan dengan melihat segala sesuatu sebagai suatu keadilan dan ketetapan yang penuh hikmah serta rela menerimanya.

Hendaklah bersabar dengan ujian yang ditimpakan kepadanya dan mengakui setiap keburukan yang dilakukan olehnya itu sebagai suatu dosa dan menganggap perbuatan itu sebagai menzhalimi diri serta ridha dengan ketentuan hukum yang dikenakan sebagai balasan kepadanya.

9. Maqam Mahabbah. Mahabbah (kecintaan) Allah SWT kepada hamba yang mencintai-Nya dan rahmah Allah yang diberikan kepada hamba-Nya dalam bentuk pahala dan nikmat yang melimpah.

Mahabbah berbeda dengan al-raghbah, karena mahabbah adalah cinta yang tanpa dibarengi dengan harapan pada hal-hal yang bersifat duniawi. Sedangkan al-raghbah cinta yang disertai perasaan rakus, keinginan yang kuat dan ingin mendapatkan sesuatu, walaupun harus mengorbankan segalanya.

Cinta Ilahi tentu masih jauh lebih berharga dari cinta manusia karena cinta Ilahi bersifat eternal (kekal), dibanding cintanya manusia yang temporal, nisbi dan selalu berubah. Dengan mencintai Allah SWT jiwa menjadi tenang dan bahagia. WASPADA

Guru Besar Fakultas Ushuluddin Dan Studi Islam UIN Sumatera Utara

  • Bagikan