Petunjuk Nabi SAW Atau 1000 Pendapat Ulama? (Menanggapi Tulisan Dirja Hasibuan)

Petunjuk Nabi SAW Atau 1000 Pendapat Ulama? (Menanggapi Tulisan Dirja Hasibuan)

  • Bagikan

Barangsiapa yang mengerjakan suatu perbuatan (akidah, ibadah) yang tidak ada perintahku untuk melakukannya, maka perbuatan itu tertolak (bid’ah, sesat)” (HR. Muslim)

Pada awalnya senang kita membaca tulisan Dirja Hasibuan, yang menuturkan bahwa tahlilan dan makan-makan dan hadiah pahala itu tidak ada Sunnahnya. Beliau mengemukakan dalil-dalilnya, di antaranya:

Nabi SAW kematian Khadijah ra, istri yang disayangi, kemudian kematian sang paman Sayyidina Hamzah, begitu juga sahabat Khullafaur Rasyidin tidak pernah tahlilan setelah wafatnya Abu Bakar ra, atau Umar bin Khattab ra atau Ustman bin Affan ra.

Dirja Hasibuan juga menyatakan bahwa tahlilan, hadiah pahala, dan makan-makan di kematian itu hukumnya bid’ah (sesat). Tetapi selanjutnya, setelah kita membaca tulisan itu, kita terkejut penuturannya, berubah sebagaimana siang dengan malam.

Penuturannya yang sudah dipaterinya kuat, paku mati, pada mulanya dengan argumentasi dalam Al-Qur’an surat An-Najm ayat 39, Ath-Thur 21, Al-Baqarah 286, Al-An’am 164, yang mana dijelaskan bahwa manusia hanya akan mendapatkan apa yang telah dikerjakannya sendiri dan dikuatkan lagi oleh argumentasi Hadis HR Muslim:

Nabi SAW menyatakan: “Barangsiapa yang mengerjakan suatu perbuatan (akidah, ibadah) yang tidak ada perintahku untuk melakukannya, maka perbuatan itu tertolak (bid’ah, sesat)”. Begitu juga pendapat Imam Syafi’i pada Qaul Jadid-nya menyatakan pahala itu tidak dapat dihadiahkan kepada yang mati (yang dikutip Imam Nawawi dalam Syarah Muslimnya).

Tak disangka semua itu menjadi pudar seperti kaca kena embun oleh pernyataannya yang selanjutnya yang membolehkan tahlilan, hadiah pahala, makan-makan di kematian, demi aspek sosial (kolom 2 baris 30, Waspada 2 Juli 2021: Albayan).

Untuk itu saya tanggapi: Ketahuilah tahlilan yang diamalkan berupa baca surat Yasin, tahlil (zikir), doa, adalah suatu ibadah. ibadah itu mempunyai kaifiyat yang telah diatur oleh Nabi SAW. Yaitu cara mengerjakannya, waktunya, penempatannya, dan peruntukannya.

Tata cara ini, semuanya tidak boleh dirasionalkan demi ini dan demi itu. Adanya pikiran demi ini, demi itu (demi aspek sosial), akan mendorong perbuatan mengada-ada (menambah nambah, mengolah), yang dituduh oleh Nabi SAW merupakan seburuk-buruknya perbuatan dan diancamnya bid’ah (sesat) dan di Neraka (HR. Muslim).

Tahlilan yang terjadi di Indonesia telah diolah pada mulanya, demi agar menyingkirkan pengamalan masyarakat Indonesia yang beragama Hindu dan Buddha ketika itu. Strategi sementara itu dibiarkan terus sampai sekarang, sangat disesalkan oleh di antara ulama di Indonesia.

Maka timbul “Sang Pencerah” KH. Ahmad Dahlan. Tetapi itupun, banyak di antara ulama di Indonesia masih menolak pemurnian, pengamalan ajaran Islam itu, untuk kembali pada sesuai petunjuk Rasulullah SAW.

Pemurnian kembali itu dinamakan “orang Islam masyarakat puritan”, dan yang mempertahankan pencemaran agama Islam itu disebut “orang Islam masyarakat sinkretisme”. Pemikiran yang timbul demi aspek sosial, demi ini, demi itu, inilah yang merusak ibadah/akidah Islam di Indonesia.

Ibadah tahlilan ada kafiyatnya, ada tata caranya, oleh petunjuk Nabi SAW. Bukan diatur karena ditujukan pada keuntungan aspek sosial. Tetapi tegas adalah untuk berdoa, mendekatkan diri kepada Allah SWT yang caranya diatur Assunnah. Kemudian cara membaca Al-Qur’an (Yasin) diatur oleh QS. Al A’raf: 204.

Allah SWT menyatakan: “Apabila dibaca Al-Qur’an hendak lah (kamu) diam dan kamu dengar baik-baik (simak) agar kamu mendapat rahmat”. Kemudian cara berzikir, juga di atur Al-Qur’an QS. Al A’raf: 205 di mana Allah SWT menyatakan: “Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan perasaan rendah hati dan takut dengan tidak bersuara keras, di pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang orang yang lalai”.

Tujuan baca tahlil, ikut petunjuk Nabi SAW (bukan karena menghadiahkan pahala), dan jangan mengikut tata cara ritual agama Hindu/Buddha, malam ke 40, ke 100, ke 1000 setelah kematian.

Tersirat ada keyakinan malam itu berkat untuk berdoa dan baca tahlilan dan doa paling diterima Allah SWT? Jadi jangan demi aspek sosial, maka dilanggar petunjuk Allah SWT dan Nabi SAW.

Hadiah Makan-makan Untuk Tamu

Kemudian juga sangat disesalkan di mana kemudian Dirja Hasibuan menyatakan jamuan makan pada ketika berkumpul pada orang kematian, hukumnya mubah (kolom 2, baris 43). Katanya selanjutnya: membolehkan memberi makan yang tahlilan, dianjurkan oleh pendapat Ibnu Qayyim Jaiziyah (kolom 2, baris 55).

Untuk itu saya tanggapi: Adanya HR. Imam Turmudzi di mana Nabi SAW menyuruh Sahabat memberi makan keluarga Ja’far karena kematian Ja’far. Tetapi ternyata yang dilakukan di Indonesia, di antaranya adalah tamu yang tahlilan yang diberi makan-makan (menerima makan) oleh/dari keluarga yang kematian.

Ini adalah penyelewengan perintah Nabi SAW sesuai hadis di atas. Apakah ini tidak merupakan dosa? Apakah itu hukumnya mubah?

Beda Doa Dengan Hadiah Pahala

Satu hal yang harus dibedakan yaitu mendoakan berbeda dengan menghadiahkan pahala. Mendoakan berarti memohon keampunan dosa orang tua kita atau Muslim lain yang hidup atau wafat.

Menghadiahkan pahala, maksudnya adalah dibaca surat Yasin misalnya, maka diniatkan pahala bacaan kita itu dihadiahkan pada umat Islam yang sudah wafat yang dituju (hal ini bertentangan dengan QS. An Najm 39). Juga Imam Syafi’I melarang nya (Qaul Jadid-nya).

Memang khusus untuk anak yang shaleh yang mendoakan orang tuanya, maka segala amalnya yang shaleh, otomatis mengalir pada orang tuanya (HR. Muslim). Jadi tidak perlu sengaja dibaca Yasin dan harus diniatkan pahalanya untuk orang tuanya.

Bila demikian halnya, maka rugilah orang tuanya atas segala amal shaleh anaknya yang tidak meniatkan untuk orang tuanya. Di mana HR. Muslim menyatakan: Dari Abu Hurairah, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda: “Apabila anak Adam mati, maka putuslah amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diajarkan yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya” (HR. Imam Muslim).

Menghadapi Hadis Shahih yang isinya bertentangan dengan Al-Qur’an contohlah cara berpikir Aisyah ra dengan pendirian yang kokoh pada Al-Qur’an sebagai pedoman yang Qath’i (kebenarannya mutlak).

Contoh: Sebuah HR. Muslim, Bukhari menyatakan, bahwa seorang melapor pada Aisyah ra bahwa: “Seorang mayat itu akan menerima siksa akibat ratapan keluarganya atasnya”. Maka untuk itu maka Aisyah ra menjawab:“Mungkin pendengaranmu yang salah. Maka kembali sajalah pada Al-Qur’an An-Najm 38 bahwa seseorang itu tidak akan mendapat dosa akibat dosa orang lain”.

Adalah kesyahihan (kebenaran) suatu Hadis ditentukan oleh kebenaran sanad (penerima berita), dan penyampai berita (rawi) dan isi (materi) suatu Hadis. Apabila isinya bertentangan dengan Al-Qur’an maka Hadis itu disimpan, dipetieskan (di-maukufkan).

Kesimpulannya, dalam QS. An Nisaa’: 59, Allah SWT menyatakan mewajibkan hamba-Nya yang maknanya di mana apabila “1000 pendapat Ulama/mazhab, harus ditinggalkan, demi petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya (bila 1000 pendapat itu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah).    WASPADA

Penulis adalah dokter spesialis

  • Bagikan