Pemimpin Plin Plan

Pemimpin Plin Plan

  • Bagikan

“Tidak seorang hamba pun yang diserahi oleh Allah untuk mengurusi rakyat, lalu tidak menjalankan urusannya itu dengan penuh loyalitas, kecuali dia tidak akan mencium bau Surga” (HR. Buhari)

Sekarang ini banyak pemimpin yang galau dalam menghadapi berbagai permasalah. Jika masalah kecil, mungkin dapat di atasi dengan tenang, tapi jika masalah berat, seperti virus Corona, maka banyak pemimpin yang seperti kebingungan.

Kadang jadi plin-plan mengambil kebijakan. Senin dibolehkan Selasa tidak. Minggu ini bilang haram, minggu depan bilang halal, pagi kedele sore tempe?!

Pemimpin plin-plan dapat menimbulkan kekacauan di masyarakat. Apalagi objek permasalahan yang berhubungan dengan umat Islam. Karena hukum Allah buat umat Islam tak dapat diubah sembarangan demi berbagai kepentingan.

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS. Muhammad: 22).

Ada tiga hal yang harus dilakukan agar terhindar dari pemimpin plin-plan pertama, direncanakan. Seorang pemimpin mengambil sebuah kebijakan, hendaklah dalam suasana tenang. Sebaiknya meminta pendapat sebelum menjadi keputusan. Karena sebuah masalah baik di mata kita belum tentu dengan orang.

Pemimpin hendaklah bersabar merencanakan kebijakan. Menerima berbagai kritik sebagai masukan. Merencanakan secara matang dengan melihat berbagai kemungkinan. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 216).

Kedua, istiqamah (tetap pendirian). Seorang pemimpin sebaiknya tetap hati, kukuh melaksanakan suatu kebijakan. Hendaklah melaksanakan jalannya kepemimpinan sepenuh hati. Istiqamah menempati semua janji, tidak berdusta dan tidak berkhianat. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (QS. At-Taubah: 119).

Ketiga, bertanggungjawab. Siap menerima berbagai resiko dari kebijakan yang telah diluncurkan. Pemimpin yang telah mengeluarkan kebijakan, jangan lagi ragu dengan kebermanfaatn kebijakan tersebut. Tak akan berubah menghadapi kritik.

Dalam menyosialisasikan sebuah kebijakan sebaiknya seorang pemimpin berkomunikasi dengan memenuhi standar komunikasi Islam. Disampaikan dengan komunikasi tidak kasar, lembut dan sopan. Jangan ada lagi mengeluarkan kebijakan plin-plan hanya karena takut pada atasan. Karena “sekali lancung ke ujian seumur hidup orang tak percaya.”

Guru SMAN 16 Medan, Alumni Program Doktor PEDI UIN SU

  • Bagikan