Waspada
Waspada » Pemangku Amanah
Al-bayan Headlines

Pemangku Amanah

Oleh H. Muhammad Nasir, Lc, MA

Tidak ada iman bagi seseorang yang tidak mempunyai sifat amanah pada dirinya dan tidak ada agama bagi orang yang tidak ada punya komitmen pada dirinya (HR. Imam Ahmad dari Anas bin Malik)

Secara kebahasaan amanah berasal dari kata ‘amuna’ yang berarti jujur lawan khianat. Dari akar kata yang sama, yaitu huruf ‘alif’, ‘mim’, dan ‘nun’ dengan mengubah baris ‘mim’ menjadi baris ke bawah (kasrah), ‘amina’ dan baris atas (fatah) ‘amana’, dapat melahirkan kata ‘aman’, berarti tenteram dan melahirkan kata ‘iman’ berarti mempercayai dan meyakini.

Dengan arti kata bahwa iman, amanah, dan aman tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Seorang Mukmin, mesti mempunyai sifat amanah dalam dirinya, dan dalam waktu yang sama akan melahirkan rasa aman dan tenteram dalam kehidupannya.

Sebaliknya orang Mukmin yang tidak amanah dianggap tidak beriman, dan pada gilirannya akan merasakan kegelisahan yang luar biasa dalam hatinya. Sejalan dengan itu Rasul SAW bersabda: “Tidak ada iman bagi seseorang yang tidak mempunyai sifat amanah pada dirinya dan tidak ada agama bagi orang yang tidak ada punya komitmen pada dirinya. (HR. Imam Ahmad dari Anas bin Malik)

Diakui memang amanah dalam segala bentuknya mulai dari hal yang kecil, sampai masalah yang besar seperti amanah agama, adalah tugas yang berat, tapi tidak sampai mustahil untuk dilaksanakan. Seandainya amanah adalah suatu hal yang mustahil untuk dikerjakan tentu Allah SWT tidak akan membebani hamba-Nya dengan perintah yang tidak mungkin dikerjakan oleh hamba-Nya.

Oleh sebab itu seseorang yang berminat untuk mengemban suatu amanah wajib menakar kemampuannya dan kapasitasnya sebagai pemangku amanah yang akan diembannya. Misalnya amanah jabatan kekuasaan, jika dia seorang yang menguasai keilmuan yang berkaitan dengan kepemimpinan maka tidak dilarang untuk meminta suatu jabatan yang diinginkannya, jika tidak maka dilarang untuk meminta jabatan tersebut.

Suatu hari Abidzar ra pernah datang kepada Rasulullah SAW, Wahai Rasulullah, tidakkah Engkau menjadikanku seorang pemimpin. Lalu Rasul memukulkan tangannya di bahuku dan bersabda; Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, sesungguhnya hal ini adalah amanah, ia merupakan kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikannya dengan sebaik-baiknya (HR. Muslim).

Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Kami pernah menawarkan amanah kepada langit dan bumi, gunung-gunung, maka mereka semua enggan memikulnya dan merasa berat, lalu manusia memikulnya. Sesungguhnya mereka amat dzalim dan bodoh (QS. 33 : 72).

Ayat ini menginformasikan kepada manusia bahwa Allah SWT telah pernah menawarkan tugas yang berat kepada langit, bumi dan gunung berupa amanah. Tetapi dengan segala hormat mereka semua menolak tawaran tersebut, tanpa bermaksud untuk menentang perintah Sang Penciptanya. Karena cakrawala langit dan bumi, gunung, paling terkenal disiplin menjalankan perintah Allah SWT. “Seandainya Alquran diturunkan kepada gunung niscaya akan meledak, karena rasa takut kepada Allah SWT(QS. 59 : 21).

Tawaran amanah tersebut tidak kita ketahui hakikatnya, apakah dalam bentuk dialog Allah SWT, kepada alam semesta ini, atau sekedar memberikan tamsilan kepada manusia. Amanah tersebut sedemikian beratnya, sehingga alam semesta yang notabenenya cukup disiplin beredar pada porosnya, namun menolak mengemban amanah. Apakah lagi manusia dengan segala kelemahannya tidak akan mampu memikul amanah yang cukup berat itu, lalu manusia menyanggupinya. Maka pantaslah Allah SWT mengakhiri ayat di atas dengan “Sesungguhnya mereka amat dzalim dan bodoh”.

Soal amanah sepertinya suatu sifat yang sulit ditemukan saat ini, seakan-akan bila bicara soal amanah bukan milik kita yang beragama Islam. Sehingga tidak mengherankan ucapan-ucapan miring di tengah masyarakat, ataupun di instansi pemerintah beredar bahasa yang tidak mendidik atau bahasa pesimis. Seperti: “Kalau jujur terbujur”, padahal sebaliknya “Kalau jujur pasti mujur”.

Lebih dari itu, kejujuran akan mendatangkan rezeki, sebagaimana sabda Nabi SAW: Al amanatu tajlibu al rizki wal khianatutajlibu al faqri (jujur dapat merangkul rezeki sedangkan khianat dapat mengundang kefakiran) (HR. al-Dailami).

Hal yang membuat seseorang tidak berlaku jujur antara lain lemahnya iman dan ilmu pengetahuan. Keyakinan bahwa hidup ini adalah amanah dan amanah merupakan bagian dari agama, kurang dipahami, dan ini merupakan ‘langkah awal’ bagi seseorang untuk berkhianat.

Andaikata seorang Muslim memosisikan dirinya bahwa hidup adalah amanah dari Allah SWT, tentu dia akan berlaku jujur. Kesadaran itu sendiri yang akan mengontrol jalan hidupnya. Kurangnya ilmu pengetahuan tentang manfaat jujur ikut ambil bagian mendorong seseorang untuk bekhianat. Sebab itu kejujuran adalah kekayaan sejati yang harus dimiliki oleh setiap pribadi Muslim.

Rasul SAW bersabda ketika memberikan pendidikan tentang amanah kepada Abdullah bin Amr bin Ash: Ada empat macam yang jika engkau pelihara baik-baik merupakan kekayaan bagimu, meskipun kemegahan dunia tidak engkau miliki sama sekali, pertama: memelihara amanah, kedua: berkata jujur, ketiga: akhlak yang baik, keempat: dapat mengendalikan selera dari kerakusan makan (HR. Iman Ahmad dan Atthabrani).

Selanjutnya miskin keteladanan seorang ahli peradaban, Malik bin Nabi ada mengatakan rakyat itu mengikut agama pemimpinnya. Artinya ketaatan pemimpin menjalankan agama menjadi contoh teladan bagi rakyatnya, demikian pula kejujuran seorang pemimpin akan mengalir kepada rakyatnya.

Menarik untuk disimak keteladanan Umar bin Khattab ketika bermaksud meminjam uang 4 Dinar dari kas negara, untuk mengganti pakaian sekolah anaknya yang sudah penuh dengan tambalan, dan sering menghadapi cemoohan dari teman-temannya. Untuk mengobati kesedihan anaknya, Umar mendatangi Bank Negara untuk menjumpai bendaharawannya, tapi sayang dia tidak berada di tempat.

Akhirnya dia menulis secarik kertas isinya: Izinkan saya meminjam uang 4 Dinar sampai akhir bulan, dan awal bulan boleh dipotong dari gajiku. Ketika memo itu sampai ke tangan bendaharawan, dan memahami betul keadaan Khalifah sedang terdesak, dia membalas surat Khalifah dengan segala hormat, Wahai tuan Khalifah sudah yakinkah tuan akan hidup sampai akhir bulan ini, untuk melunasi hutang tersebut? Agar kami tidak ragu-ragu lagi meminjamkan uang negara kepada tuan.

Setelah Umar bin Khattab membaca jawaban dari Bendaharawan tersebut. Beliau tidak marah, malah bersyukur kepada Allah SWT karena sifat amanah yang dimilikinya, telah mengalir kepada bawahannya. Wallahua’lamubisshawab. Waspada

Sekretaris Pengurus Besar Al Washliyah Sumatera Utara

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2