Waspada
Waspada » Pecinta Hikmah
Al-bayan Headlines

Pecinta Hikmah

Oleh Dirja Hasibuan

Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang al-Qur’an dan as-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal-lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)” (QS. Al-Baqarah: 269)

Dalam persaingan global, jika umat Islam tidak mengoptimalkan kemampuannya, maka peran sebagai khalifah Allah di muka bumi tidak maksimal diemban. Karenanya mengingat kembali dan merenungi posisi dan kedudukan sebagai umat Islam, yang disebut sebaik-baik umat atau ulul albab.

Yaitu generasi khoiro ummah, yang menjadi ummatan wasathan (umat pilihan) dan menjadi shuhada ‘ala an-nas (menjadi saksi atas manusia). Al-Qur’an menggambarkan karakteristik manusia berkualitas (ulul Albab), “Sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-Ku yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang memiliki akal” (QS. Az-Zumar: 17-18).

Manusia berkualitas ini yang dimaksud al-Qura’n dengan ulul albab yang telah dianugerahi hikmah oleh Allah. Dalam ayat lain ditegaskan, QS. Ali Imran: 190-191, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Ulul Albab) yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “….

Ulul Albab bukanlah manusia yang cepat puas. Mereka yakin akan tugas dasar manusia, yaitu sebagai makhluk yang akan memakmurkan dunia bukan merusak dan menyengsarakan orang lain, dalam Qur’an surat Hud: 61, disebutkan: “Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya,kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do`a hamba-Nya)”.

Keyakinan ini telah menempa watak mereka menjadi makhluk yang senantiasa merekayasa hari depan yang lebih baik, karena mereka senantiasa didorong tuntutan tugas, yang menghendaki setiap manusia berusaha meningkatkan kualitas diri. Mereka bekerja dan berusaha seolah-olah akan meninggalkan dunia besok hari.

Dalam QS. al-Nur: 37 mereka digambarkan;“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.”

Mereka berusaha mengembangkan kemampuan pribadinya karena termotivasikan pesan Rasulullah, yang telah menyatakan:“Barangsiapa yang hari ininya lebih baik dari kemarinnya itulah orang yang berjaya; barangsiapa yang hari ininya sama dengan kemarinnya itulah orang yang rugi dan barangsiapa hari ininya lebih jelek dari hari kemarinnya itulah orang yang kena laknat.”

Mereka berwatak terbuka, suka mempelajari hal-hal baru dan senang mendengarkan setiap masukan, namun pandai menyaringnya demi kemajuan dirinya. Sifat dan sikap yang tumbuh dan berkembang dari keyakinan ini telah membuat mereka menjadi profesional, karena sikap ini melahirkan kemampuan berhubungan dengan sesama manusia secara manusiawi.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mujadalah: 11).

Mencintai dunia berlebihan dapat memicu kesengsaraan. Membuat seseorang menjadi lalai kodratnya sebagai hamba. Nabi Muhammad SAW berpesan, hadis riwayat Ahmad, “Wahai anak Adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah kepadaKu maka niscaya akan Aku penuhi dadamu dengan kecukupan serta Aku tutup kefakiranmu. Jika engkau tak melakukannya, maka akan kupenuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan tak akan Aku tutup kefakiranmu”. WASPADA

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2