Waspada
Waspada » Panjang Umur Dalam Perspektif Islam
Al-bayan Headlines

Panjang Umur Dalam Perspektif Islam

Oleh Dr Johansyah, MA

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya (QS. al-A’raf: 34)

Di antara do’a orang adalah agar disehatkan dan dipanjangkan umur. Kalaulah ada ramuan untuk membuat seseorang hidup abadi, mungkin dia akan membeli berapa pun harganya. Tapi itu semua tidak akan pernah terjadi, kecuali di film. Sebab Allah SWT telah menentukan dan menetapkan ajal bagi seluruh makhluk-Nya sebagaimana ayat di atas.

Masalah umur dapat ditinjau dari dua aspek; kuantitatif dan kualitatif. Secara kuatitatif, umur kita saat ini rata-rata berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun. Ini sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits; Umur umatku antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sedikit di antara mereka yang melebihi itu.” (HR. At-Turmudzi).

Secara kualitatif, persoalan umur sebenarnya bukan soal berapa tahun seseorang diberikan kesempatan hidup, tapi semakasimal apa dia mempergunakan dan mengisi umur itu untuk berbuat kebaikan. Dalam hal ini usia tidak hanya dihitung secara kuantitatif, tapi lebih pada aspek kebermanfaatan dan produktivitasnya dalam melakukan kebaikan.

Bisa dikata keliru ketika kita memohon kepada Allah SWT agar dipanjangkan umur. Seandainya dikabulkan bisa jadi petaka, sebab tidak dimanfaatkan untuk menebar kebaikan di muka bumi. Lagipula kalau diperhatikan betapa tersiksanya orang yang sudah usia lanjut. Terkadang tidak ada lagi kenikmatan hidup baginya.

Makan sudah sulit karena gigi tidak lagi lengkap, penglihatan kabur, pendengaran juga terganggu, dan berjalan harus memakai tongkat atau dibantu oleh orang lain. Mirisnya lagi, banyak kejadian, anak-anaknya tidak ada yang mau mengurusi meski orangtua sangat menyayangi mereka sedari kecil.

Makanya ketika memohon kepada Allah SWT terkait umur, sebaiknya bukan doa agar dipanjangkan umur, tapi diberi keberkahkan oleh-Nya. Artinya diberikan kesehatan lahir dan batin agar dapat menjalan pengabdian secara maksimal dalam kehidupan.

Jika kembali pada konsep Islam, sesungguhnya panjang umur yang dimaksudkan adalah umur yang kualitatif, bukan kuantitatif. Untuk apa umur panjang kalau hanya dihabiskan untuk kemaksiatan, dan meresahkan orang lain. Lebih baik umur tidak terlalu panjang, tapi dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk berbuat baik, berkarya, dan berkotribusi bagi kehidupan. Akan sangat baik ketika umur panjang dan diisi dengan kebaikan.

Perhatikan hadis berikut: Menyambungkan silaturrahmi, berakhlak mulia, dan berbuat baik pada tetangga, dapat memakmurkan negeri dan menambah umur” (HR. Ahmad). Dalam hadis tersebut sangat jelas Beliau SAW menegaskan umur yang panjang itu bukan dilihat berdasarkan dimensi kuantitatif, tapi kualitatif. Ini perlu dipahami. Sebab ada pula bertanya kenapa ada seseorang yang silaturrahminya baik, tapi umurnya singkat? Dia mengira panjang umur yang dimaksudkan nabi SAW hanya bersifat kuantitatif, padahal kualitatif.

Tiga hal yang kata Beliau dapat memanjangkan umur. Pertama, menjalin silaturrahmi. Dalam sebuah hadis ditegaskan: Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambungkanlah tali silaturrahmi” (HR. Bukhari). Kenapa silaturrahmi dapat memanjangkan umur dan meluaskan rezeki?

Orang yang silaturrahminya baik, mentalnya sehat. Ketika punya masalah dia dapat berbagi dengan teman, saudara, maupun tetangga sehingga ada saja solusi dari mereka. Orang yang cenderung tertutup dalam silaturrahmi dan komunikasi cenderung akan mengalami goncangan jiwa dan berpotensi untuk depresi. Kondisi jiwa yang tidak stabil inilah biasanya menimbulkan penyakit-penyakit fisik lain; jantung, gula, asam lambung, dan lainnya.

Banyak kita lihat juga, orang yang sembuh karena silaturrahminya yang baik. Ketika sakit, banyak yang mensupport, dia mampu bangkit dan sehat kembali. Secara kualitatif, silaturrahmi itu menjadi nilai yang tidak terhitung jumlahnya. Saat seseorang meninggal dunia, banyak yang menyebutnya sebagai orang baik, ramah, suka membantu, dan sebagainya. Inilah panjang umur sesungguhnya. Yakni ketika banyak yang menyebut kita sebagai orang baik. Itu berarti setiap saat banyak orang yang mendoakan kita.

Korelasi silaturrahmi dan rezeki sudah jelas dan banyak contohnya. Hal yang sederhana berkaitan dengan peluang kerja. Saya yakin, ketika ada peluang kerja, meskipun dikatakan terbuka, pasti yang diprioritaskan adalah orang dekat dan dikenal terlebih dahulu. Seorang kepala daerah, akan memilih pembantunya orang yang sering menjalin silaturrahmi dengannya. Contoh ini banyak di sekitar kita. Inilah bukti silaturrahmi melapangkan rezeki. Minimal kalau tidak secara materi, kita dapat mendapatkan indormasi lebih cepat.

Kedua, akhlak mulia juga dapat menambah umur. Sebagaimana dikatakan sebelumnya, silaturrahmi dapat memperpanjang umur. Demikian halnya dengan akhlak mulia lainnya. Di mana rahasia memperpanjang umurnya? Ketika akhlak baik kita disebut-sebut dan dikenang orang. Ke mana pergi selalu membawa berkah, bukan membuat resah. Orang di sekitar selalu merindukan kehadirannya.

Contoh paling mudah disebut adalah Nabi SAW. Kenapa hingga kini disebut dan hingga akhir zaman? Tidak lain karena akhlak Beliau yang dapat dijadikan teladan. Tapi mengapa pula al-Qur’an mengabadikan nama Fir’aun? Kalau itu kebalikannya. Allah SWT bertujuan memberi pelajaran agar jangan menjadi manusia seperti Fir’aun. Jadi meski pun diabadikan namanya, Fir’aun bukanlah sosok yang pantas dijadikan teladan. Beda seperti nabi SAW maupun nabi-nabi lainnya yang memperjuangkan agama Allah SWT di muka bumi.

Ketiga. rahasia panjang umur juga terkait berbuat baik pada tetangga. Hidup ini tidak mungkin lepas dari aktivitas dan interaksi sosial. Tidak ada manusia yang hidup sendiri dan menyendiri. Kalau pun ada, itu mungkin untuk sementara waktu, bukan selamanya.

Syarat utama menjalin interaksi sosial yang harmonis adalah menjaga dan menghormati hak dan kewajiban masing-masing. Jika ini dapat dijalankan maksimal, tidak akan ada persoalan sosial yang serius. Salah satu wujudnya adalah menjaga hak-hak tetangga.

Di antaranya mereka aman dari gangguan kita. Jangan sampai tetangga risih dengan keberadaan kita. Sebagai contoh membuang sampah dekat dengan rumah mereka meskipun masih dalam wilayah tanah milik kita. Tapi baunya tidak enak sehingga mengganggu kenyamanan tetangga.

Intinya, kalau mau dipanjangkan umur, berbuat baiklah semaksimal mungkin selama kita hidup. Baik pada saudara, tetangga, teman, dan siapa pun yang kita berinteraksi dengannya. Wallahu a’lam bishwab!. Waspada

Ketua STIT Al-Washliyah Aceh Tengah

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2