Orang Yang Dimuliakan Allah SWT

Orang Yang Dimuliakan Allah SWT

  • Bagikan

Mana lebih dimuliakan Allah SWT, orang yang banyak baca dan banyak hafal Al-Qur’an, tapi tidak mengerti apa yang dibacanya dan melanggar petunjuk-Nya, ketimbang orang yang sedikit baca dan hafal Al-Qur’an, tapi mengerti yang dibacanya dan mentaati petunjuk-Nya ?

Adanya amalan umat Islam yang perlu dipertimbangkan, meminta jawaban: “Mana amalan yang lebih disukai Allah SWT atau lebih mulia di sisi Allah SWT atau lebih menguntungkan diri yang beramal ketimbang. Misalnya banyak uang, kaya, ingin banyak pahala, maka ia banyak puasa Senin/Kamis, tapi pelit bersedekah pada orang miskin atau susah.

Tega ia, seorang di simpang jalan atau yang datang ke rumahnya minta sedekah untuk sesuap nasi, ia menolak : “Ma’af ya pak”. Di antara Ulama menjelaskan, puasa Senin/Kamis memang sumber pahala, tapi orang seperti ini kata ulama, sifatnya egois. Kenapa egois? Karena yang diuntungkan dengan puasanya itu, hanya dirinya sendiri, dan hanya itulah yang diperolehnya.

Allah SWT memberi hanya pahala padanya, tapi alangkah mulianya di sisi Allah SWT bila memberi makan orang yang lapar, orang miskin atau mengutamakan bersedekah/menolong orang susah, maka diuntungkannya dirinya dengan dapat pahala dan orang lain pun tertolong penderitaannya dan kesusahannya.

Ada riwayat menceritakan justru seorang pelacur, hanya gara gara memberi air untuk anjing kehausan di tengah padang pasir, dimana anjing ini sukar mencapai air yang berada di sumur yang dalam. Untuk ini maka Allah SWT menjanjikan pelacur ini kelak di Surga tempatnya. Maka menjadi petunjuk bagi kita bahwa amalan bersedekah itu, sangat dimuliakan Allah SWT, ketimbang puasa Senin/Kamis yang tidak ada orang lain merasakan manfaatnya.

Ada beberapa contoh lain lagi yang bisa dipertanyakan, misalnya: Contoh pertama: Membuat pesta, ingin meriah, sehingga sampai menutup jalan umum (jalan utama/jalan pilihan) mengakibatkan orang yang lewat di jalan itu terhalang. Harus putar balik arah, terkadang jalan yang harus ditempuh menjadi lebih jauh ke tempat tujuan. Apalagi ketika becak membawa orang sakit yang perlu cepat mendapat pertolongan. Padahal diundangannya tercantum kata kata indah “Mohon doa restu”.

Dengan kecewanya banyak orang yang terhalang lewat, dengan spontan keluar sumpah serapah: “Yang pesta ini, tak punya otak, mau meriah tapi orang lain disakitinya, teraniaya”. Orang berpesta seperti ini sifatnya sombong, mau megah tapi menganiaya orang lain. Memang ada kekecualian dibolehkan menutup jalan, bila itu merupakan gang, merupakan jalan keluarga.

Sebagai rujukan bahwa di masa Rasulullah SAW, Beliau sangat melarang, benci pada orang yang pesta menyusahkan jalan, menutup jalan. Sebagai bandingan mana lebih mulia orang membuang duri dari jalan atau orang menutup jalan

Contoh kedua: Berulang kali naik haji demi pahala, namun mereka lupa memberi dana/kesempatan orang lain ingin naik haji. Tentu lebih banyak pahalanya karena orang itu diberi kesempatan naik haji dan doanya berulang kali setiap ia ingat dihajikan oleh Anda. Maka ia berdoa kepada Allah SWT, semoga Anda diberi ganjaran berlipatganda oleh Allah SWT. Semoga Anda selamat, tanda terima kasihnya pada Anda dan Allah SWT akan memuliakan anda karena berguna untuk orang lain.

Contoh ketiga: Nabi SAW memberikan contoh shalat malam (taraweh) 11 rakaat (HR. Bukhari Muslim). Tentu  Allah SWT lebih memuliakan orang yang mengamalkan petunjuk-Nya 11 rakaat, ketimbang orang yang memilih shalat tarawih menurut petunjuk Mazhab (23 rakaat, 26 rakaat, 40 rakaat dan sebagainya).

Contoh keempat: Allah SWT benci pada orang alim atau orang pintar dan banyak beribadah tapi tidak berusaha mengajak, memberikan ilmu atau tidak mengoreksi/tidak perduli pada orang lain berbuat salah untuk berubah pada yang benar. Dan Allah SWT lebih memandang mulia orang yang sedikit ilmunya, tapi berguna untuk orang lain, diajaknya, ditunjuknya mana yang salah, mana yang benar.

Contoh kelima: Dipertanyakan mana yang lebih mulia di sisi Allah SWT, orang yang mengamalkan petunjuk Rasul-Nya dimana Syalawat tanpa “sayidina” ketimbang syalawat ditambah “sayidina”, karena mengikut petunjuk Mazhab ?

Contoh keenam: Mana lebih mulia di sisi Allah SWT, orang yang banyak ilmu tapi tidak mengajarkannya, ketimbang orang yang sedikit ilmu tapi mengajarkannya.

Contoh ketujuh: Membiarkan temannya salah, meski dia tahu itu salah, demi mengambil muka atau agar tetap disenangi, ketimbang orang yang berani menegur menyalahkan temannya, meski akan dibenci.

Contoh kedelapan: Mana lebih mulia di sisi Allah SWT mentaati QS. An Nisa’ 59: Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya”, ketimbang tidak mengamalkanya, demi menaati pendapat mazhabnya.

Contoh kesembilan: Mana lebih mulia di sisi Allah SWT orang yang lebih menerima pendapat Nabi SAW bahwa bid’ah itu hanya 1 macam yaitu sesat. Ketimbang orang yang menerima pendapat mazhab yang menyatakan bid’ah itu 2 macam yaitu hasanah (baik) dan dholala (sesat). Atau ulama yang mana sesungguhnya yang menjadi pewaris Nabi SAW?

Contoh kesepuluh: Mana lebih mulia di sisi Allah SWT, makan makan atau kenduri potong kerbau dan membaca tahlil dan surat Yasin menghadiahkan pahala bacaannya (tidak ada Sunnahnya). Ketimbang hanya baca doa dan ceramah agama (nasihat) yang hal ini ada Sunnahnya ?

Contoh kesebelas: Meminta syafa’at hanya pada Allah SWT, ketimbang meminta syafa’at ke pada selain Allah SWT. Mana yang lebih dimuliakan dan dibenarkan Allah SWT (ingat QS. Az Zumar 43 dan 44).

Contoh ke duabelas: Mana yang lebih dimuliakan Allah SWT yang meyakini QS. Al Mukminun 99 dan 100 bahwa ruh tidak dapat kembali ke bumi. Ketimbang pendapat meyakini ruh dapat kembali ke bumi (untuk disiksa di dalam kuburan tanah). Atau meyakini ada hisab dan siksa di dalam kuburan (tanah). Ketimbang meyakini bahwa hisab dan siksa itu baru ada setelah diakhirat nanti ?

Contoh ketigabelas: Mana lebih mulia di sisi Allah SWT, mengamalkan azan sholat Jum’at 2 kali (model sekarang di Indonesia adalah sunnahnya=caranya bukan Sunnah), ketimbang melakukan azan 2 kali yaitu menjelang Subuh dan waktu Subuh (ada Sunnahnya) ?

Contoh keempatbelas: Mana lebih dimuliakan Allah SWT, orang yang banyak baca dan banyak hafal Al-Qur’an, tapi tidak mengerti apa yang dibacanya dan melanggar petunjuk-Nya, ketimbang orang yang sedikit baca dan hafal Al-Qur’an, tapi mengerti yang dibacanya dan mentaati petunjuk-Nya ?  WASPADA

Dokter Spesialis

  • Bagikan