Orang Beriman Bukan Pengejek

Orang Beriman Bukan Pengejek

  • Bagikan

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka (orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan mata. Dan apabila kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira ria. Dan apabila mereka melihat (orang mukmin), mereka mengatakan, sesungguhnya mereka benar-benar orang sesat. Padahal (orang yang berdosa itu), mereka tidak diutus sebagai penjaga (orang Mukmin) (QS. Al-Muthaffifin: 29-33)

Dulu orang beriman biasa menerima ejekan orang kafir. Tapi kini justru, orang yang mengaku beriman pengejek orang kafir? Pada awal pertumbuhan dan perkembangan Islam, orang kafir biasanya menertawakan dengan maksud menghinakan atau merendahkan orang beriman.

Ayat di atas dengan jelas menggambarkan yang biasa menertawakan, mengedipkan mata atau bahasa sarkasme non-verbal lainnya (dengan maksud melecehkan), dan bahkan menuduh orang beriman itu sesat adalah kebiasaan orang kafir. Bukan akhlak orang beriman.

Ada prinsip yang disampaikan kiai pesantren, kalau orang kafir menghina Nabi Muhammad SAW dihina menyangkut pribadi, biasanya Rasulullah SAW langsung dan mudah memaafkan atau menghadapi pencelanya secara lembut. Ada banyak kisah terkait itu. Namun kalau yang dilakukan orang kafir menyangkut kepentingan umum umat Islam, biasanya Nabi Muhammad SAW bersikap tegas.

Kini, sebagian kita umat Islam agaknya mudah “marah” ketika kita dihina secara pribadi. Malahan menjadikan persoalan pribadi itu seakan kepentingan umum umat Islam? Padahal tidak ada kaitannya dengan itu.

Jika kita umat Islam tidak mau menerima penghinaan orang lain terhadap diri kita, rasanya keimanan kita perlu kita renungkan kembali. Pasalnya, para nabi dan orang beriman dulu biasanya diejek oleh penentangnya.

Kini tampaknya banyak yang agak terbalik. Kita mengaku beriman, tetapi masih gemar menghinakan. Mengucapkan kata kasar kepada orang dengan keyakinan lain. Menunjukkan bahasa tubuh atau isyarat meremehkan. Menuduh menilai orang sesat secara berlebihan.

Padahal sebagaimana dipetik dalam ayat di atas, kita bukanlah ditugaskan untuk menjaga perilaku orang lain. Kita bukanlah pengawas perbuatan orang lain. Kita tidaklah bertanggungjawab atas perbuatan orang lain. Kita bukanlah pemberi hidayah, kita hanya penyampai pesan agama disertai sikap tawaduk bukan takabur.

Barangkali beberapa di antara kita “oknum orang Islam kini” sebagaimana nama surah ayat di atas “Al-Muthaffifin; curang?” Kita berharap takaran sempurna dari orang lain. Padahal, kalau kita yang menimbang barang orang lain, wazan yang kita gunakan neraca curang?

Kita meminta kepada orang lain menghormati kita, tetapi kita kurang menghormati orang lain. Kita memohon orang lain tidak mengaibi dan memfitnah kita. Namun kita mencaci maki orang lain. Kita ingin agar orang lain tidak menyakiti kita, cuma kita menyakiti orang lain. Kita berharap diagungkan, tapi kita malah mengerdilkan orang lain.

Maka kita perlu menakar dan menimbang secara adil, bukan curang. Alangkah lebih baiknya kalaulah kita menunjukkan akhlak karimah. Bahkan ketika orang lain berbuat curang, kita tetap jujur. Ketika orang lain menghinakan, kita berupaya memuliakannya. Saat orang lain mengecilkan, kita berusaha membesarkannya. Tatkala orang lain mengejek, kita mengajaknya jalan kebaikan. Begitulah seterusnya.

Ayat di atas mengajari kita, menertawakan orang, menunjukkan bahasa tubuh, dan membuat penilaian buruk terhadap orang lain adalah kebiasaan sikap orang kufur. Sikap demikian, bukanlah sikap dan tanda orang beriman. Sebagai orang beriman marilah berupaya menerima “ejekan atau kritikan” orang lain, bahkan terhadap agama kita? Tanpa spontan harus berpikir membalasnya. Biarkanlah Tuhan pada hari Akhirat yang menilai serta mengadili atas pilihan sikap dan perilaku yang diperbuat manusia.  WASPADA

Guru MAN IC Tapsel

  • Bagikan