Waspada
Waspada » Nazar Kurban
Al-bayan Headlines

Nazar Kurban

Oleh Tgk. Helmi Abu Bakar El-Langkawi, M. Pd

Kami wuquf bersama Rasulullah SAW, Aku mendengar beliau bersabda,”Wahai manusia, hendaklah atas tiap-tiap keluarga menyembelih udhiyah tiap tahun (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan At-Tirmizy)

Kita sering dalam keseharian mengupayakan berbagai cara untuk bisa meraih cita-cita dan keinginan termasuk dengan bernazar (meukaoy dalam bahasa Aceh). Bahkan bernazar itu dalam bentuk udhiyah (berkurban).

Lantas kurban seperti ini masuk dalam katagori wajib atau sunat? Syariat Islam itu universal terkadang perkara sebuah sunat bisa berubah kepada wajib apabila diikat diri dengan bernazar. Problema ini juga berlaku pada udhiyah. Nadzar itu sendiri adalah sebuah janji kepada Allah SWT yang apabila permintaannya dikabulkan Allah, maka dia akan melakukan salah satu bentuk ibadah sunat yang kemudian menjadi wajib untuk dikerjakan.

Apabila kita ada keinginan bernadzar untuk menyembelih hewan udhiyah membuat hukumnya berubah dari sunnah menjadi wajib. Baik dengan menyebutkan hewannya yang sudah ditentukan, atau tanpa menyebutkan hewan tertentu.

Salah satu fenomena yang sering terjadi seorang peternak atau membawakan kambing untuk dijual atau lainnya, ketika ditanyakan kepada mereka,”apakah itu kambing untuk kurban”, si empu kambing menjawab : “ya, untuk ini untuk kurban”, walaupun mereka menjawab asal-asalan atau tidak, secara tidak langsung kambing tersebut sudah menjadi udhiyyah wajibah (kurban wajib) dan dilarang untuk dimakan ketika kurban nanti serta tidak dipedulikan maksud mereka menjawab untuk selain kurban wajib.

Kejahilan pada diri mereka tidak menghilangkan dan menggugurkan itu sebagai kurban wajib, hanya saja yang gugur berupa dosa disebabakan kejahilannya, sedangkan dhimmah (tanggungan) sebagai kurban wajib masih tetap (Imam Ramli, Nihayah Muhtaj: 8: 137, Darul Kutub, Bairut, Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfah Al-muhtaj: 9: 412-413, darul Fikr, Syekh Ibrahim Bajuri, Kitab Al-Bajuri: II: 296).

Lantas apakah semata perkataan saja seperti redaksi tersebut menjadi kurban wajib? Menjawab pertanyaan tersebut, Al-Mursyid Almukarram H. Hasanoel Basri atau akrab disapa Abu MUDI salah seorang ulama kharismatik Aceh Pimpinan Ponpes (Dayah) MUDI Mesjid Raya Samalanga menjawab dalam pengajian rutin Tastafi setiap Hari Rabu di Samalanga.

Abu MUDI menyebutan perkataan seseorang ketika itu sebagai ikhbar (mengkhabarkan). Seperti yang kita maklumi “khabar” merupakan sebuah ucapan yang ihtimal (kemungkinan benar dan salah). Sesuatu yang ihtimal belum bisa dijadikan sandaran hukum serta memerlukan kepada murajih (penyokong)nya.

Makanya baru bisa dihukumi perkataan seseorang ketika membawa hewan kurban menjawab “ya ini hewan kurban” kepada udhiyyah wajibah (kurban wajib), apabila disertai dengan insya’ (keinginan). Intinya harus ada insya’ (keinginan) dari orang yang berkata tersebut bukan hanya semata lafalnya terhadap kasus diatas dalam masyarakat.

Di samping itu ada juga dalam masyarakat sering terjadi ketika tercapai sebuah cita-cita atau harapannnya, maka terucaplah perkataan: “Demi Allah saya akan berkurban dengan hewan ini,” wajiblah orang tersebut berudhiyyah pada waktu itu.

Jikalaupun hewan yang akan dikurbankan tadi tidak memenuhi kriteria hewan kurban, namun tidak boleh diganti dengan yang lain sekalipun itu hewan udhiyah yang lebih bagus dan memenuhi kriteria. Sedangkan niat saja dalam hati itu tidak dihitung dalam pandangan syara sebagai nazar, mesti diucapkan (Nihayah Muhtaj: 8: 136, Tuhftul Muhtaj: 8: 412-413, Al-Bajuri: II: 296)

Beranjak dari itu, dalam beribadah termasuk berkurban sangat penting ilmu dan pengetahuan sehingga ibadah yang kita kerjakan tidak sia-sia. Disamping berlomba dalam beribadah tidak lupa pula untuk menuntut ilmu sehingga sempurna ibadah kita. Wallahu Muaffiq Ila ‘Aqwamith Thariq.    WASPADA

Dewan Guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan Pengajar di IAI Al-Aziziyah Samalanga

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2