Nafkah Halal-Baik

Nafkah Halal-Baik

  • Bagikan

“Dan di Langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan Langit dan Bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan” (QS. Adz-Dzariyat: 22-23)

Ibn Umar meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang membeli pakaian dengan harga sepuluh dirham, satu dirham di antaranya uang yang haram, maka Allah tidak akan menerima sholatnya selama pakaian itu masih dipakainya. Kemudian Ibn Umar memasukkan jarinya ke dalam dua telinganya, lalu berkata, “Biarkanlah telinga ini tuli kalau tidak mau mendengarkan perkataan dari Rasulullah ini” (HR. Imam Bukhari).

Karena ketakutan yang tidak berdasar, banyak di antara umat Islam yang meragukan rizki, sehingga dalam mencari nafkah mereka tidak peduli halal-haram, tetapi fokus pada banyak dan menguntungkan, mudah dan cepat serta melalui cara apa saja. Biasanya manusia melihat rezeki hanya berupa materi, angka, dan segala macam bentuk harta benda.

Tidak heran, kalau ada orang mendapatkan uang yang banyak dikatakan mendapat rezeki berlebih. Sebaliknya, yang tidak, disebut belum ada rizki. Padahal, rezeki itu bukan semata harta saja. Rezeki berasal dari kata Razaqa-Yarzuqu-Rizq yang berarti A’tha-Yu’thi-Tha’ bermakna pemberian.

Rezeki adalah sebagai sesuatu apa pun yang bisa dikuasai atau diperoleh oleh makhluk, baik yang bisa dimanfaatkan atau tidak. “Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi” (QS. Al An’am: 151).

Ayat ini menjelaskan, bahwa rezeki yang bersifat materi yang dibutuhkan oleh fisik manusia, maka tidak boleh mengkhawatirkannya, meski terhadap anak keturunan, walau hidup ini mungkin dalam kesulitan. Karena Allah SWT yang menjaminnya.

Karena itu, haram seorang Muslim melakukan keburukan atas dasar apa saja. Seorang Muslim harus tetap dalam kebenaran dalam situasi dan kondisi bagaimanapun juga. Banyak hikmah dan manfaat yang diperoleh ketika satu keluarga diberkahi Allah SWT.

Kehidupan yang rukun, anak yang taat dan patuh, tetangga yang baik serta kecukupan dalam hal rezeki adalah buah dari keberkahan. Meski secara lahirnya, keluarga tersebut hidup tanpa kekayaan yang berlimpah. Salah satu cara yang dapat mengundang keberkahan adalah dengan bertawakal dan meningkatkan ketakwaaan kepada Allah SWT.

Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Ia akan menjadikan baginya jalan keluar. Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya (keperluannya)…” (QS. at-Thalaq: 2-3).

Seseorang yang memiliki ketakwaan, tentu akan selalu mengingatkan keluarganya untuk melaksanakan amal. Peran orang tua dalam memberikan nafkah yang halal juga berpengaruh terhadap keluarga, termasuk perkembangan anak. Sebagai contoh, Imam Bukhari sebagai ahli hadis yang memiliki daya ingat yang luar biasa.

Keberhasilan Imam Bukhari tidak lepas dari ikhtiar ayahnya yang selalu memberi nafkah halal. Sesuatu yang syubhat tidak pernah sedikitpun ayahnya berikan. Sehingga, nilai-nilai kebaikan dan keberkahan senantiasa mengalir dalam diri Imam Bukhari. “Bertakwalah kepada Allah dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Ambillah yang halal, tinggalkan yang haram!” (HR. Imam Ibnu Majah).

Allah SWT memerintahkan manusia untuk mencari rezeki yang halal untuk keluarga. Rasulullah SAW sangat mencintai orang-orang yang bekerja keras. Diriwayatkan suatu ketika Rasulullah berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari.

Ketika itu Rasulullah SAW melihat tangan Sa’ad yang melepuh, kulitnya gosong kehitaman seperti lama terpanggang matahari. Rasulullah SAW bertanya, “Kenapa tanganmu?”. Sa’ad menjawab, “Wahai Rasulullah, tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku.”

Seketika itu, Rasulullah SAW mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, ”Inilah tangan yang tidak pernah tersentuh api neraka.” Setiap makhluk, Allah jamin rezekinya (QS. 11: 6), dan tidak satu pun makhluk akan meninggalkan dunia ini, kecuali telah sempurna rezeki yang telah ditetapkan Allah baginya.    WASPADA

Dosen FAI Univa Medan, GPAI SMKN 1 Lubukpakam, Pengurus MGMP PAI SMK Kab. Deli Serdang

  • Bagikan