Muraqabah Dan Manusia Pembelajar

Muraqabah Dan Manusia Pembelajar

  • Bagikan

Allah telah mengangkat orang-orang yang beriman dari golongan kamu, dan begitu pula orang-orang yang dikaruniai pengetahuan beberapa derajat’, dan Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. al-Mujadilah [58]: 11)

 

Muraqabah berasal dari akar kata “ra qa ba” yang berarti penjagaan dan pengamatan. Muraqabah dapat diartikan sebagai suatu keyakinan yang dimiliki seseorang bahwa Allah SWT senantiasa mengawasinya, melihatnya, mendengarnya, dan mengetahui segala apapun yang dilakukannya dalam setiap waktu, setiap saat, setiap nafas atau setiap kedipan mata.

Muraqabah adalah kebersamaan Allah SWT yang tiada henti. Allah SWT yang menjadi sumber inspirasi untuk setiap tindakan dan langkah. Hasil dari sikap muraqabah adalah berperilaku baik dan bersih hanya karena Allah SWT, dimanapun dan kapanpun. Muraqabah merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang Muslim.

Karena dengan muraqabah inilah, seseorang dapat menjalankan ketaatan kepada Allah SWT dimanapun ia berada, hingga mampu mengantarkannya pada derajat seorang Mukmin sejati, manusia pembelajar. Ada banyak perintah Allah kepada manusia untuk belajar serta fasilitas yang disediakan yang menjadikan manusia sebagai makhluk terpelajar.

Manusia adalah makhluk yang memerlukan pendidikan atau “homo educandum”. Manusia dipanggil sebagai homo educandum karena manusia diciptakan dalam keadaan lemah tetapi memiliki potensi yang dahsyat apabila memperoleh pendidikan dan harus dididik terhadap setiap individu.

Manusia juga disebut sebagai homo educandum, yang maksudnya bahwa manusia itu dikaruniai kemampuan mendidik. Melalui pendidikan inilah manusia dinobatkan sebagai khalifah yang tugasnya adalah memakmurkan dan mensejahterakan kehidupannya di bumi.

Dengan statusnya sebagai terpelajar, Allah mengangkat manusia kepada derajat yang tinggi sebagaimana kutipan ayat di awal tulisan. Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa menempuh suatu jalan menuntut ilmu di dalamnya, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Tidak akan berkumpul suatu kaum dalam rumah dari beberapa rumah Allah, dimana mereka membaca kitab dan mempelajari, melainkan para malaikat akan menaungi mereka dan turunlah kepada mereka ketentraman, dan rahmat meliputi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka sebagai orang yang berada di sisi-Nya (HR. Muslim).

a. Dari Terpelajar ke Pembelajar. Manusia terpelajar adalah orang yang telah mendapatkan pendidikan yang cukup, memiliki ilmu pengetahuan, akhlak budi pekerti yang luhur dan bermanfaat bagi masyarakat. Sedangkan manusia pembelajar adalah terpelajar plus, maksudnya adalah seorang terpelajar yang terus belajar.

Kalau terpelajar cenderung berorientasi pada masa lampau, misalnya merujuk pada pendapat profesornya atau buku-buku yang telah dibacanya. Sedangkan seorang pembelajar lebih berorientasi pada masa depan, misalnya bagaimana ilmu yang didapatkan itu didialektikan dengan fenomena yang ada atau permasalahan yang hendak dipecahkan.

Al-Quran menyebut orang pembelajar itu dengan istilah rabbani: “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (QS. Ali Imran [3]: 79).

b. Dari Pembelajar Menjadi Bijak. Manusia pembelajar lebih tinggi kedudukannya dari manusia terpelajar. Al-Quran menyebutnya sebagai orang yang mampu mencapai hikmah. Dalam al-Quran, manusia-manusia pembelajar dicontohkan seperti Lukmanul Hakim. “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu:

“Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji”. (QS. Luqman [31]: 12).

c. Dari Pembelajar Menuju Kemenangan. Dalam kehidupan yang ditandai dengan perkembangan ilmu, globalisasi dan persaingan yang ketat, maka diperlukan manusia-manusia pembelajar yang mampu tampil sebagai pemenang.

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan (QS. at-Taubah [9]: 20).

Kepatuhan dalam kebersamaan dan menjadikan Allah SWT sebagai sumber inspirasi untuk setiap tindakan dan langkah membutuhkan disiplin untuk terus belajar tiada henti. Muraqabah, dengan demikian, mendorong orang beriman untuk menjadi manusia pembelajar.

Terus belajar adalah pesan dari wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw. Melalui wahyu ini, Nabi Saw. kemudian terus “berdekatan dengan Allah SWT” dengan terus-menerus mendapatkan bimbingan Allah SWT terus-menerus hingga mencapai kemenangan. Manusia pembelajar adalah seseorang yang senantiasa belajar tentang (learning about), belajar melaksanakan (learning to do), dan belajar menjadi (learning to be) manusia yang manusiawi. Manusia pembelajar adalah “manusia” (human being) yang belajar “menjadi manusia” (being human).

Akibat kegagalan sebagian besar orang dalam melakukan hal (tidak menjadi manusia pembelajar) inilah yang menjadi sebab carut-marutnya seluruh aspek kehidupan manusia. Manusia pembelajar adalah orang-orang yang menjadikan kegiatan belajar sebagai bagian dari kehidupan dan kebutuhan hidupnya.

Ketika belajar telah menjadi kebutuhan, maka ilmu akan menjadi baju terindah bagi dirinya, pengetahuan akan menjadi lautan samudera bagi dirinya karena setiap saat mereka akan rindu dengan ilmu dan akan haus pengetahuan. Manusia pembelajar memiliki 5 (lima) karakteristik sebagai berikut :

1. Rasa ingin tahu yang tinggi. Dengan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, berarti manusia pembelajar memiliki motivasi untuk mengetahui banyak hal dari kehidupan diri dan lingkungannya. Dengan motivasi yang tinggi dalam dirinya, maka akan tercipta kinerja yang tinggi dalam berbagai aktivitas. Termasuk kinerja dalam belajar baik melalui membaca, maupun melalui penglihatan dan pendengarannya.

2. Optimisme yang tinggi. Dengan banyak membaca, maka manusia pembelajar akan memiliki confidence yang tinggi. Rasa percaya diri yang tinggi merupakan landasan yang kuat untuk memiliki optimisme yang tinggi.

3. Ikhlas. Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak pernah berharap sesuatu dari apa yang telah dilakukannya. Orang yang dengan ikhlas menambah ilmu dengan belajar, tidak akan berharap mendapat pekerjaan yang baik, dengan banyak belajar tidak berharap dapat jabatan yang tinggi, tapi orang ikhlas yakin bahwa apa yang dikerjakannya akan mendapat balasan.

4. Konsisten. Manusia pembelajar akan terbiasa untuk belajar. Kebiasaannya inilah yang menjadikan dia konsisten dalam belajar. Selain kebiasaan, motivasi yang tinggi untuk belajar pun menjadikan kekonsistenan melekat dalam jiwanya.

5. Pandangan visioner. Manusia pembelajar memiliki pandangan jauh ke depan melebihi pemikiran kebanyakan orang. Mereka tidak tergoda untuk melakukan apa saja demi mendapatkan hasil yang instan. Mereka tidak mengejar target jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang.

Manusia pembelajar dengan modal segudang pengetahuannya akan memunculkan ide-ide kreatif yang tidak pernah terpikir oleh orang lain. Mereka merangkaikan berbagai ilmu dan pengetahuannya untuk menghasilkan sesuatu yang baru yang bermanfaat bagi orang lain sebagai cara pandang mereka ke depan.

Muraqabah sangat erat kaitannya dengan kecerdasan spritual yang kemudian menghasilkan pandangan visioner. Para Nabi dan Rasul adalah orang-orang visioner yang membawa ummatnya ke wilayah yang tak terpikirkan oleh ummatnya. Para pemimpin dan knowledge worker membutuhkan pribadi visioner yang dapat mensejahterakan dan menyelamatkan dunia dan Akhirat.

Visioner berarti berpandangan jauh ke depan, tidak sebatas berorientasi masa kini apa lagi ke masa lalu. Seorang yang visioner ia akan selalu belajar, meneliti serta mengembangkan berbagai potensi. Kemampuan manusia untuk melihat masa depan yang sesungguhnya abstrak dan probabilitas ini justru diperintahkan oleh Allah :

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri, mengevaluasi kembali apa yang telah dilakukan untuk menata hari esok. Dan bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan”. (QS. Al-Hasyr [59]: 18).

Muraqabah Membentuk Karakter Visioner Ilahiyah, Orang yang visioner membayangkan hal-hal yang orang lain tidak dapat membayangkannya.. Seseorang yang visioner memiliki kemampuan melihat gambaran besar (big picture) dan menghubungkan pelbagai faktor untuk menciptakan gambaran itu. Nabi Yusuf digambarkan sebagai seorang visioner yang dapat melihat masa depan, kemudian melakukan rencana antisipasi dan berhasil melaksanakannya.

Keberhasilan Nabi Yusuf ini karena, “ia melihat tanda-tanda dari Rabbnya” dan menjaga keikhlasan (QS. Yusuf : 24). Nabi Yusuf juga memilih untuk tetap bersama Allah daripada hidup bergelimang kemaksiatan, Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan aku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh (QS. Yusuf: 33).

Kesemuanya menunjukkan sifat muraqabah yang kemudian menghasilkan kemampuan menemukan visi masa depan. Muraqabah Berhijrah ke Masa Depan. Peristiwa hijrah Rasulullah Saw. adalah momentum terpenting bahkan memiliki nilai sakral yang sarat akan makna dan penuh dengan hikmah. Sedang bagi seluruh umat manusia, hijrah adalah kata kunci untuk meraih keberhasilan atau kejayaan.

Hijrah dengan hati adalah menuju Allah SWT dan rasul-Nya dan Hijrah dengan badan dari tempat yang tidak kondusif kepada tempat kondusif. Semoga dengan muraqabah kita menjadi pembelajar sejati.  WASPADA

Guru Besar UIN Sumatera Utara

  • Bagikan