Waspada
Waspada » Muhasabah Diri Di Penghujung Tahun
Al-bayan Headlines

Muhasabah Diri Di Penghujung Tahun

Oleh Prof Muzakkir

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan (QS.Al-Hasyar: 18)

Penghujung tahun 2020 M ini adalah momentum muhasabah diri-perenungan diri. Bahwa setiap waktu yang berlalu, setiap denyut nadi dan nafas sesungguhnya menyadarkan kita sudah semakin dekat menuju pintu gerbang kematian, menuju Allah SWT. Sudahkah perbekalan terbaik kita siapkan untuk kebahagiaan dunia dan Akhirat…?

Ketakwaan kepada Allah SWT, menjaga diri dari azab-NYA, dengan menjalankan perintah-NYA dan menjauhi larangan-NYA, evaluasi terhadap ibadah dan kinerja di masa lalu, persiapan dan perencanaan untuk menghadapi masa depan dan kerja-kerja nyata terhadap hasil evaluasi dan hal-hal yang telah direncanakan. Semua itu harus menjadi prioritas dan kepentingan yang utama dalam muhasabah diri.

Setidaknya ada lima kepentingan utama yang harus senantiasa terjaga sebagai muhasabah diri dalam perjalanan kehidupan ini ; Pertama, Syariat Islam melindungi hak manusia untuk beragama dan menjalankan ajaran agama dan menjaganya (hifz al-din). Menjaga agama artinya menjaga Akidahnya (Tauhidnya, Keimanan yang benar/Rukun Iman) agar terhindar dari segala kekufuran dan kemusyrikan.

Menjaga Syariatnya (mengamalkan ajaran-ajaran Islam secara benar/Rukun Islam), dan menjaga Akhlaknya (menjalani kehidupan ini dengan nilai-nilai moralitas yg terpuji dan berperadaban, berbuat yang terbaik, mengutamakan kejujuran dan keadilan sekalipun tidak ada orang yang melihatnya karena kesadarannya bahwa dirinya dilihat Allah, diawasi Allah/Ihsan).

Di antara kekhawatiran umat saat ini adalah munculnya berbagai aliran sesat, perbuatan dengan doktrin menyesatkan, Ketauhidan lemah, rendahnya kesadaran dan etika moral yang tidak terpuji. Al-Qur’an telah mengingatkan fenomena ini:

Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalannya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa (QS.al-An’am:153).

Kedua, Syariat Islam melindungi hak hidup manusia (hifz al-nafs). Segala upaya yang dilakukan untuk mengakhiri hidup baik diri sendiri (bunuh diri) maupun orang lain, tanpa alasan yang dibenarkan (ghairu al-haqq) pada hakikatnya bertentangan dengan syariat Islam. Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan Karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan Karena membuat kerusakan di muka bumi, Maka seakan-akan dia Telah membunuh manusia seluruhnya dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya... (QS.al-Maidah:32).

Al-Nafs (jiwa) merupakan hakikat kemanusiaan seseorang. Jiwalah yang membuat manusia berbeda dengan makhluk lainnya. Dalam jiwa ditempatkan ruh; keduanya ditempatkan dalam jasad. Jadi, selama perjalanannya di bumi, jiwa (nafs) menggunakan kendaraan jasad.

Diberikannya perangkat jasad kepada jiwa dimaksudkan agar jiwa dapat mengambil bagian dalam pendidikan Ilahiyah yang ditebarkan di bumi. Dalam Al-Qur’an, kata al-nafs bermakna: Pertama, sebagai totalitas manusia (jasmani dan rohani, sisi luar dan sisi dalam); Kedua, sebagai sisi dalam manusia.

Al-nafs sebagai sisi luar maksudnya adalah sisi kemanusiaan yang tampak dengan jelas. Sedangkan al-nafs sebagai sisi dalamnya adalah sisi yang tidak tampak kacamata biasa manusia. Namun dapat berfungsi sebagai penggerak tingkah laku manusia yang membuatnya mampu melakukan perubahan. Dengan kata lain al-nafs sebenarnya adalah unsur yang menggerakkan tingkah laku manusia.

Ketiga, Syariat Islam melindungi akal (hifz al-‘aql) dan menjaga kecerdasan manusia dan hak menyampaikan pendapat dan kecerdasan itu untuk kemaslahatan manusia. Karena itu segala aktivitas merusak akal, seperti Narkoba dan lainnya diancam hukuman berat. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan (QS. .al-Maidah: 90).

Keempat, Syariat Islam menjaga kelangsungan generasi dan kehormatan diri (hifz al-nasl wa al-‘ardh). Perlindungan terhadap hak-hak keluarga dan nama baik ini menjadi demikian penting, sehingga segala bentuk penyimpangan seksual, prostitusi, homoseksual, lesbian dan kejahatan terhadap anak-anak tidak dibenarkan dalam syariat Islam. Kelangsungan dan keselamatan generasi menjadi perhatian yang sangat besar dalam syariat Islam.

Karena itu secara tegas diingatkan agar manusia yang beriman memelihara diri dan keluarganya dari api neraka.“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. al-Tahrim: 6).

Kewajiban kita adalah menjadikan generasi bangsa ini generasi qurani, yang cerdas intlektualnya dan cerdas hati nuraninya. Generasi yang lebih pandai, lebih sukses dan lebih hebat dari diri kita sendiri. Para Nabi selalu berdoa untuk generasinya. Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah Aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa (QS. Ali-Imran:38).

Kelima, Syariat Islam melindungi hak kepemilikan dan harta benda (hifz al-mal). Syariat Islam mengatur bagaimana mendapatkan harta dan menggunakannya. Segala bentuk upaya yang dilakukan dengan cara tidak benar, mendapatkan harta dengan cara bathil, perjudian, pencurian, korupsi, kolusi dan mengembangkan harta dengan system riba, penipuan, serta merugikan (menzalimi) pihak lain dan mempergunakannya secara tidak benar adalah rangkaian perbuatan yang tidak halal.

Sebagian akibat jika tidak mempedulikan halal dan haramnya (makanan, minuman, sumber-sumber rezeki). Dalam Kitab Al-Fawaid karya Al-Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyah) disebutkan; terhijab diri dari mengenali kebenaran, hati menjadi rusak dan keras, doa tidak dikabulkan Allah, tidak mendapatkan keberkatan pada rezeki dan umur.

Berkahnya rezeki itu ditandai tiga hal, yaitu adanya kebaikan yang bertambah, rasa tenang dan nyaman serta membawa manfaat yang baik. Sedangkan kurang mendapat petunjuk dari Allah, semakin jauh dari hidayah-NYA, terhalang dari mendapat ilmu, fikiran resah dan tidak tenteram, seperti memasukkan bara api neraka kedalam perutnya, dan lain-lain.

Semoga dengan muhasabah diri kehidupan kita hari ini lebih baik dari masa lalu, bertambah baik dan menjadi yang terbaik. Semakian berkualitas dalam pengamalan ajaran agama secara benar, menjaga nilai-nilai kehidupan bermartabat, dapat mewarisi generasi Qurani pemimpin masa depan yang berakhlak mulia, dan dapat menikmati rezeki karunia Allah SWT yang halal dan berkah. Sehingga membawa kebaikan dan manfaat dunia Akhirat. Waspada

Guru Besar Fakultas Ushuluddin Dan Studi Islam UIN Sumatera Utara

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2