Waspada
Waspada » Moderasi Beragama Dalam Perspektif Tasawuf
Al-bayan Headlines

Moderasi Beragama Dalam Perspektif Tasawuf

Oleh Prof Muzakkir

Pengajaran tasawuf dan institusinya yang berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah memang bisa menambah dalamnya spiritualitas agama dan menjadi sarana pembinaan akhlak mulia

Tasawuf merupakan salah satu bidang kajian Studi Islam yang memusatkan perhatiannya pada upaya pembersihan aspek batiniah manusia yang dapat menghidupkan kegairahan akhlak yang mulia. Tasawuf juga  mempelajari dan mendalami segala hal-hal yang dapat menghalangi manusia dari Allah SWT—sekaligus meluruskan penyimpangan kejiwaan dan tindakan dalam masalah yang berkaitan dengan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri, dan dengan orang lain.

Tujuan tasawuf di antaranya adalah ; Memperoleh hubungan sedekat mungkin dengan Yang Mahakuasa, setelah terlebih dahulu membangun kesadaran dirinya. Inilah yang diperoleh melalui taqarrub ila Allah, mengarahkan dan membimbing kejiwaan ke arah jiwa yang bersih, sehat dan sempurna.

Inilah yang dicapai oleh tazkiyatun nafs, Terkondisikannya sikap mental yang melahirkan karakter kepribadian yang luhur dan bijaksana. Inilah yang dicapai dengan takhalluq bi al-akhlaaq al-karimah. Diperolehnya keyakinan yang bulat atas keimanan dan keislaman sehingga tidak tergoyahkan oleh suasana apapun.

Inilah yang dicapai oleh ilmu hakiki, Memperoleh jalan menuju kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat. Inilah yang hendak dituju semua manusia, yaitu kebahagiaan sejati. Selain daripada itu  ilmu tasawuf perlu dimasyarakatkan pada kehidupan modern saat ini.

Karena ilmu tasawuf  turut serta terlibat dalam berbagai peran dalam menyelamatkan kemanusiaan dari kondisi kebingungan akibat hilangnya nilai-nilai spiritual dan memperkenalkan literatur atau pemahaman tentang aspek esoterik (kebatinan) Islam. Baik terhadap masyarakat islam yang mulai melupakannya maupun non islam.

Khususnya terhadap masyarakat barat serta untuk memberikan penegasan kembali bahwa sesungguhnya aspek esoterik Islam, yakni sufisme, adalah jantung dari ajaran Islam. Sehingga bila wilayah ini kering dan tidak berdenyut, maka keringlah aspek-aspek lain ajaran Islam.

Pengamalan ajaran tasawuf akan membawa pada pencerahan hidup. Tasawuf akan melahirkan manusia berkepribadian yang shalih dan berperilaku baik dan mulia serta ibadahnya berkualitas. Pengajaran tasawuf dan institusinya yang berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah memang bisa menambah dalamnya spiritualitas agama dan menjadi sarana pembinaan akhlak mulia.

Moderasi beragama yang sedang dikembangankan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN-SU) sesungguhnya sangat terkait dengan kajian tasawuf. Karena moderasi beragama adalah memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama secara benar, adil dan seimbang, agar terhindar dari perilaku yang menyimpang yang tidak ada di ajarkan di dalam agama.

Kementerian Agama RI terus berusaha untuk mengembangkan Tiga Wajah Islam Indonesia yaitu; Islam Moderat yang bisa menerima tradisi yang ada (dijaga dan dikembangkan), Islam Inklusif yang mampu mengembangkan seluruh dimensi sebagai rahmatan lil ‘alamin, dan Islam yang menekankan pada kecintaan kepada tanah air dan bangsa.

Moderasi beragama memiliki tiga substansi yang dikembangkan. Pertama, kembali pada inti pokok ajaran agama, yaitu kemanusiaan. Saling menghargai dan melindungi harkat dan martabat kemanusiaan. Dalam tasawuf hal ini disempurnakan dengan pembentukan pribadi yang Islami, yaitu kepribadian yang berjiwa Tauhid, kreatif, beramal sholeh, serta bermoral tinggi dengan berpijak pada trilogi hubungan manusia, yaitu:

1.Hubungan dengan Tuhan, karena manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya, 2. Hubungan dengan masyarakat yang harmonis, karena manusia sebagai anggota masyarakat, 3. Hubungan dengan alam, karena manusia sebagai pengelola, pengatur, serta pemanfaatan kegunaan alam dengan tetap menjaga kesantunan terhadap alam semesta.

Saat ini kita tidak cukup sekedar menjadi orang shalih yang bersifat  individual, tetapi harus menjadi orang mushlih, yang mampu mengajak orang lain dalam kebaikan, menjadi agent kebaikan, dan pencegah kemungkaran, menjadi reformis sejati, senantiasa melakukan perbaikan. “Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS.Huud : 117).

Kedua, Manusia memiliki keterbatasan dan keragaman agar antara satu dengan yang lain saling menyempurnakan, bukan saling melemahkan. Membangun nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang terhadap sesama, saling menyayangi, saling membela, saling membantu, bukan malah  saling mengejek, memfitnah dan menzalimi.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Mahapenyayang”(QS.al-Hujuraat: 12).

Dalam sebuah hadis disebutkan, “Barangsiapa mendatangi saudaranya dan membawakannya sesuatu yang disukainya dengan maksud untuk menggembirakannya, maka dengan sebab itu ia juga akan digembirakan Allah di hari kiamat” (HR. at.Thabrani). Sejatinya kita seperti filosofis jarum yang menyatukan dan menata indah sesuatu yang bercerai berai bukan seperti gunting yang bisa memisahkan sesuatu yang sudah tertata indah.

Ketiga, Manusia yang beragam latar belakang bisa hidup bersama secara tertib dengan penuh kesadaran. Tujuan agama dihadirkan agar tercipta ketertiban umum di tengah kehidupan bersama yang beragam. Bila kita merujuk pada kajian dan pengamalan ajaran tasawuf terkait moderasi beragama, maka titik fokusnya adalah bagaimana manusia yang mukmin itu memiliki jiwa, hati dan pikiran yang salim (selamat, sejahtera, dan damai).

Sehingga, bila seseorang itu telah memiliki hati yang bening dan damai, maka seseorang itu tidak mungkin lagi terperosok ke dalam perilaku maksiat dan dosa; dan akan senantiasa fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan; baik yang berhubungan kepada Allah SWT (vertikal), maupun kepada sesama manusia (horizontal).

Serta menyadari dengan kesucian hatinya akan adanya pertanggungjawaban hidup di hadapan Allah SWT, selalu menjaga hidupnya dalam kebenaran untuk tidak tergelincir dalam kebathilan. Manusia-manusia seperti inilah yang diharapkan bangsa dan negara, karena ia akan memberikan kontribusi kemaslahatan terhadap sesama manusia.

Selain itu, tasawuf akan membangun karakter ihsan, yaitu pribadi yang terjaga hati dan akalnya, akan memiliki dampak yang positif terhadap sifat dan sikap dalam hidup dan kehidupan manusia, di antaranya; a.Memperlunak hati seseorang sehingga ia cenderung bersedia menerima dan mengikuti kebenaran dan kebaikan (Ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya).

b.Membangkitkan kesadaran bahwa Allah SWT Maha Pengatur dan apa yang ditetapkan-Nya adalah baik, hanya mungkin manusia yang tidak mampu menangkap hikmah yang tekandung di dalamnya.

c.Meningkatkan kualitas amal kita, karena Allah SWT tidak menilai suatu perbuatan dari segi lahirnya saja, tetapi Dia menilainya dari segi motif dan keikhlasannya.

d.Memelihara diri dari godaan syaitan, karena setan hanya dapat menggoda dan menipu orang yang lalai kepada Allah SWT. e. Menahan diri dari berbuat kemaksiatan, karena selama ingat kepada Allah SWT, merasa diawasi Allah SWT, kita akan terhindar untuk melakukan sesuatu yang dilarang-Nya. Moderasi beragama dalam Tasawuf menumbuhkan kesadaran bahwa kehancuran moralitas dan kemaksiatan adalah hijab yang melindungi antara dia dengan Tuhannya dan akan menjerumuskannya ke jurang kebinasaan dan kehinaan.   WASPADA

Guru Besar Fakultas Ushuluddin Dan Studi Islam UIN Sumatera Utara

 

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2