Minta Syafa’at Nabi SAW Menentang QS Az-Zumar: 43, 44 ?

Minta Syafa’at Nabi SAW Menentang QS Az-Zumar: 43, 44 ?

  • Bagikan

“Katakanlah Hanya kepunyaan Allah SWT syafa’at itu semua. Kepunyaannya kerajaan Langit dan Bumi. Kemudian kepada-Nya-lah kami dikembalikan” (QS. Az-Zumar: 44)

Di antara ulama atau ustadz berkata: “Marilah kita mohon semoga Nabi SAW memberikan syafa’atnya kelak di Akhirat”. Apakah ucapan itu tidak menyalahi ketetapan Allah SWT, melalui QS. Al Mudatsir: 47, 48 Allah SWT menyatakan : “Hingga datang kepada kami kematian”. “Maka tidak berguna bagi mereka syafa’at orang orang yang memberikan syafaat”.

Kemudian HR Muslim, Nabi SAW menyatakan: “Apabila anak Adam mati, maka putuslah amalnya, kecuali 3 perkara…

Berarti segala makhluk Allah SWT tidak akan ada amalnya lagi, apakah mendengar dan sebagainya, setelah mereka wafat. Boleh mohon agar Nabi SAW turut berdoa mohon pada Allah SWT sebagai tawasul/wasillah, ketika Nabi SAW masih hidup. Setelah Nabi SAW wafat, minta bantuan Nabi SAW tidak boleh lagi, bermohonlah sendiri pada Allah SWT.

Bermohon agar Nabi SAW memberikan syafa’at, hal ini sangat merusak Tauhid. Buktinya adalah HR. Bukhari memberitakan: Pernah terjadi ketika musim kemarau, maka sahabat masing-masing berdoa bertawassul bersama Nabi SAW sebagai wasillah, maka turun hujan. Namun setelah Nabi SAW wafat, maka sahabat menggunakan sebagai wasillah bertawassul dengan Ibnu Abbas paman Nabi SAW.

Ini membuktikan tidak boleh di harapkan doa dari seseorang yang sudah wafat. Bila hal ini diperingatkan pada mereka, maka jawabnya: “Hal itu sesuai atau dibenarkan oleh HR Bukhari Muslim”, Nabi SAW menyatakan: “Bagi-tiap tiap Nabi ada permohonannya (ada doanya), maka saya mau InsyaAllah akan menyimpankan doa aku untuk syafa’at bagi umatku di hari Kiamat”.

Maka untuk hal ini perlu pembahasan yang lebih teliti, sejauh mana dapat digunakannya Hadis Bukhari Muslim di atas. Hal ini perlu di bahas, karena ini bukan masalah khilafiyah, atau furu’iyah, tapi menyangkut masalah Tauhid, ancamannya syirik, bila dibiarkan.

Pembahasan

Telah disepakati ulama, sifat sebuah Hadis adalah zhanni (diragukan) kebenarannya meskipun Hadis itu sahih. Ada 3 unsur untuk kesahihan (kebenaran) sebuah Hadis, yaitu: sanad (penerimanya), rawi (penyampainya) dan materinya (isinya) harus sahih. Meskipun sanad dan rawinya sahih, bila materinya bertentangan dengan Al-Qur’an, maka Hadis itu ditinggalkan (dimauqufkan).

Karena dimana Al-Qur’an sifatnya qath’i (mutlak = tidak diragukan). Mungkin ada yang bertanya: “Hadis itu adalah berita ucapan, perbuatan dan keijinan Nabi SAW. Apakah Nabi SAW, ucapannya, perbuatannya dan keizinannya diragukan atau bertentangan dengan Al-Qur’an (Allah SWT)?

Jawabnya: Meskipun sanad dan rawi sahih, masih terbuka kemungkinan, ada kesalahan yang tidak dapat diduga. Jadi keraguan itu bukan ditujukan pada ucapan, perbuatan atau keijinan Nabi SAW, tapi pada penerima/penyampai hadis itu, yang ada kemungkinan “salah dengar”, “salah tulis” dan sebagainya. Apalagi isi Hadis itu bertentangan dengan Al-Qur’an.

Pernyataan Allah SWT mengenai syafa’at pada QS Az-Zumar: 44 dimana, Allah SWT menyatakan: “Katakanlah!. Kepunyaan Allah SWT syafa’at itu semua”. Kemudian QS Azzumar 43: “Apakah mereka masih meminta syafa’at pada selain Allah?”

Berarti Allah SWT yang mempunyai/pemberi syafa’at. Dan Allah SWT telah menegur (“marah”) pada orang-orang yang meminta syafa’at pada selain Allah! Jadi bila kita betul meyakini kebenaran Al-Qur’an itu tidak diragukan kebenarannya, bahwa syafa’at itu kepunyaan Allah SWT semata.

Kenapa masih minta syafa’at pada selain Allah SWT?. Membuat atau meyakini yang lain mampu memberi syafa’at, berarti membuat tandingan (penyekutuan) pada Allah SWT, yang akan merusak Tauhid, ancaman nya syirik. Atau Anda telah memfitnah Nabi SAW, seolah Nabi SAW mengajarkan pada kita berbuat meminta syafa’at pada selain Allah SWT.

Adalah untuk diberikan oleh Nabi SAW atau wali-wali, pada yang memohon tetapi itu atas izin atau perintah Allah SWT. Berarti harus minta pada yang punya syafa’at yaitu Allah SWT. Jadi tidak boleh minta syafa’at pada Nabi SAW, tapi mintalah pada Nabi SAW agar Beliau memohon pada Allah SWT memberikan syafa’at-Nya pada seseorang yang diizinkan-Nya.

Permohonan itu dimohonkan ketika Nabi SAW masih hidup atau mungkin nanti di Akhirat. Jadi adalah salah bila minta tolong pada Nabi SAW setelah Beliau wafat. Ingat: Doa (permohonan) ditujukan hanya pada Allah SWT. Kita hanya boleh minta bantuan orang lain berdoa untuk kita. berarti orang itu masih hidup.

Bolehkah Minta Tolong Pada Yang Wafat?

Minta tolong hanya boleh (dimungkinkan) pada orang yang hidup. Orang yang sudah wafat, sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa, apakah berdoa, memohon ampun, taubat, dan sebagainya.

Rujukannya: QS. An-Nisaa’: 18, Allah SWT menyatakan: “Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang orang yang mengerjakan kejahatan manakala ia sudah dalam ajal (sakaratul maut), barulah ia mengucapkan: “Sekarang aku taubat”.

  1. Al-An‘am: 51, Allah SWT menyatakan: “…(pada hari Kiamat) sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa’at pun selain dari pada Allah SWT, agar mereka bertakwa.

Adalah memohon atau meminta didoakan oleh yang hidup boleh. Tapi memohon pada yang sudah wafat tidak boleh. Kemudian mohon syafa’at hanya pada Allah SWT sesuai QS. Az-Zumar: 43, 44. Kemudian bertawassul atau menjadikan wasillah yang hidup: boleh, dengan syarat yang dijadikan tawassul/wasillah harus turut berdoa.

Kemudian hanya tiga hal yang boleh dibuat jadi wasillah: 1.Sifat Allah SWT (Mahapengasih, Mahapenyayang, Mahapengampun…);  2.Amal saleh (misalnya: Berbakti kepada orang tua, puasa sunat); 3.Orang yang masih hidup (misalnya: para wali, ulama, tapi turut berdoa).

Kemudian jangan latah menggunakan kata, “hak Allah SWT” meskipun syafa’at sama artinya dengan pertolongan. Syafa’at adalah kepunyaan Allah SWT. “Pertolongan” datang dari manusia.

Hidayah: adalah datang dari Allah SWT. Petunjuk: datang dari manusia. Adalah “Berkat” = “oleh karena” tapi berkat adalah kepunyaan Allah SWT. Adalah “oleh karena” kepunyaan manusia.

Contoh: “Dengan berkat Allah SWT maka sukses usahanya”. Adalah “oleh karena” ketangkasannya maka ia selamat dari begal. Jadi tidak boleh mengatakan berkat ketangkasannya ia selamat dari begal.

Jadi berhati-hatilah menggunakan kata-kata itu hak Allah SWT digunakan pada manusia. Inilah konsekuensi dari Tauhid. Menggunakan sembarangan, terjebak merusak Tauhid, berakibat syirik.

Dimohonkan pada Ulama (profesor, Dr, dr, MA, Kiyai, Lc), ubahlah pola (cara) pikir. Kembalilah pada hukum dasar yaitu Al-Qur’an dan Hadis (sahih). Hal ini sesuai perintah Allah SWT melalui QS. An-Nisaa’: 59:

“Hai orang orang yang beriman, apabila kamu berbeda pendapat maka kembalilah pada Allah dan RasulNya, jika kamu beriman pada Allah dan hari Akhirat”. Buktikanlah kita taat pada Allah SWT dan Rasul-Nya, bukan taat pada mazhab. Amin ya Allah!    WASPADA

  • Bagikan