Milad Ke 95, Syaikh Yusuf Al-Qaradhawy

Milad Ke 95, Syaikh Yusuf Al-Qaradhawy
Oleh Ahmad Arif

  • Bagikan

Di usianya yang masih belia, belum genap 10 tahun, ia telah hafal 30 juz Al Qur’an. Ia melalui sekolah dasar hingga atasnya di Ma’had Thantha. Meraih gelar sarjana dari Fakultas Ushuluddin Universitas Al Azhar dengan nilai summa cum laude pada tahun 1952

Tanggal 9 September lalu, Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi genap berusia 95 tahun.  Presiden pertama Persatuan Ulama Internasional itu telah 6 kali berkunjung ke Indonesia.

                                             

Baginya, Indonesia merupakan salah satu negara yang selalu dicintainya, senantiasa dirindukannya, dan menyematkan harapan besar agar lebih berperan besar dalam percaturan umat dunia.

“Indonesia negeri Muslim terbesar di dunia. Indonesia tidak memiliki masalah dengan negara-negara Islam lainnya. Karena itu, Indonesia mempunyai kesempatan dan kekuatan untuk bertindak sebagai mediator dalam masalah konflik di berbagai negeri Islam”, ujarnya saat berkunjung ke Indonesia atas undangan Presiden SBY pada tahun 2007 lalu.

Pecinta Ilmu         

Syaikh Al-Qaradhawy lahir di Shaft Thurab, sebuah desa kecil di Mesir pada 9 September 1926. Di usianya yang masih belia, belum genap 10 tahun, ia telah hafal 30 juz Al Qur’an. Ia melalui sekolah dasar hingga atasnya di Ma’had Thantha.

Meraih gelar sarjana dari Fakultas Ushuluddin Universitas Al Azhar dengan nilai summa cum laude pada tahun 1952. Gelar doktor baru bisa diraihnya 20 tahun kemudian (1972) dari Al Azhar, karena ia berseberangan dengan rezim masa itu.

Sejak masih duduk di bangku SMP, Al-Qaradhawy telah aktif dalam gerakan al Ikhwan al Muslimun (IM) dan sempat berinteraksi langsung dengan pendirinya, Asy-Syahid Imam Hasan Al Banna. Pada tahun 1949, di usianya ke 23, Al-Qaradhawy dipenjara oleh rezim Raja Faruq.

Tujuh tahun kemudian (1956), ia kembali dipenjara pasca meletusnya revolusi Juni di Mesir. Tak lama setelah itu, ia dicekal pemerintah negaranya sendiri.

Dengan berat hati ia pindah ke Qatar hingga memperoleh kewarganegaraan negeri penghasil minyak terbesar di dunia itu.

Syaikh Al-Qaradhawy memiliki tujuh anak. Empat putri dan tiga putra. Salah seorang putrinya memperoleh gelar doktor fisika dalam bidang nuklir dari Inggris.

Putri keduanya memperoleh gelar doktor dalam bidang kimia juga dari Inggris, sedangkan yang ketiga masih menempuh S3.

Adapun yang keempat telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Texas Amerika. Anak laki-laki yang pertama menempuh S3 dalam bidang teknik elektro di Amerika.

Yang kedua belajar di Universitas Darul Ulum Mesir. Sedangkan yang bungsu telah menyelesaikan kuliahnya pada fakultas teknik jurusan listrik.

Isham Hilmi Talimah (2019), Sekretaris pribadi Syaikh Al-Qaradhawy sejak seperempat abad lalu membuat catatan bersambung dengan tema Ma’Al-Qaradhawy (bersama Al-Qaradhawy) mengisahkan, Al-Qaradhawy mempunyai ingatan yang luar biasa.

Ia hafal semua nomor-nomor telpon sahabat, keluarga dan instansi-instansi penting di Mesir dan Qatar, sehingga tidak butuh yellow paper yang memuat nomor-nomor tersebut. Bahkan, Al-Qaradhawy pernah menegur Isham, karena mengganti judul tulisan Asy-Syahid Hasan Al Banna.

“Saya pernah membaca tulisan tersebut dalam Koran Ikwanul Muslimin pada tahun 1947. Judulnya bukan seperti yang kamu tulis”, ujar Al-Qaradhawy sembari menyebutkan judul sebenarnya. 

Menulis Di Mana Saja

Lebih jauh Isham menuturkan bahwa Syekh Al-Qaradhawi mampu menulis di manapun berada. Isham memiliki dokumen tulisan tangan Beliau yang ditulis di kertas hotel, kertas pemesanan makanan, bahkan kadang-kadang di belakang daftar menu restoran.

Juga di atas kertas-kertas transaksi bank, kertas-kertas seminar, kertas-kertas dengan kop berbagai kementerian, kop bandara, kop hotel, kop tempat-tempat seminar dari berbagai negara. Ini menunjukkan Beliau telah berkeliling ke banyak belahan dunia. 

Isham mengatakan, “Pernah suatu kali saya melakukan perjalanan pesawat dengan Beliau. Dalam perjalanan itu saya tidur sepanjang perjalanan, sementara Beliau terus terjaga. Kadang saya terbangun satu dua kali, dan saya lihat Beliau menulis.

Saya melanjutkan tidur sementara Beliau melanjutkan menulis. Ketika sampai di tujuan, Beliau menyerahkan kepada saya suatu pembahasan (hasil tulisan tangannya tadi) untuk saya tulis di kamputer”. 

Cendikiawan kita, Hajriyanto Y Thohari (2007) menggambarkan Syaikh Al Qaradhawy  sebagai ulama ensiklopedis, ulama paripurna, ulama par excellence! Karya-karyanya lebih dari 130 buku, hampir meliputi seluruh aspek ilmu-ilmu keislaman.

Persoalan yang dibahas dalam buku-bukunya sedemikian lengkapnya, mulai persoalan-persoalan keagamaan yang klasik dan klise sampai ke problem-problem keislaman kontemporer yang paling aktual yang tengah dihadapi umat Islam.

Bukunya “Hadyul Islam Fatwa Mu’ashirah” yang diterjemahkan menjadi “Fatwa- Fatwa Kontemporer” (Penerbit Gema Insani Pers, Jakarta) 3 jilid, masing-masing jilidnya hampir setebal 1000 halaman.

Buku ini disusun dalam bentuk jawaban atas pertanyaann-pertanyaan kontemporer yang diajukan oleh umat Islam dari seluruh penjuru dunia, mulai dari soal fikih sampai soal-soal politik atau pemerintahan.

Metodologi Khas

Syaikh Al-Qaradhawy adalah ulama dan pemikir Islam yang unik sekaligus istimewa. Keunikan dan keistimewannya itu tak datang secara tiba-tiba. Melainkan, setelah melalui proses panjang hingga saat ini.

Ia mempuyai metodologi khas dalam menyampaikan risalah islam. Karena metodologinya itulah ia bisa diterima oleh timur dan barat sebagai pemikir yang selalu menampilkan Islam secara moderat, ramah dan santun.

Kapasitasnya itulah yang membuatnya kerap menghadiri pertemuan di berbagai negara Eropa dan Amerika sebagai representasi Islam.

Dalam bidang pemikiran dan dakwah, Al-Qaradhawy menempati posisi vital dalam kebangkitan gerakan Islam kontemporer. Karya-karyanya telah mengilhami kebangkitan Islam modern yang moderat.

Waktu yang dia habiskan dalam berkhidmat kepada risalah terakhir (Islam) melalui ceramah, merespons problematika keummatan di berbagai belahan dunia menjadikannya sebagai sosok besar di banyak negara, khususnya dalam pergerakan Islam kontemporer. Setiap karyanya diterjamahkan ke banyak bahasa dunia, termasuk Indonesia.

Syaikh Al-Qaradhawy bukan type ulama yang begitu popular, terus berbelok menjadi politisi atau maju sebagai calon presiden. Bukan politikus berjubah ulama, atau ulama yang sok kritis berjubah oposisi.

Dia tidak pernah memberikan justifikasi atau legitimasi teologis kepada rezim pemerintah, tetapi juga tidak pernah sok kritis sebagaimana oposisi. Dia lurus saja pada pandangan-pandangannya tanpa dipengaruhi oleh kedekatan atau kejauhannya dengan rezim.

Syaikh Al-Qaradhawy seorang yang sederhana dan moderat dalam bersikap. Tapi, meski moderat, bukan berarti dia lembek perihal jihad. Pandangan-pandangan jihadnya tetap kokoh dan ghirrah-nya terhadap perjuangan Islam luar biasa kuat.

Bahkan, di usianya yang telah senja, ia menghasilkan karya monumental berjudul “Fiqhul jihad” setebal 1.439 halaman yang berusaha meluruskan stigmatisasi buruk terhadap jihad. WASPADA

Pendiri RUMAN (Rumah Baca Aneuk Nanggroe) Aceh di BandaAceh

  • Bagikan