Waspada
Waspada » Mewaspadai Virus-virus Hati
Al-bayan Headlines

Mewaspadai Virus-virus Hati

Oleh Prof Muzakkir

“Sesungguhnya hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat jika terkena air.” Tanya sahabat: “Ya Rasulullah, apakah pembersihnya?” Sabda Beliau: “Banyak mengingat mati dan membaca Al Qur’an” (Al Baihaqi)

Imam al-Ghazali dua pengertian hati (Qalb). Pertama, qalb dalam pengertian kasar, yaitu segumpal daging berbentuk bulat panjang, di dada sebelah kiri yang di dalamnya terdapat rongga dan disebut jantung. Kedua, qalb dalam pengertian yang halus, bersifat ruhaniyah yaitu hakikat manusia yang dapat menangkap pengertian, pengetahuan dan kearifan.

Penjelasan Al-Qur’an yang menempatkan hati dengan fungsinya memahami realitas dan nilai-nilai seperti dalam Al-Qur’an surah Al-Hajj ayat 46 : “Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”.

Selanjutnya surah Al-A’raaf: 179: “Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai”.

Hati adalah sarana paling efektif berhubungan langsung kepada Allah SWT, hati merupakan sarana taqarrub kepada Allah. Bahkan hati adalah satu-satunya media mengenal Allah (ma’rifatullah). Untuk dapat taqarrub kepada Allah SWT manusia harus terlebih dahulu membersihkan hatinya. Hati yang bermasalah, seperti hati berkarat karena sifat buruk, hati yang buta, tentu tidak akan berhasil menjadi penghubung diri dengan Allah SWT.

Hati yang bersih merupakan alat menangkap isyarat dan petunjuk Allah SWT. “Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk langsung kepada qalb-nya. Dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghaabun (64) : 11).

Hati dapat bersih apabila Allah SWT memberikan Rahmat-Nya dengan mencurahkan cahaya iman untuk membersihkannya. Dengan cahaya iman yang memancar di hati itulah Allah SWT mengeluarkan seseorang dari kehidupan gelap gulita kepada terang benderang-berada dalam kebaikan dan kebenaran. Demikian pentingnya fungsi hati, maka Allah SWT hanya menjatuhkan pandangan kepadanya, bukan kepada selainnya.

Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia memandang kepada hati kalian” (HR. Muslim). Setiap orang beriman pasti berharap memiliki hati bersih dan berkilau. Sebab hati bersih dapat memantulkan cahaya ruhaniah, kemudian menjadi penglihatan batin (bashiratul qalbi) dalam memandang keelokan wujud Allah SWT.

Namun cahaya ruhaniah hanya bisa dirasakan orang yang telah melampaui pergulatan ruhani. Bagaimana hati dapat memantulkan cahaya, padahal gambar selain Allah terlukis dalam cermin hati kita? Bagaimana kita dapat berangkat menuju Allah, padahal hati kita masih terbelenggu oleh syahwat? Bagaimana kita bisa antusias dapat masuk ke hadhirat Allah, padahal kita belum suci dari kelalaian? Bagaimana bisa kita berharap dapat memahami kedalaman rahasia ruhani, padahal kita belum bertaubat dari semua kesalahan?

Maka hati yang bersih, menjadi syarat penting menuju Allah SWT. Manusia terhalang atau menghijabi dirinya sehingga tidak dapat merasakan kedekatan ataupun menyaksikan Allah SWT dengan hatinya adalah karena dosa-dosa mereka. Setiap dosa merupakan nuqtotun sauda’-noda hitam hati (ketiadaan cahaya), sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati.

Ketika noda hitam memenuhi hati sehingga terhijab dari menyaksikan Allah SWT, inilah yang dinamakan buta mata hati. Noda hitam yang mengotori ruang hati inilah yang harus dibersihkan, agar pancaran Nur Ilahi tidak terhijab dan cahaya-Nya dapat menghiasi jiwa.

Imam Hasan al-Basri mengatakan, carilah hatimu di tiga tempat; Ketika membaca Al Qur’an, karena ayat-ayat itu akan menambah keimanan dan menggetarkan hati; Ketika  mendirikan shalat; dan ketika mengingat kematian. Jika di tiga tempat tersebut engkau belum menemukan hatimu, maka mohonlah kepada Allah untuk memberimu hati, sebab engkau sedang tidak memilikinya.

Nasehat Ibnul Qayyim al-Jauziyyah: “Carilah hatimu  di tiga tempat ini; di saat engkau mendengarkan Al Qur’an, di saat engkau berada di majlis dzikir (majelis ilmu) dan di saat engkau menyendiri bermunajat kepada Allah. Jika engkau tidak temukan hatimu di sana, maka mintalah kepada Allah agar memberimu hati karena sesungguhnya engkau sudah tak punya hati lagi.” Setidaknya ada enam virus-virus yang merusak kesucian hati ; Pertama, hati yang berkarat, akibat suka melakukan dosa sebagaimana sabda Rasulullah SAW di awal tulisan ini;

Kedua, hati yang tertutup, “Allah telah mengunci-menutup hati mereka (QS. al-Baqarah: 74); Ketiga, hati yang mengeras, “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi(QS. al-Baqarah: 74); Keempat, hati yang sakit, “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya” (QS. al-Baqarah: 10);

Kelima, hati yang buta, “karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada” (QS. al-Hajj : 46); Keenam, hati yang brutal, “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (QS. ali-Imran: 159).

Upaya menjaga hati dapat dilakukan melalui “tazkiyatun nafs” (penyucian jiwa): Pertama, takhalli yaitu proses mengosongkan jiwa dari sifat tercela melalui taubat yang sebenarnya. Taubat adalah kembali kepada Allah SWT setelah melakukan maksiat. Taubat merupakan rahmat Allah yang diberikan kepad hamba-Nya agar mereka dapat kembali kepada-Nya.

Proses pertaubatan dilalui dengan rangkaian: menyesali, berhenti dan berjanji untuk tidak mengulanginya, kemudian dilanjutkan ibadah ritual, baik yang fardhu (wajib) maupun yang nawafil (sunnah).

Menurut al-Ghazali, virus-virus hati yang harus dihilangkan adalah hasad (dengki), su-uzhan (buruk sangka), kibr (sombong), ujub (merasa sempurna dari orang lain), riya (menunjukkan dan memamerkan kelebihan diri), sum’ah (mencari prestise dan kemasyhuran), bukhl (bakhil), hubb al-maal (cinta harta), takabbur (angkuh), ghadab (marah), ghibah (menceritakan aib orang lain), namimah (berbicara di belakang orang lain), kizb (dusta) dan khianat (ingkar janji).  Selagi virus-virus hati tersebut masih bersemayam di dalam hati seseorang, maka selama itu pula ia tidak akan dapat merasa dekat kepada Allah SWT.

Kedua, tahalli  yaitu proses pengisian jiwa dengan sifat-sifat terpuji (al-mahmudah) atau sifat yang baik. Pada akhirnya, sifat-sifat mulia inilah yang akan bersemayam di dalam jiwanya. Ketika sifat-sifat ini sudah menyatu di dalam dirinya, maka sebenarnya ia telah memiliki jiwa yang bersih.

Cara praktis yang dilakukan dalam tahap ini adalah: menghidupkan sebagian malam untuk tahajjud, memperbanyak zikir, apalagi zikir di keheningan malam dalam kesunyian, puasa sunnah yang dirutinkan, membaca dan merenungkan pesan-pesan Al Qur’an, mengingat mati, sehingga setiap nafas selalu berbuat kebaikan, shalat lima waktu berjamaah di masjid, shalat Dhuha, sedekah setiap hari, menjaga wudhu terus-menerus, mengamalkan istighfar setiap saat, memohon ampunan kepada Allah SWT.

Ketiga, tajalli adalah terbukanya tabir yang menghalangi hamba dengan Allah SWT sehingga hamba menyaksikan tanda-tanda kekuasaan-Nya, terungkapnya nur ghaib, merasakan kedekatan dan kehadiran Allah SWT di sisinya. Manusia yang mampu menetralisir jiwanya, membersihkan dan mengosongkannya dari sifat-sifat tercela (virus hati) akan mampu mengangkat derajat mereka setara dengan malaikat.

Orang-orang seperti inilah yang dimaksudkan Allah SWT sebagai orang-orang yang beruntung, “Beruntunglah orang-orang yang membersihkan jiwanya (seperti malaikat), dan merugilah orang-orang yang mengotorinya (seperti binatang)” (QS. Asy-Syams (91): 9-10). Sungguh beruntung bagi siapapun yang mampu menata hatinya menjadi bening, jernih, bersih, dan selamat.

Sungguh berbahagia dan mengesankan bagi siapapun sekiranya memiliki hati yang tertata, terpelihara dan terawat dengan sebaik-baiknya. Orang yang bening hatinya, wajahnya memancarkan kejernihan, bersinar, sejuk dan menyegarkan, akal pikirannya pun akan jauh lebih jernih, lebih mudah memahami setiap permasalahan, lebih mudah menyerap aneka ilmu pengetahuan, lebih cerdas dalam melakukan beragam kreativitas pemikiran, dan dia pun inginkan keberadaan dirinya dapat memberi manfaat bagi orang lain.

Begitupun ketika berbicara, kata-katanya bersih dari melukai, jauh dari kata-kata yang menyombongkan diri, setiap butir kata yang keluar dari lisannya sarat makna dan hikmah. Perilakunya adalah akhlak terpuji, penuh kesantunan dan ingin selalu membahagiakan orang lain. Kesehatan tubuh pun terpancari kebeningan hati, buah dari kemampuannya menata hati.

Detak jantung menjadi terpelihara, tekanan darah terjaga, ketegangan berkurang, dan kondisi jiwa senantiasa diliputi kedamaian, optimis, tidak ada rasa cemas, tidak ada rasa takut karena dia yakin ada Allah SWT yang mendampinginya. Semoga Allah SWT menjadikan hati kita Qalbun Saliimhati yang terbebas dari virus-virus hati.  Waspada

Guru Besar Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam UIN Sumatera Utara

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2