Menyikapi Perbedaan Pendapat Vaksinasi Covid-19

Menyikapi Perbedaan Pendapat Vaksinasi Covid-19

  • Bagikan

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahapenerima taubat lagi Mahapenyayang (QS. al-Hujurat: 12)

Pandemi Covid-19 telah satu tahun berlalu. Awalnya diduga kuat berasal dari Wuhan China lalu menyebar ke seluruh dunia. Berdasarkan berita yang didapat dari Liputan 6, sampai hari ini kasus Covid-19 di Indonesia (3/3/2021) terkonfirmasi 1.353.834 orang, sembuh 9.053 orang dan meninggal dunia 36.721 orang.

Pemerintah telah mengeluarkan protokol kesehatan dengan memberlakukan 3 M yaitu (1), memakai masker dengan benar (2) mencuci tangan dengan sabun dan (3) menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

Menurut Juru bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito berdasarkan penelitian, memakai masker kain dapat menurunkan risiko penularan Covid-19 sebesar 45 persen.

Sebenarnya lebih baik lagi jika seseorang mengenakan masker bedah atau masker medis yang mampu menekan penyebaran virus Covid-19 hingga 70 persen. Mencuci tangan yang merupakan langkah berikutnya mampu menurunkan risiko penularan Covid-19 sebesar 35 persen. WHO menyarankan, agar cuci tangan menggunakan sabun/antiseptik selama 20-30 detik dan menerapkan langkah-langkah yang benar. Dalam kondisi tertentu, seperti tidak ada air dan tidak ada sabun atau tidak dapat menggunakan air dan sabun untuk membersihkan tangan, solusi lainnya adalah memakai cairan yang berbasis setidaknya 60 persen alkohol seperti hand sanitizer. Penerapan selanjutnya adalah menjaga jarak minimal 1-2 meter, serta menghindari kerumunan. Jika hal ini dilakukan dengan benar, maka akan dapat meminimalisir risiko penyebaran Covid-19 hingga 85 persen.

Langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah 3 T yaitu testing, tracing dan treatment. Kegiatan 3 T ini hendaknya dilakukan oleh otoritas terkait untuk melakukan pengujian, pelacakan, kemudian tindakan pengobatan atau perawatan kepada orang yang terpapar virus corona.

Mantan Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19, Akmal Taher, sebagai dokter dan pakar kesehatan, merekomendasikan penerapan 3T harus tetap berperilaku disiplin 3 M. Langkah 3T adalah sebagai tindakan “jemput bola” untuk menguji dan melacak mereka yang positif sebelum dilakukan upaya pengobatan, perawatan, serta pemulihan pasien hingga sembuh.

Menurut psikolog Edward Andriyanto Sutardhio usaha-usaha di atas juga harus didukung dengan menerapkan 3 K yaitu pertama, kaji informasi. Artinya melakukan kajian semua informasi yang masuk. Pastikan hanya informasi yang dapat diandalkan dan positif yang masuk ke dalam pikiran.

Kedua, kelola emosi. Mengatur seluruh emosi kita agar lebih rileks, tenang, dan lebih nyaman sehingga punya kekuatan untuk melawan penyakit yang menyerang imunitas tubuh tersebut.

Ketiga, kembangkan sumber daya. Mencari hobi atau sesuatu yang menyenangkan bisa membantu masyarakat menjadi lebih baik, lebih sehat, dan lebih mampu menghadapi situasi sulit seperti saat pandemic sekarang ini.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan, pemerintah menyiapkan dana sebesar Rp73 triliun untuk vaksin corona gratis. Jumlah tersebut sudah memperhitungkan pemberian vaksin gratis kepada seluruh masyarakat. Ia memastikan negara mampu memenuhi kebutuhan vaksinasi tersebut. Menurutnya, dana Rp73 triliun akan tersedia dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021.

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia telah menerbitkan fatwa tentang kehalalan vaksin Sinovac. Fatwa ini dikeluarkan menyusul diterbitkannya Emergency Use Authorization (EUA) oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Senin (11/1/2021). Dalam Fatwa MUI Nomor: 02 Tahun 2021 Tentang Produk Vaksin Covid-19 dari Sinovac Life Science Co.LTD China dan PT Bio Farma (Persero), MUI menyatakan bahwa vaksin tersebut hukumnya suci dan halal.

Vaksin tersebut juga boleh digunakan untuk umat Islam sepanjang terjamin keamanannya menurut ahli yang kredibel dan kompeten. Dengan demikian kebijakan pemerintah (umara) didukung oleh Ulama. Hal ini sudah sesuai dengan hadis berasal dari Ibn Abbas: ada dua kelompok dalam kehidupan manusia. Jika keduanya baik, maka manusia pasti mengalami kehidupan yang baik, namun jika keduanya tidak terjalin hubungan yang baik, maka akan terjadilah malapetaka yaitu Umara dan Ulama. Hadis Riwayat Abu Nuaim.

Walaupun pemerintah telah menganggarkan sampai Rp73 triliun untuk kepentingan seluruh masyarakat Indonesia dan MUI sudah mengeluarkan tentang halal dan sucinya vaksin Sinovac tersebut, masih banyak masyarakat yang tidak mau menerimanya. Bahkan ada publik figur dan juga ulama yang tidak mau divaksin. Ada di antara mereka yang mengatakan bahwa pengadaan vaksin tersebut hanya akal-akalan saja dan vaksin yang sudah disuntikkan kepada para pejabat adalah vitamin.

Wajar para pejabat yang sudah divaksin tidak ada efek sampingnya. Islam telah mengharamkan negative thinking atau suuzzan seperti yang ditegaskan dalam firman Allah surat al-Hujurat ayat 12: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahapenerima taubat lagi Mahapenyayang.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmiziy bahwa Rasulullah SAW telah melarang untuk suuzzan sebab perbuatan tersebut adalah kebohongan besar. Sebagai umat Islam yang meyakini bahwa Al Quran dan Al Hadis sebagai sumber ajaran Islam yang tidak akan menyesatkan dalam urusan dunia dan akhirat. Maka jangan mudah termakan berita bohong atau hoaks.

Ada tokoh masyarakat dan bahkan ada yang mengatakan dirinya KH atau ustadz tetapi membuat kesimpulan tidak berdarkan fakta ilmiah tetapi hanya berdasarkan pada opini atau mitos. Contohnya sudah banyak kasus korban virus corona baik dari tenaga medis atau lainnya, tetapi masih ada yang yang mengatakan bahwa virus corona tersebut tidak ada. Bahkan ditambahkan bahwa yang namanya wabah penyakit semenjak dulu sampai sekarang masih tetap ada dan tidak perlu takut.

Sebagai kesimpulan dari adanya perbedaan pendapat tentang urgensi vaksinasi Covid-19, maka mari kita mengambil pendapat yang lebih maslahat yaitu sesuai dengan Fatwa MUI. Jauhkan diri kita dari pendapat-pendapat yang menentang vaksinasi, sebab pendapat mereka hanya berdasarkan pada opini dan tidak berdasarkan pada fakta.

Sebagai seorang Muslim haram hukumnya berpikir negatif atau suuzzan dan juga haram untuk mengikuti pendapat orang lain denga pola yang sama. Wallahu A’lam bissawab.   WASPADA

Guru Besar UINSU dan Sekretaris Umum MUI Sumut

 

  • Bagikan