Waspada
Waspada » MENYAMBUT KEMENANGAN IMAN
Al-bayan

MENYAMBUT KEMENANGAN IMAN

Catatan hari Keduapuluh sembilan

Perintah puasa hanyalah ditujukan kepada orang yang beriman, sebagaimana dijelaskan secara gmblang dalam ayat kewajiban puasa, yaitu al-Baqarah/2: 183, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.

Itulah sebabnya yang disibukkan oleh puasa ini hanya orang yang beriman, karena merasa terpanggil. Adapun orang yang tidak beriman atau iman ada tapi lemah alias lowbet (low baterey, baterenya lemah), tidak mampu menggerakkannya untuk berpuasa. Ibarat HP yang lowbet, bisa menerima panggilan, tapi tidak berdaya digunakan berkomunikasi, sehingga yang ada hanya suara yang putus-putus.

Sementara orang beriman sangat bergembira dengan kedatangan Ramadhan, karena ia yakin dengan kegembiraan yang ditindak lanjuti dengan mengamalkan fasilitas Ramadhan akan menghapuskan dosanya, sesuai janji Nabi Muhammad Saw melalui hadits yang artinya: “barang siapa yang gembira dengan kedatangan bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan tubuhnya masuk neraka”.

Didasarkan pada kegembiraan itulah semua protokol Ramadhan dijalankan. Di siang hari berpuasa, menahan diri dari segala yang mebatalkan puasa. Tidak makan minum padahal lapar dan haus padahal ada yang dimakan dan diminum, tapi karena iman tidak dilakukan. Dorongan syahwat menguat, karena senyawa oxytocin menguat dalam dirinya sehingga libido sekspun menguat, tetapi tidak dilampiaskan di siang hari karena iman, walau isteri ada di samping, apalagi dalam suasana stay at home.

Begitu juga dengan yang membatalkan puasa lainnya ditahan karena iman. Termasuk ketika diajak untuk marah, tetapi ditahan karena puasa juga karena iman, padahal kemarahan bisa dibalas. Balasan kemarahan hanya dengan ungkapan “sorry saya sedang puasa” (inniy sha’im).

Begitu juga berdusta bisa dilakukan dengan mengatakan puasa padahal tidak, tetapi tidak dilakukan karena puasa. Tidak melihat dengan syahwat (an-nazru bisy-syahwah) padahal tawaran tontonan cukup menggoda. Juga ditahan karena iman dan juga karena puasa.

Ketika semuanya dilakoni secara penuh selama Ramadhan, berarti adalah kemenangan iman. Wajarlah jika saat-saat terakhir Ramadhan kebahagiaan muncul ditambah kesediahan berpisah dengan Ramadhan. Di sisi lain, sekelompok anak manusia yang menjadikan Ramadhan hanya sebatas nama bulan saja, akan muncul penyesalan, jangan-jangan tidak sampai lagi pada Ramadhan akan datang. Sayangnya penyesalan selalu datang belakangan.

Orang Arab menggunakan kata “laita”, sekiranya. Lata asy-syabab ya’udu yawma, seandainya masa muda datang lagi…Suatu hal yang tidak mungkin terjadi.

Selamat atas kemenangan iman yang telah berhasil melewati Ramadhan dengan penuh makna. Kesediahan berpisah sudah pasti. Mohon bersabar atas kegundahan karena melewati Ramadhan tanpa makna, mungkin juga muncul rasa penyesalan. Di posisi manapun kita, sedih berpisah atau sedih melewatkan, do’a kita menyatu, yaitu “kiranya dipertemukan lagi pada Ramadhan akan datang” (Allahumma ballighna Ramadhan, wa ballighi Ramadhana lana). Aamiin.

Selama berjumpa kembali di Ramadhan tahun depan…..na’am, okay…!

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2